Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Posted on 12 March 2026


Banyak ulama yang telah menjelaskan tentang tanda-tanda dan ciri-ciri Lailatul Qadar. Namun sebagian tanda yang sering disebutkan tidak selalu memiliki dalil yang kuat, dan tidak pula didukung oleh sanad atau riwayat yang dapat dipercaya. Terkadang tanda-tanda itu hanya tersebar melalui cerita yang beredar di tengah masyarakat awam dan orang-orang sederhana.

Ada pula tanda-tanda yang disebutkan berdasarkan pengalaman, pengamatan, atau penglihatan sebagian orang, meskipun tidak didukung oleh dalil yang jelas.

Karena itu, dalam pembahasan ini kita akan menyebutkan dua jenis tanda:

  1. Tanda-tanda yang sahih, yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi dan memiliki riwayat yang dapat dipercaya.

  2. Tanda-tanda lain, yang disebutkan hanya sebagai tambahan untuk menenangkan hati atau sebagai informasi umum, bukan sebagai sesuatu yang wajib diyakini.

Adapun tanda-tanda yang disebutkan dalam kitab-kitab hadis Nabi di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Terjadi pada malam-malam bulan Ramadhan

Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, dan lebih ditekankan lagi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir tersebut.

2. Banyaknya malaikat yang turun ke bumi

Pada malam itu para malaikat turun ke bumi dalam jumlah yang sangat banyak, bahkan tidak terhitung banyaknya. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr: 4)

Seorang ulama besar, Al-Qadhi ‘Iyadh, menjelaskan hikmah mengapa matahari pada pagi hari setelah Lailatul Qadar terbit tanpa sinar yang kuat.

Beliau menyebutkan dua kemungkinan hikmah:

  1. Sebagai tanda dari Allah yang menunjukkan bahwa malam sebelumnya adalah Lailatul Qadar.

  2. Karena banyaknya malaikat yang turun pada malam itu. Ketika mereka turun dan naik kembali ke langit, sayap-sayap dan tubuh mereka yang halus seakan menutupi cahaya matahari sehingga sinarnya tidak tampak kuat.

Mengetahui tanda ini pada pagi hari setelahnya juga memiliki manfaat, yaitu agar seseorang bersungguh-sungguh beribadah pada hari tersebut, karena hari itu pun memiliki keutamaan sebagaimana malamnya.

3. Malamnya cerah dan penuh ketenangan

Salah satu tanda Lailatul Qadar adalah malamnya terasa tenang, sejuk, dan nyaman, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin. Rasulullah bersabda:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ، لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ، وَتُصْبِحُ شَمْسُ صَبِيحَتِهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ

“Lailatul Qadar adalah malam yang tenang dan lapang, tidak panas dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan lemah dan kemerah-merahan.” (HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa malam itu cerah dan penuh kedamaian, tidak ada angin kencang, tidak ada hujan, dan tidak pula terlihat bintang yang jatuh. Rasulullah bersabda:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ بَلْجَةٌ، لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ، لَا سَحَابَ فِيهَا وَلَا مَطَرَ وَلَا رِيحَ، وَلَا يُرْمَى فِيهَا بِنَجْمٍ، وَمِنْ عَلَامَاتِ يَوْمِهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Lailatul Qadar adalah malam yang cerah dan tenang, tidak panas dan tidak dingin. Tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada angin, dan tidak ada bintang yang dilemparkan. Di antara tanda pagi harinya adalah matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan.” (HR. Ath-Thabrani)

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dan yang lainnya disebutkan:

وَهِيَ لَيْلَةٌ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ

“Lailatul Qadar adalah malam yang lapang dan cerah, tidak panas dan tidak pula dingin.”

 

4. Matahari pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan

Tanda lain dari Lailatul Qadar adalah matahari pada pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan. Rasulullah bersabda:

إِنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Sesungguhnya matahari pada pagi hari itu terbit tanpa sinar (yang menyilaukan).” (HR. Muslim)

Rasulullah juga bersabda:

صَبِيحَةُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لَا شُعَاعَ لَهَا كَأَنَّهَا طَسْتٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ

 Pada pagi hari setelah Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan, seakan-akan seperti sebuah bejana (piring) hingga matahari itu naik tinggi.(HR Ahmad)

Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا، سَاكِنَةٌ صَاحِيَةٌ، لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ، وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ حَتَّى يُصْبِحَ، وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنْ تَخْرُجَ الشَّمْسُ صَبِيحَتَهَا مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ

“Tanda Lailatul Qadar adalah malamnya jernih dan terang, seakan-akan ada bulan yang bersinar di dalamnya. Malam itu tenang dan cerah, tidak panas dan tidak pula dingin. Tidak ada bintang yang dilemparkan hingga pagi. Tanda lainnya adalah matahari pada pagi harinya terbit rata tanpa sinar, seperti bulan pada malam purnama. Dan pada hari itu setan tidak dapat keluar bersamanya.”

Hal ini karena biasanya matahari terbit di antara dua tanduk setan, kecuali pada pagi hari setelah Lailatul Qadar.

Tanda-Tanda Lain yang Tidak Berdasarkan Hadis Sahih

Selain tanda-tanda yang disebutkan dalam hadis, ada pula beberapa tanda lain yang sering diceritakan oleh masyarakat. Namun tanda-tanda ini tidak memiliki dalil hadis yang sahih, melainkan hanya berdasarkan pengalaman atau cerita orang-orang yang mengaku menyaksikannya. Di antara cerita yang tersebar adalah:

  1. Air laut menjadi tawar pada malam itu.

  2. Anjing tidak menggonggong.

  3. Keledai tidak meringkik.

  4. Pohon-pohon merundukkan cabangnya ke tanah.

  5. Terlihat cahaya terang di tempat-tempat yang gelap.

Namun semua tanda ini tidak memiliki dasar hadis yang kuat, sehingga tidak bisa dijadikan pegangan dalam menentukan Lailatul Qadar. Ia hanya disebutkan sebagai cerita yang beredar di tengah masyarakat. RA(*)

*Sumber: Al-Madrasah Ar-Ramdhaniyah