Sunnah dan Adab Hari Raya

Posted on 19 March 2026


1. Menghidupkan Malam ‘Id dengan Ibadah

Disunnahkan untuk menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha dengan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah, seperti dzikir, takbir, shalat, membaca Al-Qur’an, dan istighfar.

Disebutkan dalam beberapa riwayat:

زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ

Hiasilah hari raya kalian dengan takbir. (HR. Ath-Thabrani)

Disebutkan pula:

مَنْ قَامَ لَيْلَتَيِ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا للهِ، لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ ‌يَوْمَ ‌تَمُوتُ ‌الْقُلُوبُ

Barang siapa menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan penuh harap pahala kepada Allah, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati-hati mati.” (HR. Ibnu Majah)

Imam Ibnu Asakir juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih:

مَنْ ‌أَحْيَا ‌اللَّيَالِي ‌الأرْبَعَ، وجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ: لَيلَة التَّرْوية ولَيلَةَ عَرفَة، ولَيلَة النَّحْر، ولَيلَة الْفِطر

“Barang siapa menghidupkan empat malam, maka wajib baginya surga: malam Tarwiyah  (8 Dzulhijjah), malam Arafah (9 Dzulhijah), malam Nahr (Idul Adha), dan malam Idul Fitri.

Sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْيَا اللَّيَالِيَ الْخَمْسَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ: لَيْلَةُ التَّرْوِيَةِ، وَلَيْلَةُ عَرَفَةَ، وَلَيْلَةُ النَّحْرِ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Barang siapa menghidupkan lima malam, maka wajib baginya surga: malam Tarwiyah, malam Arafah, malam Nahr, malam Idul Fitri, dan malam pertengahan Sya’ban. (HR. Al-Ashbahani)

Menghidupkan malam tidak harus dengan shalat terus-menerus. Bisa dengan berbagai ibadah, seperti: Dzikir, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, takbir, tasbih atau Istighfar. Menghidupkan malam bisa terhasilkan dengan menghidupkan sepertiga malam terakhir. Yang lebih utama adalah menghidupkan malam seluruhnya.  Minimalnya shalat Isya berjamaah disertai shalat Subuh berjamaah sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ اللَّيْلَ كُلَّهُ

Barang siapa shalat Isya berjamaah, seakan ia telah menghidupkan setengah malam. Dan barang siapa shalat Subuh berjamaah, seakan ia telah menghidupkan seluruh malam. (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan para ulama berselihih tentang ukuran menghidupkan malam, Sebagian ulama mengatakan harus sebagian besar malam, sebagian lain mengatakan cukup walau hanya sesaat.

2. Takbir di Hari Raya

Waktu Takbir Idul Fitri: Dimulai sejak terbenam matahari malam Id sampai mulai shalat Id.

Minimalnya :

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

Demikian tiga kali berturut-turut diulang sesuai dengan kemampuannya.

Imam Syafii dan para Ashhab Syafii mengatakan bahwa bagus pula jika ditambahkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Atau boleh juga bertakbir dengan yang umum di masyarakat:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Takbir yang ada di Hari Raya Idul Idul Fitri hanyalah Takbir mursal, yaitu takbir yang tidak dibatasi dengan waktu dan tempat, artinya disunahkan pada setiap keadaan, baik di masjid, rumah, maupun di pasar; ketika berdiri, duduk, berjalan maupun naik kendaraan.

Waktunya: mulai terbenamnya matahari di hari raya (malam 1 Syawal) sampai takbiratul ihram Shalat Id. Jika ia melakukan shalat Idul Fitri sendirian, maka batas terakhir takbir hari raya baginya adalah sampai ia melakukan takbiratul ihram shalat hari raya. Adapun yang tidak melakukan shalat id, maka batas terakhir takbir hari raya idul fitri adalah sampai waktu Dhuhur.

3. Mandi, Berhias, dan Memakai Pakaian Terbaik

Disunnahkan pada hari raya: mandi, memakai wewangian, dan memakai pakaian terbaik dan terbersih. Terdapat riwayat bahwa Nabi :

كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Rasulullah biasa mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Ibnu Majah)

Para sahabat seperti: Umar bin Khattab dan  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma juga melakukan mandi pada hari raya.

Adapun wanita yang ingin hadir shalat id, maka ia keluar tanpa memakai wewangian dan dengan pakaian biasa untuk menghidari fitnah.

Telah diriwayatkan :

كَانَ لِلنَّبِيِّ ﷺ حُلَّةٌ يَلْبَسُهَا فِي الْعِيدَيْنِ وَيَوْمِ الْجُمُعَةِ

Nabi memiliki pakaian khusus yang beliau pakai pada dua hari raya dan hari Jumat. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Diriwayatkan pula:

أَنَّهُ كَانَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةٍ فِي كُلِّ عِيدٍ

Sesungguhnya Nabi dahulu memakai burd ḥibarah (kain bergaris yang indah) pada setiap hari raya. (HR. Asy-Syafi‘i)

Dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau meriwayatkan:

كَانَ لِلنَّبِيِّ ﷺ بُرْدَةٌ حَمْرَاءُ يَلْبَسُهَا يَوْمَ الْعِيدِ

Nabi memiliki pakaian (selendang/jubah) berwarna merah yang beliau pakai pada hari raya. (HR. Al-Baihaqi)

Sahabat Jabir radhiyallahu anhu meriwayatkan:

كَانَ لِلنَّبِيِّ ﷺ حُلَّةٌ يَلْبَسُهَا فِي الْعِيدَيْنِ وَيَوْمِ الْجُمُعَةِ

Nabi memiliki satu set pakaian khusus yang beliau pakai pada dua hari raya dan pada hari Jumat. (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya)

Sayidina Hasan cucu Nabi meriwayatkan:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ مَا نَجِدُ

Rasulullah memerintahkan kami pada dua hari raya agar kami memakai pakaian terbaik yang kami miliki dan memakai wewangian terbaik yang kami miliki. (HR. Al-Hakim)

Waktu mandi (untuk hari raya) sudah masuk sejak pertengahan malam, namun yang lebih utama adalah dilakukan setelah shalat Subuh atau ketika hendak berangkat menuju shalat Id.

4. Makan Sebelum Shalat Idul Fitri dan Menunda Makan  Sebelum Shalat Idul Adha

Sahabat Anas radhiyallahu anhu meriwayatkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ، وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Rasulullah tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil. (HR. Bukhari)

Sahabt Buraidah radhiyallahu anhu mengatakan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ، وَلَا يَأْكُلُ يَوْمَ النَّحْرِ حَتَّى يُصَلِّيَ

Rasulullah tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau selesai shalat.

Dalam riwayat lain:

وَلَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ

Beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau pulang. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

5. Shalat Id Dengan Berbeda Jalan Saat Pergi dan Pulang

Sahabat Jabir radhiyallahu anhu meriwayatkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Rasulullah apabila hari raya, beliau menempuh jalan yang berbeda (antara pergi dan pulang).(HR. Bukhari)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيدِ رَجَعَ فِي غَيْرِ الطَّرِيقِ الَّذِي خَرَجَ فِيهِ

Rasulullah apabila keluar menuju shalat Id, beliau pulang melalui jalan yang berbeda dari jalan berangkat. (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi)

Para ulama menyebutkan hikmah dari sunnah ini adalah : Agar kedua jalan menjadi saksi amal kita, menyambung silaturahmi dari dua arah, menambah pahala dianjurkan: pergi lewat jalan lebih jauh, pulang lewat yang lebih dekat.

6. Memperbanyak Takbir dalam Khutbah ‘Id

Diriwayatkan dalam suatu hadits:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُكْثِرُ التَّكْبِيرَ فِي خُطْبَتَيِ الْعِيدِ

Rasulullah banyak membaca takbir dalam khutbah dua hari raya. (HR. Ibnu Majah)

Tata cara khutbah: Khutbah pertama: dibuka dengan 9 kali takbir dan  Khutbah kedua: dibuka dengan 7 kali takbir. Ini adalah pendapat jumhur ulama berdasarkan atsar para tabi’in. Diriwayatkan oleh Sa‘id bin Manshur dari Ubaidullah bin Utbah, ia berkata: ‘Imam pada hari raya dahulu bertakbir sebelum berkhutbah sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua sebanyak tujuh kali.’

Dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan yang semisalnya dari hadits Ubaidullah bin Utbah, ia berkata: ‘Termasuk sunnah adalah membuka khutbah pertama dengan sembilan kali takbir secara berturut-turut, dan khutbah kedua dengan tujuh kali takbir secara berturut-turut.’

7. Saling Mengucapkan Selamat (Tahni’ah)

Sahabat Jubair radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Para sahabat Rasulullah apabila bertemu pada hari raya, mereka saling berkata: Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan kalian). (HR Al-Muhamili)

Imam Ibnu Hajar berkata bahwa ucapan ini disunahkan dan disyariatkan, beliau berdalil bahwa Imam Bukhari  membuat bab khusus dalam kitabnya dengan judul:

باب ما روي في قول الناس بعضهم لبعض في العيد

Bab tentang riwayat ucapan manusia satu sama lain pada hari raya

yaitu ucapan:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

 

8. Berjabat Tangan (Mushafahah)

Disunahkan saling berjabat tangan antara sesama lelaki atau sesama perempuan, dan haram berjabat tangan lelaki dengan wanita yang bukan mahram (ajnabiyah). Nabi bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، ‌فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

Tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu berjabat tangan, kecuali keduanya tidak berpisah sampai diampuni dosa-dosa mereka. (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain:

مَا مِنْ عَبْدَيْنِ مُتَحَابَّيْنِ فِي اللَّهِ يَسْتَقْبِلُ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَيَتَصَافَحَانِ، وَيُصَلِّيَانِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، إِلَّا لَمْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُمَا ذُنُوبُهُمَا مَا تَقَدَّمَ مِنْهَا وَمَا تَأَخَّرَ

Tidaklah dua hamba yang saling mencintai karena Allah, lalu salah satu dari keduanya bertemu dengan sahabatnya kemudian mereka berjabat tangan dan bershalawat kepada Nabi , kecuali keduanya tidak berpisah sampai diampuni dosa-dosa mereka, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. (HR Baihaqi)

 

9. Zakat Fitrah

Disunnahkan menunaikan zakat fitrah: setelah Subuh hari raya dan sebelum shalat Id.

10. Melapangkan Keluarga dan Bersedekah

Dianjurkan: memberi kelapangan kepada keluarga dengan menambah nafkah, dan bersedekah lebih dari biasanya. Tujuannya adalah untuk membahagiakan keluarga, membantu mereka memenuhi kebutuhan hari raya, dan menyebarkan kegembiraan.

11. Menampakkan Wajah Ceria dan Kebahagiaan Kepasa Semua Orang Yang Ia Temui Baik Kecil Maupun Besar.

Nabi bersabda:

وَتَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

 Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. (HR. Tirmidzi)

Nabi juga bersabda:

قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، ‌وَلَوْ ‌أَنْ ‌تَلْقَى ‌أَخَاكَ ‌بِوَجْهٍ ‌طَلْقٍ

Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang berseri (ramah). (HR Muslim)

12. Silaturahmi pada Hari Raya

Di antara sunnah dan anjuran pada hari raya adalah mengunjungi keluarga, kerabat, dan sahabat. Hal ini dilakukan untuk menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan,  menguatkan hubungan persaudaraan, mempererat cinta dan kasih sayang, dan mengokohkan hubungan di tengah masyarakat

Rasulullah sangat menekankan silaturahmi, beliau bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian sunah dan adab Hari Raya, semoga kita semua bisa mengamalkannya. Aamiin. RA(*)

*Sumber: Al-Madrasah Ar-Ramadhaniyah