Tanah, Debu, dan Kerikil Surga

Posted on 30 September 2026



Bangunan Surga dan Tanahnya

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang surga. Terbuat dari apakah bangunannya?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ، وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ، وَتُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ، مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمْ لَا يَبْأَسُ، وَيَخْلُدُ لَا يَمُوتُ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ.

“Batu bata bangunannya terbuat dari emas dan perak. Kerikilnya adalah mutiara dan yaqut. Perekatnya adalah minyak kasturi, sedangkan tanahnya adalah za‘faran. Siapa yang memasukinya akan hidup dalam kenikmatan dan tidak akan mengalami kesusahan; ia akan kekal dan tidak akan mati; pakaiannya tidak akan usang dan masa mudanya tidak akan berakhir.”

Tanah Surga dan Wanginya

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

أَرْضُ الْجَنَّةِ بَيْضَاءُ، وَعَرْصَتُهَا صُخُورُ الْكَافُورِ، وَقَدْ أَحَاطَ بِهَا الْمِسْكُ مِثْلَ كُثْبَانِ الرَّمْلِ، فِيهَا أَنْهَارٌ مُطَّرِدَةٌ، فَيَجْتَمِعُ فِيهَا أَهْلُ الْجَنَّةِ أَوَّلُهُمْ وَآخِرُهُمْ فَيَتَعَارَفُونَ، فَيَبْعَثُ اللَّهُ ﷻ رِيحَ الرَّحْمَةِ فَتَهِيجُ عَلَيْهِمُ الْمِسْكَ، فَيَرْجِعُ الرَّجُلُ إِلَى زَوْجِهِ وَقَدِ ازْدَادَ حُسْنًا وَطِيبًا، فَتَقُولُ: لَقَدْ خَرَجْتَ مِنْ عِنْدِي وَأَنَا بِكَ الْآنَ أَشَدُّ إِعْجَابًا.

“Tanah surga berwarna putih, dan tanah lapangnya berupa batu-batu kapur barus. Di sekelilingnya terdapat kasturi seperti gundukan-gundukan pasir. Di dalamnya mengalir sungai-sungai.

Para penghuni surga, dari generasi pertama hingga yang terakhir, berkumpul di sana dan saling mengenal. Kemudian Allah mengirimkan angin rahmat yang menghembuskan aroma kasturi kepada mereka. Seseorang pun kembali kepada istrinya dalam keadaan semakin indah dan harum.

Istrinya berkata, ‘Sungguh, ketika engkau meninggalkanku tadi, aku sudah kagum kepadamu. Namun sekarang aku semakin kagum kepadamu.’”

Tanah Surga Beraroma Kasturi

Dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Sahabat Abu Dzarr menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا فِيهَا جَنَابِذُ اللُّؤْلُؤِ، وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ.

“Aku memasuki surga. Di dalamnya terdapat kubah-kubah dari mutiara, dan tanahnya adalah kasturi.”

Dalam riwayat lain disebutkan tentang tanah surga:

إِنَّهَا دَرْمَكَةٌ بَيْضَاءُ مِسْكٌ خَالِصٌ.

“Tanahnya berupa darmakah putih, yaitu kasturi murni.”

Berbagai hadis dari Nabi ﷺ menunjukkan bahwa jika seluruh riwayat tersebut dikumpulkan, tanah surga mengandung dua macam hal yang berbeda yaitu kasturi dan za‘faran.

Tanah Za‘faran dan Kasturi

Hal tersebut dapat dipahami dalam dua kemungkinan.

Pertama, tanah surga berupa za‘faran. Ketika za‘faran tersebut dicampur dengan air, ia menjadi kasturi. Lumpur juga dapat disebut sebagai tanah. Hal ini sesuai dengan riwayat lain yang menyebutkan:

مِلَاطُهَا الْمِسْكُ

“Perekatnya adalah kasturi.”

Milaṭ berarti tanah atau lumpur yang digunakan sebagai perekat. Hal tersebut juga didukung oleh riwayat Al-‘Ala’ bin Ziyad yang menyebutkan:

تُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ وَطِينُهَا الْمِسْكُ

“Tanahnya adalah za‘faran dan lumpurnya adalah kasturi.”

Ketika tanahnya harum dan airnya pun harum. Maka saat keduanya bercampur, lahirlah keharuman yang lain sehingga menjadi seperti kasturi.

Keindahan Warna dan Aroma

Kemungkinan kedua adalah bahwa tanah tersebut disebut za‘faran dari segi warnanya, sedangkan disebut kasturi dari segi aromanya.bIni merupakan gambaran yang sangat indah, warna tanahnya memiliki keindahan dan cahaya seperti za‘faran, sedangkan aromanya seperti kasturi.

Demikian pula tanah surga diserupakan dengan الدَّرْمَك (darmak), yaitu tepung atau roti putih yang bersih, dengan warna yang cenderung kekuningan serta memiliki sifat lembut dan halus.

Dengan demikian, gambaran tentang tanah surga mencakup keindahan warna, kelembutan, dan keharuman. Imam Sufyan bin ‘Uyainah meriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid:

أَرْضُ الْجَنَّةِ مِنْ فِضَّةٍ، وَتُرَابُهَا مِسْكٌ.

“Tanah surga terbuat dari perak, sedangkan debunya adalah kasturi.”

Warna putihnya menyerupai warna perak, sedangkan aromanya menyerupai aroma kasturi. RA(*)

*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki