Seluruh Makhluk Bertasbih Memuji Allah

Posted on 03 August 2026


Al-Allamah Al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad dalam kitabnya Miftahul Jannah berkata:

Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berbicara dengan bahasa keadaannya (lisanul hal) tentang kekuasaan Allah Ta'ala, keesaan-Nya, hikmah-Nya, dan pengaturan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu. Semua makhluk menunjukkan bahwa keberadaan, eksistensi, dan kelangsungan hidupnya sangat bergantung kepada-Nya.

Seluruh makhluk juga berbicara dengan bahasa keadaannya dalam memuji Allah Ta'ala atas limpahan nikmat, kebaikan, kemurahan, dan karunia-Nya. Mahasuci Dia. Allah Ta'ala berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka."(QS. Al-Isra': 44)

Hal itu karena tasbih mereka bukanlah tasbih dengan anggota tubuh, melainkan dengan bahasa keadaan (lisanul hal). Bahasa keadaan merupakan bentuk penjelasan yang paling fasih dan paling benar, tidak mengandung kemungkinan dusta, riya', ataupun takwil.

Bahkan, sebagian ulama yang benar-benar mendalam ilmunya berpendapat bahwa tasbih tersebut adalah tasbih yang hakiki, dengan ucapan dan ungkapan yang nyata.

Allah telah menganugerahkan kepada sebagian hamba-Nya yang terpilih kemampuan untuk memahami tasbih sebagian hewan dan benda mati, seperti Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad `alaihimush shalatu was salam.

Rasulullah bersabda:

لَمَّا اسْتَقْبَلَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِالرِّسَالَةِ، جَعَلْتُ لَا أَمُرُّ بِحَجَرٍ وَلَا شَجَرٍ إِلَّا قَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Ketika Jibril 'alaihissalam datang menemuiku membawa risalah, maka tidaklah aku melewati sebuah batu ataupun pohon melainkan keduanya berkata: 'Assalamu 'alaika, wahai Rasulullah.'(HR Abu Dawud At-Thayalisi)

Sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:

كُنَّا نَأْكُلُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَنَحْنُ نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ

Kami pernah makan bersama Rasulullah , sementara kami mendengar makanan itu bertasbih.(HR Turmudzi)

Sahabat Anas radhiyallahu 'anhu berkata:

أَخَذَ النَّبِيُّ ﷺ كَفًّا مِنْ حَصًى، فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ حَتَّى سَمِعْتُ التَّسْبِيحَ، ثُمَّ صَبَّهُنَّ فِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ فَسَبَّحْنَ، ثُمَّ فِي أَيْدِينَا فَمَا سَبَّحْنَ

Nabi mengambil segenggam batu kerikil. Batu-batu itu kemudian bertasbih di tangan beliau hingga aku mendengar tasbihnya. Lalu beliau menuangkannya ke tangan Abu Bakar, maka batu-batu itu pun bertasbih. Kemudian batu-batu itu berada di tangan kami, tetapi tidak lagi bertasbih.(HR Ibnu Asakir)

Allah Ta'ala berfirman mengenai Nabi Dawud 'alaihissalam:

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

Sesungguhnya Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama Dawud pada waktu petang dan pada waktu pagi. (QS. Shad: 18)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ

Dan sungguh, Kami telah menganugerahkan kepada Dawud suatu karunia dari Kami. (Kami berfirman): 'Wahai gunung-gunung, bertasbihlah bersamanya. (QS. Saba': 10)

Maksudnya ialah: "Bertasbihlah bersama Dawud." Maka ketika Dawud berada di antara gunung-gunung lalu bertasbih, gunung-gunung itu menjawab tasbihnya dengan tasbih yang serupa dengan tasbih yang beliau ucapkan.

Adapun percakapan semut dengan Nabi Sulaiman 'alaihissalam telah disebutkan secara jelas di dalam Al-Qur'an, dengan penjelasan yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan ataupun penakwilan.

Maka Mahabenar Allah, Pencipta yang paling baik. Mahatinggi Dia untuk dapat dijangkau oleh prasangka dan khayalan. Dialah Raja Yang Mahatinggi. Mahasuci Dia dari anggapan bahwa arah-arah (tempat atau ruang) dapat meliputi-Nya, padahal arah-arah itu sendiri adalah ciptaan-Nya. Mahasuci Dia dari segala sifat makhluk yang baru (hawadits), yang merupakan tempat terjadinya perubahan dan kebinasaan. Mahasuci Dia dari adanya siapa pun yang menyekutui-Nya dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dialah Yang Maha Esa dan satu-satunya yang memiliki keesaan dalam seluruh perkara tersebut. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari segala sifat yang mereka sandangkan kepada-Nya.RA(*)