Posted on 11 August 2026
Al-Habib Hamid bin Muhammad bin Abdullah Bin Syihab dalam kitabnya Ad-Dalilul Qawim Fi Dzkiri Syai min Adati Tarim menuliskan tentang sebagian kebiasaan masyarakat Tarim di bulan Shafar. Beliau menuturkan:
Sudah diketahui bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan optimisme, dan bahwa seluruh hari serta bulan yang Allah tetapkan semuanya mengandung kebaikan dan keberkahan. Dalam hal ini sudah terdapat penjelasan yang mencukupi dalam sabda Rasulullah ﷺ:
لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ
Tidak ada penularan (penyakit tanpa izin Allah), tidak ada kesialan karena pertanda, tidak ada keyakinan tentang hamah, dan tidak ada kesialan karena bulan Shafar.
Maka, hadis tersebut sudah mencukupi sebagai penjelasan dalam masalah ini.
Amalan pada Rabu Terakhir Bulan Shafar
Pada Rabu terakhir bulan Shafar, dianjurkan seseorang mengerjakan salat sebanyak empat rakaat. Dalam setiap rakaat, setelah membaca Surah al-Fatihah, ia membaca:
Setelah selesai melaksanakan salat, ia berdoa dengan doa yang ia kehendaki, kemudian membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى، وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ، اكْفِنِي عَنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ، يَا مُكْرِمُ، يَا اللهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيهِ، وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ، أَنْ تَكْفِيَنِي شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا نَزَلَ فِيهِ، يَا كَافِي (ثَلَاثًا).
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Ya Allah, wahai Yang Mahakuat kekuatan-Nya, wahai Yang Mahakuat kekuasaan-Nya. Wahai Yang Mahaperkasa, seluruh makhluk-Mu tunduk kepada keperkasaan-Mu. Cukupilah aku dari seluruh makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Berbuat Baik, wahai Yang Maha Memperindah, wahai Yang Maha Memberi karunia, wahai Yang Maha Memberi nikmat, wahai Yang Maha Memuliakan. Wahai Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.
"Ya Allah, demi rahasia yang terdapat pada al-Hasan, saudaranya, kakeknya, dan ayahnya, cukupilah aku dari keburukan hari ini dan segala sesuatu yang turun padanya. Wahai Yang Maha Mencukupi." (dibaca tiga kali).
Kemudian membaca:
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Kemudian:
وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."
Kemudian:
وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung."
Kemudian membaca salawat:
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
"Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau."
Kemudian:
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
Dengan demikian, dengan pertolongan Allah, orang tersebut akan berada dalam penjagaan dan perlindungan dari setiap bala yang turun pada hari tersebut.
Berhibur pada Rabu Terakhir Shafar
Selain itu, sebagai sarana menyegarkan jiwa, dan karena jiwa memiliki hak yang harus dipenuhi oleh seseorang, para salaf saleh mengadakan sebuah majelis umum pada sore hari Rabu terakhir bulan Shafar.
Majelis tersebut dilaksanakan di sebuah tempat yang disebut ar-Rafif, di kaki Gunung Najdi, di an-Nuwaidirah. Majelis ini diselenggarakan oleh para Sadah Keluarga Syihabuddin. Majelis tersebut dipimpin oleh salah seorang tokoh terkemuka dari kalangan mereka yang paling tua usianya.
Dalam majelis tersebut dibacakan beberapa kitab karya para salaf. Para hadirin saling berbincang dan bertukar pembicaraan. Pendengaran mereka juga disegarkan dengan beberapa qasidah karya para salaf. Di sela-sela majelis disampaikan pula beberapa kisah yang bersifat menghibur. Selama majelis berlangsung, diedarkan bukhur, air, dan kopi.
Majelis berlangsung hingga tiba waktu salat Magrib. Mereka kemudian melaksanakan salat. Setelah salat dan salat ratibah selesai, orang yang memimpin majelis mengatur pembacaan al-Fatihah sebagai penutup majelis. Mereka kemudian berdoa kepada Allah.
Setelah itu para hadirin membubarkan diri dan pergi menuju tempat-tempat yang pada malam tersebut diselenggarakan majelis midad. Majelis midad ini merupakan tradisi yang secara umum diikuti oleh masyarakat setempat, sesuai dengan kebiasaan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu.
Selain itu, diadakan pula majelis lain setelah salat Asar di kaki gunung yang disebut Ghar Al Muhyiddin, di tepi pasar. Majelis ini dipimpin oleh salah seorang Sadah keluarga bin Alwi, keturunan Habib Abdullah bin Aidrus dan saudaranya, Habib Umar Alaydrus. Majelis tersebut berisi pembacaan apa yang mudah dibaca dari perkataan para salaf dan nasyid-nasyid. Para hadirin juga saling berbincang dan bertukar pembicaraan. Di dalamnya diedarkan bukhur, air, dan kopi. Majelis tersebut berlangsung hingga menjelang Magrib.
Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing dan menuju tempat-tempat yang telah disepakati untuk melaksanakan majelis midad, sebagai sarana hiburan dan memberikan ketenangan kepada jiwa.
Mereka menghabiskan malam tersebut dalam suasana kegembiraan dan kelapangan hati, sebagai hiburan bagi pikiran dan hati, sebagaimana tradisi yang telah mereka warisi dari para ayah dan leluhur mereka—semoga Allah meridai mereka dan memberikan manfaat kepada kita melalui mereka di dunia dan akhirat, insya Allah Ta'ala.
Dengan demikian, kami berharap bahwa kami telah memberikan kepada momentum ini haknya sesuai dengan pemahaman kami. Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik tempat berserah diri. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau. RA(*)
Sumber: Ad-Dalilul Qawim Fi Dzkiri Syai min Adati Tarim, karya Al-Habib Hamid bin Muhammad bin Abdullah Bin Syihab