Posted on 01 October 2026
Allah ﷻ berfirman tentang pasangan-pasangan penghuni surga:
وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ
“Dan bagi mereka di dalamnya pasangan-pasangan yang disucikan.” (QS. Al-Baqarah: 25)
Mereka disucikan dari haid, buang air besar, lendir, dan ludah.
Allah ﷻ berfirman:
وَحُورٌ عِينٌ كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
“Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, seperti mutiara yang tersimpan dengan baik.” (QS. Al-Waqi‘ah: 22–23)
Makna Hur dan ‘In
Kata الحُورُ (bidadari) merupakan bentuk jamak dari حَوْرَاءُ, yaitu perempuan muda yang indah, cantik, berkulit putih, dan memiliki rambut yang sangat hitam.
Zaid bin Aslam berkata bahwa حَوْرَاءُ adalah perempuan yang membuat pandangan terpesona karena keindahannya dan memiliki mata yang indah.
Mujahid berkata bahwa حَوْرَاءُ adalah perempuan yang membuat pandangan terpesona karena kelembutan kulit dan kejernihan warna kulitnya.
Al-Hasan berkata bahwa haura’ adalah perempuan yang bagian putih matanya sangat putih dan bagian hitam matanya sangat hitam. Seorang perempuan tidak disebut haura’ sampai warna tubuhnya putih dan matanya memiliki sifat tersebut.
Adapun العِينُ merupakan bentuk jamak dari عَيْنَاءُ, yaitu perempuan yang memiliki mata besar.
Pendapat yang lebih tepat, ‘in adalah perempuan yang memiliki mata dengan berbagai sifat keindahan dan kecantikan yang sempurna. Muqatil berkata:
العِينُ حِسَانُ الْأَعْيُنِ
“Al-‘in adalah perempuan yang memiliki mata yang indah.”
Ibnu Mas‘ud berkata bahwa seorang perempuan dari bidadari dapat terlihat sumsum tulang betisnya dari balik daging dan tulang, bahkan dari balik tujuh puluh lapis pakaian, sebagaimana minuman merah dapat terlihat melalui kaca putih.
Kebaikan Akhlak dan Keindahan Wajah
Allah ﷻ berfirman:
فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ
“Di dalam kedua surga itu terdapat perempuan-perempuan yang baik dan indah.” (QS. Ar-Rahman: 70)
Kata الخَيِّرَاتُ merupakan bentuk jamak dari خَيِّرَةٍ, yang berarti perempuan-perempuan yang memiliki sifat-sifat dan akhlak yang baik. Adapun الحِسَانُ merupakan bentuk jamak dari حَسَنَةٍ, yaitu perempuan-perempuan yang memiliki wajah yang indah. Dengan demikian, mereka memiliki kebaikan dalam sifat, akhlak, dan perangai, sekaligus keindahan pada wajah.
Bidadari yang Tinggal di Dalam Kemah
Allah ﷻ berfirman:
حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ
“Bidadari-bidadari yang dipingit dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rahman: 72)
Maksudnya, mereka berada di dalam kemah-kemah dan tidak keluar darinya.
Kemah tersebut terbuat dari mutiara dan perak. Allah ﷻ berfirman:
كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ
“Seakan-akan mereka adalah permata yaqut dan marjan.” (QS. Ar-Rahman: 58)
Rasulullah ﷺ menggambarkan kejernihan dan keindahan mereka dengan sabdanya:
يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِهِ فِي خَدِّهَا أَصْفَى مِنَ الْمِرْآةِ
“Seorang laki-laki dapat melihat wajahnya pada pipi bidadari itu yang lebih jernih daripada cermin.”
Disebutkan pula bahwa mutiara paling rendah yang dikenakannya dapat menerangi jarak antara timur dan barat. Ia mengenakan tujuh puluh pakaian, dan pandangan dapat menembus pakaian-pakaian tersebut sehingga terlihat sumsum tulangnya.
Menjaga Pandangan dan Kesetiaan kepada Suami
Allah ﷻ berfirman:
فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ
“Di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang menundukkan pandangan.” (QS. Ar-Rahman: 56)
Maksudnya, mereka menjaga pandangan hanya kepada pasangan mereka dan tidak menginginkan selain pasangan mereka.
Allah ﷻ berfirman:
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ
“Mereka belum pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelum mereka.” (QS. Ar-Rahman: 56)
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الْأَرْضِ، لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا، وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا ـ يَعْنِي الْخِمَارَ ـ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.
“Seandainya seorang perempuan dari penghuni surga menampakkan diri kepada penduduk bumi, niscaya ia akan menerangi ruang antara keduanya dan memenuhi ruang tersebut dengan aroma harum. Sungguh, penutup kepala yang dikenakannya lebih baik daripada dunia dan segala isinya.”
Banyaknya Pasangan Penghuni Surga
Allah ﷻ telah mengabarkan tentang banyaknya pasangan yang dimiliki penghuni surga. Disebutkan bahwa tidak ada seorang pun di surga kecuali memiliki dua pasangan atau lebih.
Disebutkan pula bahwa para pasangan tersebut berkumpul setiap tujuh hari. Mereka mengucapkan dengan suara yang indah, yang belum pernah didengar makhluk sebelumnya:
نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَبِيدُ، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْأَسُ، وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ، وَنَحْنُ الْمُقِيمَاتُ فَلَا نَظْعَنُ، طُوبَى لِمَنْ كَانَ لَنَا وَكُنَّا لَهُ.
“Kami adalah perempuan-perempuan yang kekal, maka kami tidak akan binasa. Kami adalah perempuan-perempuan yang hidup dalam kenikmatan, maka kami tidak akan mengalami kesengsaraan. Kami adalah perempuan-perempuan yang ridha, maka kami tidak akan murka. Kami adalah perempuan-perempuan yang menetap, maka kami tidak akan pergi. Berbahagialah orang yang menjadi milik kami dan kami menjadi miliknya.”
Kenikmatan Bersama Pasangan
Disebutkan bahwa Malaikat Jibril alaihissalam menyampaikan:
يَدْخُلُ الرَّجُلُ عَلَى الْحَوْرَاءِ فَتَسْتَقْبِلُهُ بِالْمُعَانَقَةِ وَالْمُصَافَحَةِ.
“Seorang laki-laki memasuki tempat bidadarinya, lalu bidadari itu menyambutnya dengan pelukan dan berjabat tangan.”
Penghuni surga juga menikmati hubungan pernikahan sebagaimana mereka menikmatinya di dunia. Seorang mukmin diberi kekuatan seratus kali lipat dalam hubungan tersebut. Ketika penghuni surga berhubungan dengan pasangan mereka, mereka kembali dalam keadaan perawan.
Disebutkan pula bahwa seorang laki-laki dari penghuni surga dapat menginginkan seorang anak. Maka masa kehamilan, menyusui, penyapihan, hingga masa mudanya berlangsung dalam satu waktu.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa penghuni surga tidak mengalami janabah, kelemahan, maupun berkurangnya kekuatan. Hubungan mereka merupakan kenikmatan dan kesenangan yang tidak disertai kekurangan dalam bentuk apa pun.
Kesempurnaan Kenikmatan dan Kesucian di Dunia
Orang yang paling sempurna dalam kenikmatan tersebut adalah orang yang paling menjaga dirinya dari perkara haram ketika berada di dunia.
Sebagaimana orang yang meminum khamar di dunia tidak akan meminumnya di akhirat, orang yang mengenakan sutra di dunia tidak akan mengenakannya di akhirat, dan orang yang makan menggunakan wadah emas dan perak di dunia tidak akan makan dengannya di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَكُمْ فِي الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya semua itu adalah untuk mereka di dunia, sedangkan bagi kalian adalah di akhirat.”RA(*)
*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki