Pohon-Pohon dan Naungan di Surga

Posted on 30 September 2026



Allah ﷻ  berfirman:

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ ۝ فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ ۝ وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ ۝ وَظِلٍّ مَمْدُودٍ ۝ وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ ۝ وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ۝ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ ۝ وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ

“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang tercurah, buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang untuk mengambilnya, serta kasur-kasur yang ditinggikan.” (QS. Al-Waqi‘ah: 27–34)

Allah ﷻ juga berfirman:

ذَوَاتَا أَفْنَانٍ

“Kedua surga itu mempunyai berbagai macam pepohonan yang bercabang-cabang.” (QS. Ar-Rahman: 48)

Kata أَفْنَانٍ  merupakan bentuk jamak dari فَنَنٍ, yang berarti cabang pohon.

Allah ﷻ berfirman:

فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

“Di dalam kedua surga itu terdapat buah-buahan, kurma, dan delima.” (QS. Ar-Rahman: 68)

Pohon yang Naungannya Terbentang Sangat Luas

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا، اقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: وَظِلٍّ مَمْدُودٍ.

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara dapat berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa dapat melewatinya. Jika kalian mau, bacalah:

وَظِلٍّ مَمْدُودٍ

‘dan naungan yang terbentang luas.’”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ.

“Tidak ada satu pun pohon di surga kecuali batangnya terbuat dari emas.”

Pohon Bidara yang Tidak Berduri

Seorang Arab badui berkata kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللهِ، لَقَدْ ذَكَرَ اللهُ فِي الْقُرْآنِ شَجَرَةً مُؤْذِيَةً، وَمَا كُنْتُ أَرَى أَنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً تُؤْذِي صَاحِبَهَا!

“Wahai Rasulullah, Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an sebuah pohon yang dapat menyakiti. Aku tidak menyangka bahwa di dalam surga terdapat pohon yang dapat menyakiti penghuninya.”

Rasulullah ﷺ menjawab:

يَقُولُ اللهُ فِي: سِدْرٍ مَخْضُودٍ، يَخْضُدُ اللهُ شَوْكَهُ، فَيَجْعَلُ مَكَانَ كُلِّ شَوْكَةٍ تَمْرَةً، إِنَّهَا تَنْبُتُ ثُمَّ يَتَفَتَّقُ الثَّمَرُ مِنْهَا عَنْ اثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ لَوْنًا مِنَ الطَّعَامِ، مَا مِنْهَا لَوْنٌ يُشْبِهُ الْآخَرَ.

“Allah berfirman tentang ‘pohon bidara yang tidak berduri’. Allah menghilangkan durinya dan menggantikan setiap duri dengan sebuah kurma. Pohon itu tumbuh, kemudian buahnya terbelah dan menghasilkan tujuh puluh dua macam makanan. Tidak ada satu jenis pun yang menyerupai jenis lainnya.”

Pohon Thuba

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يُقَالُ لَهَا طُوبَى، يَقُولُ اللهُ لَهَا: تَفَتَّقِي لِعَبْدِي عَمَّا شَاءَ، فَتَتَفَتَّقُ لَهُ عَنْ فَرَسٍ بِلِجَامِهِ وَسَرْجِهِ وَهَيْئَتِهِ كَمَا شَاءَ، وَتَتَفَتَّقُ لَهُ عَنِ الرَّاحِلَةِ بِرَحْلِهَا وَزِمَامِهَا وَهَيْئَتِهَا كَمَا شَاءَ، وَعَنِ الثِّيَابِ.

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang disebut Thuba. Allah berfirman kepadanya, ‘Keluarkanlah untuk hamba-Ku apa saja yang dia inginkan.’ Maka pohon itu mengeluarkan untuknya seekor kuda lengkap dengan tali kekang, pelana, dan bentuk sebagaimana yang dia kehendaki. Ia juga mengeluarkan tunggangan lengkap dengan pelana, tali kekang, dan bentuk sebagaimana yang dia kehendaki, serta pakaian.”

Naungan yang Terbentang

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menjelaskan bahwa ظِلٍّ مَمْدُودٍ (naungan yang terbentang luas) adalah sebuah pohon di surga yang memiliki satu batang. Naungannya sangat luas sehingga seorang pengendara yang bersungguh-sungguh menempuh perjalanan membutuhkan waktu seratus tahun untuk melewati seluruh bagian naungannya.

Para penghuni surga, baik penghuni kamar-kamar maupun selain mereka, keluar menuju pohon tersebut dan berbincang-bincang di bawah naungannya.

Apabila sebagian mereka menginginkan sesuatu dan mengingat berbagai hiburan dunia, Allah ﷻ mengirimkan angin dari surga. Angin itu menggerakkan pohon tersebut dengan menghadirkan kembali berbagai hiburan dunia.

Pohon dengan Buah yang Tidak Pernah Habis

Di dalam surga terdapat sebuah pohon yang akarnya terbuat dari emas. Bagian atasnya terbuat dari permata, dihiasi mutiara dan yaqut. Buahnya seperti buah dada para gadis, lebih lembut daripada mentega dan lebih manis daripada madu. Setiap kali sebagian buahnya dipetik, buah tersebut kembali tumbuh menggantikan yang telah diambil.

Inilah makna firman Allah ﷻ :

لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ

“Yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang untuk mengambilnya.” (QS. Al-Waqi‘ah: 33)

Buah-Buahan Surga

Di dalam surga terdapat sebuah pohon yang buahnya lebih kecil daripada delima tetapi lebih besar daripada apel. Rasanya sangat segar seperti madu murni dan manis seperti madu. Allah ﷻ memberikan buah tersebut kepada orang yang berpuasa pada hari kiamat.

Pohon-Pohon yang Ditanam karena Amal Saleh

Banyak orang yang taat dan mengerjakan amal-amal saleh memperoleh, berkat amal mereka, pahala yang menyebabkan ditanamkan bagi mereka pohon-pohon dan pohon-pohon kurma di surga, tanpa batas dan tanpa terhitung jumlahnya. Barang siapa mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

“Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya,”

akan ditanamkan baginya sebuah pohon kurma di surga.

Barang siapa mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar,”

maka untuk setiap kalimat tersebut ditanamkan baginya sebuah pohon.

Ketika seseorang menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, terdapat doa yang dikabulkan dan sebuah pohon di surga.

Barang siapa berpuasa satu hari secara sukarela, akan ditanamkan baginya sebuah pohon di surga.

Barang siapa berjalan menemui orang yang memiliki piutang kepadanya untuk menunaikan hak tersebut, maka hewan-hewan di bumi dan makhluk-makhluk di air mendoakannya, setiap langkahnya menyebabkan sebuah pohon ditanamkan untuknya di surga, dan dosanya diampuni. RA(*)

*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki