Posted on 26 January 2026
Para pendahulu yang saleh dari keluarga Al-Ba’alawi telah menanamkan tradisi pendidikan yang melahirkan para ulama dan membentuk generasi berakhlak mulia. Kebiasaan mereka dalam mendidik anak dan murid menjadi warisan berharga yang patut diteladani siapapun, khususnya bagi penerus mereka. Berikut ini adalah 17 kebiasaan salaf Al-Ba’alawi yang dikutip dari kitab Adatus Salaf Al Baalawi karya As-Sayid Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Haddar.
1. Memulai dengan Mengajarkan Al-Quran
Di antara kebiasaan mereka adalah memulai pendidikan anak-anak dan murid dengan menghafal Al-Quran al-Karim. Dalam biografi-biografi salaf seringkali disebutkan: “Beliau lahir di Tarim, lalu ia menghafal Al-Quran al-Karim.”
2. Menghafal Kitab-Kitab Ringkas
Setelah hafal Al-Quran, mereka membimbing anak-anak untuk menghafal kitab-kitab ringkas dalam ilmu, seperti:
Mereka berkata:
مَنْ حَفِظَ الْمُتُونَ حَازَ الْفُنُونَ
“Barangsiapa menghafal matan, maka ia akan meraih berbagai cabang ilmu.”
3. Membiasakan Dzikir Shalat
Mereka mengajarkan anak-anak dan murid dzikir-dzikir shalat, membiasakan mereka membacanya secara berjamaah dengan suara agak keras, agar terbiasa menghafalnya baik di dalam maupun di luar shalat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar.
4. Menanamkan Cinta kepada Dua Khalifah
Mereka membiasakan anak-anak mencintai dua khalifah besar:
Sebagaimana mereka mengajarkan surat Al-Fatihah. Hal ini disebutkan oleh Al-Habib Alawi bin Syihab.
5. Mengajarkan Sifat Qanaah dan Sederhana
Mereka mendidik anak-anak untuk memiliki sifat qanaah terhadap dunia, ridha dengan bagian yang telah ditentukan, serta hidup sederhana dalam keseharian. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith.
6. Perhatian Lebih pada Pendidikan Anak Perempuan
Mereka lebih memperhatikan pendidikan anak perempuan dibandingkan anak laki-laki, karena perempuan lebih banyak tinggal di rumah.
7. Membaca Kitab-Kitab Ringkas yang Menggabungkan Ilmu dan Amal
Mereka mengajarkan kitab-kitab kecil yang menghimpun ilmu dan amal, seperti:
Ketika membaca kitab tersebut dan menemukan sunnah atau doa, mereka langsung mengajarkan anak-anak untuk menghafalnya. Pada pertemuan berikutnya mereka menguji hafalan itu, sehingga anak-anak terbiasa mengamalkan ilmu. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas.
8. Menjaga Hati terhadap Perselisihan Sahabat
Mereka tidak membicarakan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat Rasulullah ﷺ. Jika tanpa sengaja mereka membaca kisah tersebut, maka mereka segera membaca ayat:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."(QS Al-Hasyr: 10)
Dengan itu, hati mereka tetap bersih terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas.
9. Tidak Berlebihan dalam Ilmu Aqidah
Mereka tidak memperluas pembahasan ilmu aqidah
secara mendalam, melainkan mengambil secukupnya. Lalu mereka menguatkan aqidah
dengan amal shalih dan niat yang baik.
Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi.
10. Memilih Guru yang Terpercaya
Mereka tidak mengambil ilmu kecuali dari guru
yang telah mereka yakini metode dan manhajnya.
Mereka tidak membiarkan anak-anak belajar kepada sembarang orang, karena guru
adalah teladan, dan darinya murid akan mengambil jalan hidup. Sebagaimana
disebutkan oleh Al-Habib Alawi bin Syihab.
11. Menjaga Adab dalam Majelis Ilmu
Mereka melarang murid untuk menyibukkan diri dengan hal lain ketika pelajaran berlangsung, meskipun dengan tasbih atau dzikir. Demikian pula mereka melarang membaca atau menelaah kitab lain saat pelajaran berlangsung. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Abdul Bari bin Syaikh al-Aydrus.
12. Perhatian Lebih pada Anak-Anak Tertentu
Mereka memberi perhatian lebih kepada:
Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas dan Al-Habib Alawi bin Syihab.
13. Fokus pada Empat Ilmu Pokok
Mereka tidak mendalami kecuali empat bidang ilmu:
Adapun ilmu-ilmu lainnya, mereka hanya mengambil sekadar kebutuhan. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas.
14. Menunda Pembahasan Masalah Khilafiyah
Mereka tidak menyebutkan masalah khilafiyah kepada murid sebelum murid benar-benar mendalami ilmu. Karena hal itu dapat memecah konsentrasi murid, menyibukkan pikirannya, dan menghalangi pencapaian ilmu. Sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Haddad.
15. Menggabungkan Fiqih dengan Tasawuf
Ketika mereka membaca kitab fiqih, mereka juga membaca kitab tasawuf (tazkiyah) bersamaan. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas.
16. Membuka dan Menutup Kitab dengan Doa
Ketika memulai membaca sebuah kitab, mereka membaca Al-Fatihah, berdoa, dan mendoakan rahmat bagi pengarangnya. Demikian pula ketika menutup kitab, mereka kembali membaca doa dan mendoakan penulisnya. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas.
17. Menyesuaikan Kitab dengan Karakter Murid
Jika mereka melihat murid memiliki sifat terlalu lembut, maka mereka memberikan kitab yang berisi ketegasan. Sebaliknya, jika murid memiliki sifat terlalu keras, maka mereka memberikan kitab yang berisi kelembutan. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas.
Dengan demikian, lengkaplah 17 kebiasaan para salaf shalih dari keluarga Al-Ba’Alawi dalam pendidikan. Tradisi ini menunjukkan keseimbangan antara ilmu, amal, adab, dan tazkiyah, sehingga melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia jika dijalani dengan benar.RA(*)