Posted on 04 October 2026
Pasar yang Tidak Mengenal Jual Beli
Dari Sa‘id bin al-Musayyab disebutkan bahwa ia bertemu dengan Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Sahabat Abu Hurairah berkata:
أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ فِي سُوقِ الْجَنَّةِ
“Aku memohon kepada Allah agar mempertemukan aku dan engkau di pasar surga.”
Sa‘id bertanya:
أَفِيهَا سُوقٌ؟
“Apakah di surga terdapat pasar?”
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjawab:
نَعَمْ، أَخْبَرَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ
“Ya. Rasulullah ﷺ telah memberitahuku.”
Kemudian beliau menyampaikan sebuah hadis yang panjang. Di dalamnya disebutkan bahwa setelah para penghuni surga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Allah ﷻ, mereka mendatangi sebuah pasar.
Pasar tersebut dikelilingi para malaikat dan di dalamnya terdapat sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Di pasar itu, apa pun yang mereka inginkan akan diberikan kepada mereka. Tidak ada jual beli di dalamnya.
Saling Bertemu di Pasar Surga
Di pasar tersebut para penghuni surga saling bertemu. Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi bertemu dengan orang yang kedudukannya berada di bawahnya. Namun, tidak ada seorang pun di antara mereka yang hina atau rendah.
Ketika orang yang kedudukannya lebih rendah melihat pakaian yang dikenakan oleh orang yang lebih tinggi, ia merasa sangat kagum terhadap keindahan pakaian tersebut. Namun, sebelum percakapan mereka selesai, pakaian orang tersebut berubah menjadi pakaian yang lebih indah lagi. Hal itu karena di surga tidak semestinya ada seorang pun yang bersedih.
Kembali ke Rumah
Setelah selesai dari pasar, mereka kembali ke rumah masing-masing. Ketika mereka tiba, pasangan-pasangan mereka menyambut dengan mengatakan:
مَرْحَبًا وَأَهْلًا، لَقَدْ جِئْتَ، وَإِنَّ لَكَ مِنَ الْجَمَالِ أَفْضَلَ مِمَّا قَدْ فَارَقْتَنَا عَلَيْهِ.
“Selamat datang. Engkau telah datang. Sungguh, kini engkau memiliki keindahan yang lebih baik daripada ketika engkau meninggalkan kami.”
Ia menjawab:
إِنَّا جَالَسْنَا الْيَوْمَ رَبَّنَا الْجَبَّارَ، وَيَحِقُّ لَنَا أَنْ نَنْقَلِبَ بِمِثْلِ مَا انْقَلَبْنَا.
“Pada hari ini kami duduk bersama Tuhan kami Yang Mahaperkasa. Maka pantaslah bagi kami untuk kembali dengan keadaan seperti ini.”
Hari-Hari Perayaan Penghuni Surga
Sebagian ulama salaf berkata bahwa hari-hari raya orang-orang beriman di surga adalah hari ketika mereka mengunjungi Allah ﷻ.
Mereka mengunjungi-Nya, lalu Allah ﷻ memuliakan mereka dengan kemuliaan yang sempurna dan menampakkan diri kepada mereka sehingga mereka dapat memandang-Nya. Tidak ada pemberian yang lebih mereka cintai daripada kenikmatan tersebut. Itulah tambahan yang disebutkan Allah ﷻ:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)
Karena bagi orang yang mencintai, tidak ada hari raya yang lebih membahagiakan selain hari ketika ia dapat dekat dengan yang dicintainya.
إِنْ يَوْمًا جَامِعًا شَمْلِي بِهِمْ *** ذَاكَ عِيدٌ لَيْسَ لِي عِيدٌ سِوَاهُ
“Jika suatu hari mempertemukanku bersama mereka, itulah hari raya; bagiku tidak ada hari raya selain itu.”
Hari Jumat sebagai Hari Tambahan
Sebagaimana setiap hari raya kaum Muslimin di dunia menjadi hari kegembiraan, demikian pula hari-hari tersebut menjadi hari kegembiraan bagi mereka di surga, karena mereka berkumpul untuk mengunjungi Tuhan mereka dan mendapatkan kesempatan untuk memandang-Nya.
Hari Jumat disebut di surga sebagai يَوْمُ الْمَزِيدِ, Hari Tambahan.
Pada hari Jumat, penghuni surga berkumpul untuk mendapatkan kunjungan tersebut. Demikian pula pada hari Idulfitri dan Iduladha, para penghuni surga berkumpul untuk saling berkunjung. Ini berlaku secara umum bagi penghuni surga.
Adapun orang-orang yang memiliki kedudukan khusus, setiap hari bagi mereka merupakan hari raya. Mereka memandang Tuhan mereka dua kali setiap hari, pada waktu pagi dan petang.
Orang-orang yang memiliki kedudukan khusus itu menjadikan seluruh hari-hari mereka di dunia sebagai hari-hari raya dengan ketaatan kepada Allah. Maka di akhirat, seluruh hari mereka menjadi hari-hari raya.RA(*)
*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki