Suara Indah dan Nyanyian Bidadari di Surga

Posted on 01 October 2026


 


Allah ﷻ berfirman:

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَتَفَرَّقُونَ ۝ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَهُمْ فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُونَ

“Dan pada hari ketika Kiamat terjadi, pada hari itu mereka terpisah-pisah. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka berada dalam taman (surga) dengan penuh kegembiraan.” (QS. Ar-Rum: 14–15)

Al-Auza‘i menjelaskan firman Allah:

فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُونَ

“Dalam taman (surga) mereka bergembira.”

Menurutnya, salah satu makna السماع  adalah mendengarkan suara yang menyenangkan.

Apabila penghuni surga ingin menikmati alunan suara yang menggembirakan, Allah memberikan wahyu kepada angin yang disebut الهفافة. Angin itu masuk ke pepohonan bambu yang terbuat dari mutiara yang lembut dan menggerakkannya, sehingga bagian-bagiannya saling berbenturan dan menghasilkan suara yang indah.

Surga pun menjadi semarak. Ketika surga dipenuhi kegembiraan itu, tidak ada satu pohon pun kecuali ikut bergerak.

Suara Pepohonan Surga

Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ فِي الْجَنَّةِ سَمَاعٌ؟ فَإِنِّي أُحِبُّ السَّمَاعَ.

“Wahai Rasulullah, apakah di surga terdapat suara yang indah didengarkan? Sesungguhnya aku menyukai suara seperti itu.”

Beliau ﷺ menjawab:

نَعَمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ اللهَ لَيُوحِي إِلَى شَجَرِ الْجَنَّةِ: أَنْ أَسْمِعِي عِبَادِيَ الَّذِينَ شَغَلُوا أَنْفُسَهُمْ عَنِ الْمَعَازِفِ وَالْمَزَامِيرِ بِذِكْرِي، فَتُسْمِعُهُمْ بِأَصْوَاتٍ مَا سَمِعَ الْخَلَائِقُ بِمِثْلِهَا قَطُّ، بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّقْدِيسِ.

“Ya, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada pepohonan surga, ‘Perdengarkanlah kepada hamba-hamba-Ku yang menyibukkan diri mereka dengan mengingat-Ku sehingga mereka tidak menggunakan alat-alat musik dan seruling.’

Maka pepohonan itu memperdengarkan kepada mereka suara-suara yang belum pernah didengar oleh makhluk sebelumnya, berupa tasbih dan penyucian kepada Allah.”

Nyanyian Bidadari

Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا وَيَجْلِسُ عِنْدَ رَأْسِهِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ ثِنْتَانِ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، تُغَنِّيَانِ بِأَحْسَنِ صَوْتٍ سَمِعَهُ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ، وَلَيْسَ بِمِزْمَارِ الشَّيْطَانِ، وَلَكِنْ بِتَمْجِيدِ اللهِ وَتَقْدِيسِهِ.

“Tidaklah seorang hamba memasuki surga kecuali di dekat kepalanya dan di dekat kedua kakinya terdapat dua bidadari yang menyanyikan dengan suara terbaik yang pernah didengar manusia dan jin. Suara itu bukan dengan seruling setan, tetapi berupa pengagungan dan penyucian kepada Allah.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ أَزْوَاجَ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّينَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ أَصْوَاتٍ مَا سَمِعَهَا أَحَدٌ قَطُّ، إِنَّ مِمَّا يُغَنِّينَ بِهِ: نَحْنُ الْخَيْرَاتُ الْحِسَانُ، أَزْوَاجُ قَوْمٍ كِرَامٍ، وَإِنَّ مِمَّا يُغَنِّينَ بِهِ: نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَمُوتُ، نَحْنُ الْآمِنَاتُ فَلَا نَخَافُ، نَحْنُ الْمُقِيمَاتُ فَلَا نَظْعَنُ.

“Sesungguhnya pasangan-pasangan penghuni surga menyanyikan untuk pasangan mereka dengan suara terbaik yang belum pernah didengar siapa pun.

Di antara yang mereka nyanyikan adalah:

نَحْنُ الْخَيْرَاتُ الْحِسَانُ، أَزْوَاجُ قَوْمٍ كِرَامٍ

“Kami adalah perempuan-perempuan yang baik dan indah, pasangan orang-orang yang mulia.”

Dan di antara yang mereka nyanyikan:

نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَمُوتُ، نَحْنُ الْآمِنَاتُ فَلَا نَخَافُ، نَحْنُ الْمُقِيمَاتُ فَلَا نَظْعَنُ.

“Kami adalah perempuan-perempuan yang kekal, maka kami tidak mati. Kami adalah perempuan-perempuan yang aman, maka kami tidak takut. Kami adalah perempuan-perempuan yang menetap, maka kami tidak pergi.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مُجْتَمَعًا مِنَ الْحُورِ الْعِينِ يَرْفَعْنَ بِأَصْوَاتٍ لَمْ يَسْمَعِ الْخَلَائِقُ بِمِثْلِهَا، يَقُلْنَ: نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَبِيدُ، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْأَسُ، وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ، طُوبَى لِمَنْ كَانَ لَنَا وَكُنَّا لَهُ.

“Sesungguhnya di surga terdapat tempat berkumpulnya para bidadari. Mereka meninggikan suara dengan suara yang belum pernah didengar oleh makhluk. Mereka berkata:

“Kami adalah perempuan-perempuan yang kekal, maka kami tidak akan binasa. Kami adalah perempuan-perempuan yang hidup dalam kenikmatan, maka kami tidak akan sengsara. Kami adalah perempuan-perempuan yang ridha, maka kami tidak akan murka. Berbahagialah orang yang menjadi milik kami dan kami menjadi miliknya.”

Suara Nabi Dawud alaihissalam

Malik bin Dinar menjelaskan firman Allah ﷻ:

وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ

“Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.”(QS. Shad: 40)

Pada hari Kiamat, sebuah mimbar yang tinggi diperintahkan untuk diletakkan di surga. Kemudian diserukan:

يَا دَاوُدُ، مَجِّدْنِي بِذَلِكَ الصَّوْتِ الْحَسَنِ الرَّخِيمِ الَّذِي كُنْتَ تُمَجِّدُنِي بِهِ فِي دَارِ الدُّنْيَا.

“Wahai Dawud, agungkanlah Aku dengan suara indah dan merdu yang dahulu engkau gunakan untuk mengagungkan-Ku di dunia.”

Maka suara Nabi Dawud alaihissalam memenuhi kenikmatan seluruh penghuni surga. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:

وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ

“Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (QS. Shad: 40)

Suara yang Lebih Agung daripada Semua Suara

Dari Syahr bin Hausyab disebutkan bahwa Allah ﷻ berfirman kepada para malaikat:

إِنَّ عِبَادِي كَانُوا يُحِبُّونَ الصَّوْتَ الْحَسَنَ فِي الدُّنْيَا، فَيَدَعُونَهُ مِنْ أَجْلِي، فَأَسْمِعُوا عِبَادِي، فَيَأْخُذُونَ بِأَصْوَاتٍ مِنْ تَهْلِيلٍ وَتَسْبِيحٍ وَتَكْبِيرٍ، لَمْ يَسْمَعُوا بِمِثْلِهِ قَطُّ.

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku dahulu menyukai suara yang indah di dunia, tetapi mereka meninggalkannya demi Aku. Maka perdengarkanlah kepada hamba-hamba-Ku suara-suara yang berupa tahlil, tasbih, dan takbir, yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.”

Namun, ada kenikmatan mendengar yang lebih tinggi daripada semua itu. Semua suara lainnya menjadi kecil dibandingkannya, yaitu ketika penghuni surga mendengar kalam Allah, firman-Nya, sapaan dan salam-Nya kepada mereka, serta percakapan-Nya dengan mereka.

Allah membacakan firman-Nya kepada mereka. Ketika mereka mendengarnya langsung dari-Nya, kenikmatan itu begitu agung hingga seakan-akan mereka belum pernah mendengar sesuatu sebelumnya.

Mendengar Bacaan Al-Qur’an dari Allah ﷻ

Dari Abdullah bin Buraidah disebutkan:

إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَدْخُلُونَ كُلَّ يَوْمٍ مَرَّتَيْنِ عَلَى الْجَبَّارِ جَلَّ جَلَالُهُ، فَيَقْرَأُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ، وَقَدْ جَلَسَ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَجْلِسَهُ الَّذِي هُوَ مَجْلِسُهُ، عَلَى مَنَابِرِ الدُّرِّ وَالْيَاقُوتِ وَالزَّبَرْجَدِ وَالذَّهَبِ وَالزُّمُرُّدِ، فَلَمْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُمْ بِشَيْءٍ، وَلَمْ يَسْمَعُوا شَيْئًا قَطُّ أَعْظَمَ وَلَا أَحْسَنَ مِنْهُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُونَ إِلَى رِحَالِهِمْ نَاعِمِينَ قَرِيرَةً أَعْيُنُهُمْ إِلَى مِثْلِهَا فِي الْغَدِ.

“Sesungguhnya para penghuni surga menghadap kepada Allah Yang Mahaperkasa dua kali setiap hari. Allah membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Masing-masing duduk di tempatnya di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari mutiara, yaqut, zabarjad, emas, dan zamrud.

Mata mereka tidak pernah mendapatkan kenikmatan seperti itu dan mereka tidak pernah mendengar sesuatu yang lebih agung dan lebih indah daripadanya. Kemudian mereka kembali ke tempat tinggal mereka dalam keadaan penuh kenikmatan dan hati yang tenteram, untuk kembali mendapatkan kenikmatan yang sama pada hari berikutnya.”RA(*)

*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki