Saling Berkunjung di Surga

Posted on 04 October 2026



Para penghuni surga saling mengunjungi. Allah ﷻ berfirman:

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ۝ فَمَنَّ اللهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ۝ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

“Dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil saling bertanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami dahulu ketika berada di tengah keluarga kami merasa takut. Kemudian Allah memberikan karunia kepada kami dan melindungi kami dari azab yang membakar. Sesungguhnya kami dahulu selalu berdoa kepada-Nya. Sungguh, Dialah Yang Mahabaik lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ath-Thur: 25–28)

Ketika penghuni surga telah memasuki surga, mereka merindukan saudara-saudara mereka. Maka tempat duduk seseorang didatangkan hingga berdekatan dengan tempat duduk saudaranya. Mereka kemudian berbincang tentang kehidupan mereka di dunia.

Salah seorang berkata kepada temannya:

“Wahai Fulan, apakah engkau ingat hari ketika Allah mengampuni kita?”

Temannya menjawab:

“Ya, yaitu ketika kita berada di tempat ini dan itu, lalu kita berdoa kepada Allah, dan Dia mengampuni kita.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَزَاوَرُونَ عَلَى نَجَائِبَ بِيضٍ كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ.

“Sesungguhnya penghuni surga saling berkunjung dengan menunggangi unta-unta putih yang seakan-akan berupa yaqut.”

Percakapan tentang Teman di Dunia

Allah ﷻ berfirman:

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ۝ يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ ۝ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ ۝ قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ ۝ فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ ۝ قَالَ تَاللهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ ۝ وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

“Lalu sebagian mereka berhadap-hadapan sambil saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sesungguhnya dahulu aku mempunyai seorang teman, yang berkata, “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apabila kita telah mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang, apakah kita benar-benar akan diberi balasan?”’

Ia berkata, ‘Maukah kalian melihatnya?’

Maka ia melihatnya dan mendapati temannya berada di tengah-tengah neraka Jahim.

Ia berkata, ‘Demi Allah, hampir saja engkau mencelakakanku. Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, niscaya aku termasuk orang-orang yang diseret ke dalam azab.’” (QS. Ash-Shaffat: 50–57)

Allah ﷻ menjelaskan bahwa penghuni surga saling berhadapan, berbincang, dan menanyakan keadaan yang pernah mereka alami di dunia.

Dalam percakapan tersebut, salah seorang dari mereka mengingat seorang temannya di dunia yang mengingkari kebangkitan dan kehidupan akhirat. Temannya dahulu berkata:

أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ ۝ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

“Apakah kamu termasuk orang yang membenarkan bahwa kita akan dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatan kita? Apakah setelah kita mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, kita benar-benar akan mendapatkan balasan?”

Kemudian orang beriman itu berkata kepada saudara-saudaranya di surga:

هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ

“Maukah kalian melihatnya?”

Ia kemudian melihat ke dalam neraka dan mendapati temannya berada di tengah-tengah Jahim. Seandainya Allah ﷻ tidak memperlihatkan kepadanya siapa orang itu, ia mungkin tidak akan mengenalinya karena wajah, warna kulit, dan seluruh keadaannya telah berubah akibat dahsyatnya azab.

Saat itulah ia berkata:

تَاللهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ ۝ وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

“Demi Allah, hampir saja engkau mencelakakanku. Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, niscaya aku termasuk orang-orang yang diseret ke dalam azab.”

Maksudnya, temannya hampir saja membinasakannya dengan ajakan kepada kekufuran dan pengingkaran terhadap akhirat. Seandainya Allah tidak menganugerahinya nikmat berupa iman dan keselamatan, ia pun akan berada bersama temannya dalam azab.

Saling Berkunjung Sesuai Kedudukan

Rasulullah ﷺ pernah ditanya:

أَيَتَزَاوَرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ؟

“Apakah penghuni surga saling berkunjung?”

Beliau ﷺ menjawab:

يَزُورُ الْأَعْلَى الْأَسْفَلَ، وَلَا يَزُورُ الْأَسْفَلُ الْأَعْلَى، إِلَّا الَّذِينَ يَتَحَابُّونَ فِي اللهِ، يَأْتُونَ مِنْهَا حَيْثُ شَاؤُوا عَلَى النُّوقِ.

“Penghuni yang lebih tinggi mengunjungi penghuni yang lebih rendah, sedangkan penghuni yang lebih rendah tidak mengunjungi penghuni yang lebih tinggi, kecuali orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka datang dari tempat mereka dengan menunggangi unta ke mana pun mereka kehendaki.”

Dengan demikian, para penghuni surga saling berkunjung dan saling bertanya. Pertemuan dan percakapan tersebut menjadi bagian dari kesempurnaan kenikmatan dan kebahagiaan mereka.

Gambaran Keimanan Sahabat Haritsah

Karena begitu kuat keyakinannya terhadap kehidupan akhirat, Sahabat Haritsah pernah ditanya oleh Rasulullah ﷺ:

كَيْفَ أَصْبَحْتَ يَا حَارِثَةُ؟

“Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Haritsah?”

Ia menjawab:

أَصْبَحْتُ مُؤْمِنًا حَقًّا.

“Aku berada dalam keadaan benar-benar beriman.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ حَقٍّ حَقِيقَةً، فَمَا حَقِيقَةُ إِيمَانِكَ؟

“Sesungguhnya setiap sesuatu yang benar memiliki hakikat. Apakah hakikat imanmu?”

Sahabat Haritsah menjawab:

عَزَفَتْ نَفْسِي عَنِ الدُّنْيَا، فَأَسْهَرْتُ لَيْلِي وَأَظْمَأْتُ نَهَارِي، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى عَرْشِ رَبِّي بَارِزًا، وَإِلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ يَتَزَاوَرُونَ فِيهَا، وَإِلَى أَهْلِ النَّارِ يُعَذَّبُونَ فِيهَا.

“Jiwaku telah berpaling dari ketertarikan kepada dunia. Aku menghidupkan malamku dan menahan dahaga pada siang hariku. Seakan-akan aku melihat Arsy Tuhanku dengan jelas, melihat penghuni surga saling berkunjung di dalamnya, dan melihat penghuni neraka sedang diazab di dalamnya.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

عَبْدٌ نَوَّرَ اللهُ قَلْبَهُ

“Dia adalah seorang hamba yang Allah telah menerangi hatinya.”RA(*)

*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki