Sifat Buah-Buahan Surga dan Makanan Penghuninya

Posted on 30 September 2026



Allah ﷻ berfirman:

وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ

“Dan bagi mereka di dalamnya segala macam buah-buahan.” (QS. Muhammad: 15)

Allah ﷻ juga berfirman:

أُولَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ ۝ فَوَاكِهُ وَهُمْ مُكْرَمُونَ

“Mereka itulah yang memperoleh rezeki yang telah ditentukan, yaitu buah-buahan, dan mereka dimuliakan.” (QS. Ash-Shaffat: 41–42)

Allah ﷻ  berfirman:

وَأَمْدَدْنَهُم بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan Kami berikan kepada mereka tambahan buah-buahan dan daging dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Ath-Thur: 22)

Allah ﷻ berfirman:

وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Dan bagi mereka rezekinya di dalamnya pada pagi dan petang.” (QS. Maryam: 62).

Buah-Buahan yang Tidak Pernah Berkurang

Allah ﷻ mengabarkan bahwa apabila seseorang penghuni surga mengambil buah dari pepohonannya, buah tersebut akan kembali dan digantikan dengan yang semisalnya. Disebutkan pula bahwa satu tangkai buah di surga panjangnya sejauh perjalanan dari Makkah hingga Shan‘a. Sementara itu, sebuah delima di surga berukuran seperti unta yang telah dipasangi pelana.

Makanan, Minuman, dan Kekuatan Penghuni Surga

Seorang ahli kitab datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya:

يَا أَبَا الْقَاسِمِ، تَزْعُمُ أَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُونَ؟

“Wahai Abu al-Qasim, engkau mengatakan bahwa penghuni surga makan dan minum?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ لَيُؤْتَى قُوَّةَ مِائَةِ رَجُلٍ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَالشَّهْوَةِ.

“Demi Dia yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya setiap orang dari mereka diberi kekuatan seratus orang dalam makan, minum, hubungan badan, dan menikmati kenikmatan.”

Ia kemudian bertanya:

فَإِنَّ الَّذِي يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ تَكُونُ لَهُ الْحَاجَةُ؟

“Kalau demikian, bukankah orang yang makan dan minum akan memiliki kebutuhan untuk buang hajat?”

Beliau ﷺ menjawab:

حَاجَتُهُمْ عَرَقٌ يَفِيضُ مِنْ جُلُودِهِمْ مِثْلَ رِيحِ الْمِسْكِ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ ضَمُرَ لَهُ بَطْنُهُ.

“Kebutuhan mereka berupa keringat yang mengalir dari kulit mereka seperti aroma minyak kesturi. Setelah itu, perut mereka kembali menjadi ramping.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَهْلُ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَبُولُونَ، وَلَا يَبْزُقُونَ، وَلَا يَتَمَخَّطُونَ، طَعَامُهُمْ جُشَاءٌ وَرَشْحٌ كَرَشْحِ الْمِسْكِ.

“Para penghuni surga makan dan minum, tetapi mereka tidak buang air besar, tidak buang air kecil, tidak meludah, dan tidak membuang ingus. Makanan mereka keluar dalam bentuk sendawa dan keringat yang aromanya seperti wangi kesturi.”

Hidangan Penghuni Surga

Rasulullah ﷺ bersabda tentang kenikmatan yang diperoleh penghuni surga:

إِنَّ أَسْفَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَجْمَعِينَ دَرَجَةً لَمَنْ يَقُومُ عَلَى رَأْسِهِ عَشَرَةُ آلَافٍ، بِيَدِ كُلِّ وَاحِدٍ صَحْفَتَانِ، وَاحِدَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَالْأُخْرَى مِنْ فِضَّةٍ، فِي كُلِّ وَاحِدَةٍ لَوْنٌ لَيْسَ فِي الْأُخْرَى مِثْلُهُ، يَأْكُلُ مِنْ آخِرِهَا مِثْلَ مَا يَأْكُلُ مِنْ أَوَّلِهَا، يَجِدُ لِآخِرِهَا مِنَ الطِّيبِ وَاللَّذَّةِ مِثْلَ الَّذِي يَجِدُ لِأَوَّلِهَا، ثُمَّ يَكُونُ ذَلِكَ الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ، لَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَتَمَخَّطُونَ، إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ، وَإِنَّكَ لَتَنْظُرُ إِلَى الطَّيْرِ فِي الْجَنَّةِ فَتَشْتَهِيهِ، فَيَخِرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ مَشْوِيًّا، لَمْ يُصِبْهُ دُخَانٌ وَلَمْ تَمَسَّهُ نَارٌ، فَتَأْكُلُ مِنْهُ حَتَّى تَشْبَعَ، ثُمَّ يَطِيرُ.

“Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah derajatnya—di atas kepalanya berdiri sepuluh ribu pelayan, masing-masing membawa dua nampan: satu terbuat dari emas dan yang lainnya dari perak. Pada setiap nampan terdapat jenis makanan yang tidak terdapat pada nampan lainnya. Ia makan dari bagian akhirnya sebagaimana ia makan dari bagian awalnya. Pada bagian akhirnya ia mendapatkan rasa lezat dan nikmat sebagaimana yang ia rasakan pada bagian awalnya.

Kemudian makanan itu berubah menjadi kesturi yang sangat harum. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, dan tidak membuang ingus. Mereka hidup sebagai saudara, duduk di atas dipan-dipan yang saling berhadapan.

Engkau dapat melihat seekor burung di surga, lalu engkau menginginkannya. Seketika burung itu jatuh di hadapanmu dalam keadaan telah dipanggang, tanpa terkena asap dan tanpa disentuh api. Engkau memakannya hingga kenyang, kemudian burung itu kembali terbang.”RA(*)

*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki