Posted on 15 August 2026
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling penyantun dan paling mudah memaafkan walaupun memiliki kemampuan untuk membalas. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, walaupun beliau memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk melakukannya.
Dalam salah satu peristiwa, beliau menerima kalung-kalung yang terbuat dari emas dan perak, maka beliau pun membagikannya kepada para sahabat. Lantas berdirilah seorang lelaki dari kalangan Arab Badui dan berkata:
يَا مُحَمَّدُ، وَاللهِ لَئِنْ أَمَرَكَ اللهُ أَنْ تَعْدِلَ فَمَا أَرَاكَ تَعْدِلُ
Wahai Muhammad, demi Allah, jika Allah memerintahkanmu untuk berlaku adil, aku tidak melihat engkau telah berlaku adil.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَيْحَكَ! فَمَنْ يَعْدِلُ عَلَيْهِ بَعْدِي؟
“Celakalah engkau! Jika aku tidak berlaku adil, lalu siapa lagi yang akan berlaku adil?”
Kemudian ketika lelaki itu hendak pergi, Rasulullah ﷺ bersabda:
رُدُّوهُ عَلَيَّ رُوَيْدًا
“Panggillah dia kembali kepadaku, tetapi dengan perlahan.”
Ini menunjukkan betapa luas kesabaran dan kelembutan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak tergesa-gesa menghukum orang yang telah mengucapkan perkataan yang sangat berat kepada beliau.
Sahabat Jabir radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa pada suatu kesempatan, Rasulullah ﷺ membagikan harta kepada orang-orang. Beliau mengambil sejumlah perak dari kain milik Bilal radhiyallahu anhu dan membagikannya kepada orang-orang. Kemudian ada yang berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، اعْدِلْ
“Wahai Rasulullah, berlaku adillah!”
Rasulullah ﷺ menjawab:
وَيْحَكَ، فَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ فَقَدْ خِبْتُ إِذًا وَخَسِرْتُ إِنْ كُنْتُ لَا أَعْدِلُ
“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Kalau aku tidak berlaku adil, sungguh aku telah gagal dan merugi.”
Kemudian Sahabat Umar radhiyallahu anhu berkata:
أَلَا أَضْرِبُ عُنُقَهُ؟ فَإِنَّهُ مُنَافِقٌ.
“Tidakkah engkau mengizinkanku untuk memenggal lehernya? Sesungguhnya dia seorang munafik.”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
مَعَاذَ اللهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي.
“Aku berlindung kepada Allah dari anggapan bahwa orang-orang akan berkata: ‘Muhammad membunuh para sahabatnya.’”
Perhatikanlah akhlak Rasulullah ﷺ. Seseorang menuduh beliau tidak adil. Sahabat beliau bahkan siap menghukumnya. Namun Nabi ﷺ justru mencegah hukuman tersebut dan menjaga agar persoalan tidak berkembang menjadi fitnah yang lebih besar.
Ketika Musuh Menghunus Pedang kepada Beliau
Dalam sebuah peperangan, kaum Muslimin sempat lengah. Seorang lelaki dari pihak musuh datang hingga berdiri di atas kepala Rasulullah ﷺ dengan membawa pedang. Ia berkata:
مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟
“Siapa yang akan melindungimu dariku?”
Rasulullah ﷺ menjawab dengan tenang:
اللهُ.
“Allah.”
Mendengar jawaban itu, pedang tersebut tiba-tiba terjatuh dari tangannya. Rasulullah ﷺ kemudian mengambil pedang itu dan berkata kepadanya:
مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟
“Sekarang, siapa yang akan melindungimu dariku?”
Lelaki itu berkata:
كُنْ خَيْرَ آخِذٍ.
“Jadilah orang yang sebaik-baiknya orang yang membalas.”
Rasulullah ﷺ kemudian mengajaknya kepada Islam:
قُلْ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ.
“Ucapkanlah: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah.’”
Namun lelaki tersebut menjawab bahwa ia tidak mau masuk Islam. Ia juga tidak akan memerangi Rasulullah ﷺ dan tidak akan bergabung dengan kaum yang memerangi beliau. Maka Rasulullah ﷺ melepaskannya.
Lelaki itu kemudian kembali kepada kaumnya dan berkata:
جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ خَيْرِ النَّاسِ.
“Aku datang kepada kalian dari sisi manusia terbaik.”
Perhatikanlah: orang yang beberapa saat sebelumnya berdiri dengan pedang di atas kepala Rasulullah ﷺ justru dilepaskan oleh beliau ketika beliau telah mampu membalasnya. Inilah makna pemaafan yang sesungguhnya: mampu membalas, tetapi memilih memaafkan.
Wanita Yahudi yang Memberikan Daging Beracun
Sahabat Anas radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ membawa seekor kambing yang telah diberi racun agar beliau memakannya. Ketika hal itu diketahui, wanita tersebut dipanggil dan ditanya mengenai perbuatannya.
Ia mengakui:
أَرَدْتُ قَتْلَكَ.
“Aku bermaksud membunuhmu.”
Para sahabat kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
أَفَلَا تَقْتُلُهَا؟
“Tidakkah engkau membunuhnya?”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
لَا.
“Tidak.”
Inilah keluasan maaf Rasulullah ﷺ. Beliau bukan tidak mampu membalas. Beliau adalah pemimpin umat, seorang nabi, dan memiliki kekuasaan. Tetapi beliau tidak menjadikan kemampuan untuk membalas sebagai alasan untuk membalas setiap keburukan yang dilakukan terhadap dirinya.
Ketika Rasulullah ﷺ Disihir
Seorang lelaki Yahudi juga pernah melakukan sihir terhadap Rasulullah ﷺ. Kemudian Jibril alaihissalam memberitahukan kepada beliau tentang hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ mengetahui tempat sihir itu dan akhirnya berhasil mengeluarkan serta membuka ikatan-ikatannya. Setelah itu, Rasulullah ﷺ merasakan tubuh beliau menjadi lebih ringan.
Namun beliau tidak mempermalukan lelaki Yahudi tersebut, tidak menjadikannya sebagai tontonan masyarakat, dan tidak membalasnya dengan tindakan yang berlebihan. Inilah salah satu bentuk keluasan jiwa Rasulullah ﷺ.
Peristiwa Hathib bin Abi Balta‘ah radhiyallahu anhu
Sahabat Ali radhiyallahu anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus dirinya bersama Sahabat Zubair dan Sahabat Miqdad radhiyallahu anhuم.
Beliau ﷺ memberi perintah kepada mereka :
انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ، فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً مَعَهَا كِتَابٌ، فَخُذُوهُ مِنْهَا.
“Pergilah hingga kalian sampai di Raudhah Khakh. Di sana ada seorang perempuan yang membawa sebuah surat. Ambillah surat itu darinya.”
Mereka pun pergi dan menemukan perempuan tersebut. Mereka meminta surat itu. Perempuan tersebut sempat menyangkal bahwa ia membawa surat. Akhirnya setelah didesak, ia mengeluarkan surat tersebut dari rambutnya.
Surat itu ternyata berasal dari Sahabat Hathib bin Abi Balta‘ah radhiyallahu anhu, yang ditujukan kepada beberapa orang musyrik di Makkah dan berisi informasi mengenai suatu urusan Rasulullah ﷺ.
Hathib kemudian dipanggil. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya tentang perbuatannya. Hathib menjelaskan:
يَا رَسُولَ اللهِ، لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ...
“Wahai Rasulullah, janganlah engkau tergesa-gesa menghukumku.”
Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki keluarga dan perlindungan kuat di Makkah sebagaimana sebagian kaum Muhajirin lainnya. Karena itu, ia berharap dapat membuat suatu hubungan baik dengan penduduk Makkah agar keluarganya di sana mendapatkan perlindungan. Hathib menegaskan bahwa ia tidak melakukan hal itu karena kufur, tidak karena ridha kepada kekufuran setelah masuk Islam, dan tidak pula karena murtad dari agamanya.
Rasulullah ﷺ kemudian menerima penjelasan tersebut. Sahabat Umar radhiyallahu anhu berkata:
دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ.
“Biarkan aku memenggal leher orang munafik ini.”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
إِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ، فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ.
“Sesungguhnya ia telah ikut dalam Perang Badar. Tahukah engkau, boleh jadi Allah عز وجل telah melihat kepada para peserta Badar lalu berfirman: ‘Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian.’”
Ini menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ mempertimbangkan keadaan seseorang secara menyeluruh, tidak tergesa-gesa menjatuhkan hukuman hanya karena satu perbuatan.
Ketika Seorang Anshar Menuduh Pembagian Nabi ﷺ
Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ membagikan sesuatu kepada orang-orang. Kemudian seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata:
هَذِهِ قِسْمَةٌ مَا أُرِيدَ بِهَا وَجْهُ اللهِ.
“Ini adalah pembagian yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridaan Allah.”
Perkataan tersebut disampaikan kepada Rasulullah ﷺ. Wajah beliau pun memerah karena marah. Namun beliau tidak membalas dengan celaan atau hukuman. Beliau justru bersabda:
رَحِمَ اللهُ أَخِي مُوسَى، قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ.
“Semoga Allah merahmati saudaraku Musa. Sungguh, ia telah disakiti dengan sesuatu yang lebih berat daripada ini, namun ia bersabar.”
Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ menghadapi ucapan yang menyakitkan. Beliau mengingat Nabi Musa alaihissalam yang juga mengalami berbagai gangguan dari kaumnya. Kemudian beliau memilih kesabaran, bukan pembalasan.
Rasulullah ﷺ Ingin Hatinya Bersih
Di antara akhlak Rasulullah ﷺ yang sangat agung adalah beliau tidak suka membawa-bawa keburukan orang lain ke dalam hatinya. Beliau bersabda:
لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِي شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ.
“Janganlah seorang pun di antara kalian menyampaikan kepadaku sesuatu tentang salah seorang sahabatku. Sesungguhnya aku ingin menemui kalian dalam keadaan dadaku bersih.”
Inilah akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau ingin hatinya bersih. Beliau tidak ingin hubungan beliau dengan para sahabat dibangun berdasarkan prasangka, laporan-laporan yang tidak perlu, atau cerita-cerita yang dapat menimbulkan kebencian. Beliau ingin datang kepada mereka dengan hati yang bersih.
Dari seluruh kisah ini, kita dapat melihat satu sifat yang sangat jelas dalam diri Rasulullah ﷺ:
Beliau mampu membalas, tetapi memilih memaafkan. Inilah yang membedakan antara lemah dan memaafkan karena kemuliaan jiwa. Orang yang tidak mampu membalas kemudian berkata, “Aku memaafkan,” belum tentu menunjukkan keutamaan. Tetapi orang yang memiliki kemampuan untuk membalas, memiliki kekuasaan, memiliki kesempatan, namun memilih memberikan maaf, maka di situlah tampak kemuliaan akhlaknya.
Allah ﷻ berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Rasulullah ﷺ adalah teladan paling sempurna dalam hal ini. Beliau tidak hanya mengajarkan ‘afwu (العفو) dengan lisan, tetapi menjadikannya nyata dalam kehidupan.
Ketika dihina, beliau bersabar. Ketika dituduh, beliau bersabar. Ketika disakiti, beliau bersabar. Ketika memiliki kesempatan membalas, beliau memilih memaafkan. Dan ketika orang lain membawa berita buruk tentang sahabatnya, beliau bahkan berusaha menjaga kebersihan hatinya agar tidak berubah menjadi prasangka dan kebencian. Inilah akhlak Nabi Muhammad ﷺ yang seharusnya kita teladani dalam kehidupan kita sehari-hari. RA(*)
*Sumber: Ihya Ulumiddin, karya Imam Ghazali