Golongan Yang Tidak Mendapat Ampunan pada Lailatul Qadar Dan Sepanjang Ramadhan

Posted on 12 March 2026



Ada beberapa golongan yang terhalang dari ampunan pada malam Lailatul Qadar, dan juga terhalang dari Ampunan serta Pembebasan dari Neraka di Bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Nabi bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَنْظُرُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِلَى الْمُؤْمِنِينَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، فَيَعْفُو عَنْهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ إِلَّا أَرْبَعَةً: مُدْمِنَ خَمْرٍ، وَعَاقًّا، وَمُشَاحِنًا، وَقَاطِعَ رَحِمٍ

“Sesungguhnya Allah memandang pada malam Lailatul Qadar kepada orang-orang beriman dari umat Muhammad. Lalu Allah mengampuni mereka dan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, kecuali empat golongan: pecandu khamar, orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang menyimpan permusuhan (dengki) terhadap saudaranya, dan orang yang memutuskan tali silaturahmi.”(HR Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaiful Maarif)

Sebagian ulama salaf berkata:

“Amalan yang paling utama adalah hati yang bersih, jiwa yang dermawan, dan ketulusan memberi nasihat kepada umat.”

Dengan sifat-sifat inilah banyak orang mencapai derajat tinggi di sisi Allah, bukan semata-mata karena banyaknya puasa dan shalat. Karena itu, setiap Muslim dan Muslimah hendaknya menjauhi dosa-dosa yang dapat menghalangi seseorang dari mendapatkan ampunan Allah pada musim rahmat dan pengampunan, yaitu bulan Ramadhan, bulan pembebasan dari api neraka.

Dosa-Dosa Besar yang Menghalangi Ampunan

1. Syirik kepada Allah

Allah berfirman:

مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan baginya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan bagi orang-orang zalim itu tidak ada seorang penolong pun.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

2. Membunuh Jiwa yang Tidak Bersalah

Membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan syariat merupakan dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah.

3. Berzina

Zina termasuk dosa besar yang merusak kehormatan, keluarga, dan masyarakat.

Ketiga dosa besar ini disebutkan dalam sebuah hadis sahih. Sahabat Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu anhu berkata: Aku bertanya kepada Nabi :

“Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?”

Beliau menjawab:

أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang menciptakanmu.”

Aku bertanya lagi: “Kemudian dosa apa lagi?”

Beliau menjawab:

أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ

“Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu.”

Aku bertanya lagi: “Kemudian dosa apa lagi?”

Beliau menjawab:

أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ

“Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

Kemudian Allah menurunkan ayat yang membenarkan hal tersebut:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan selain Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina.” (QS. Al-Furqan: 68)

4. Permusuhan dan Kebencian terhadap Sesama Muslim (Syahna’)

Di antara dosa yang juga menghalangi ampunan adalah permusuhan, kebencian, dan dendam dalam hati terhadap sesama Muslim.

Rasulullah bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya ada permusuhan. Maka dikatakan: ‘Tangguhkan kedua orang ini sampai mereka berdamai.’” (HR. Muslim)

Imam Al-Auza‘i rahimahullah menjelaskan bahwa permusuhan yang paling berat adalah kebencian yang disimpan dalam hati terhadap para sahabat Nabi . Tidak diragukan lagi bahwa kebencian semacam ini lebih besar dosanya daripada sekadar pertengkaran biasa antara sesama manusia.

Pentingnya Hati yang Bersih dari Permusuhan dan Kebencian

Imam Al-Auza‘i rahimahullah berkata:

المُشَاحِنُ كُلُّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَارَقَ عَلَيْهَا الأُمَّةَ

“Orang yang menyimpan permusuhan adalah setiap pengikut bid‘ah yang dengan bid‘ahnya ia memecah belah umat.”

Demikian pula Ibnu Tsauban berkata:

المُشَاحِنُ هُوَ التَّارِكُ لِسُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ، الطَّاعِنُ عَلَى أُمَّتِهِ، السَّافِكُ دِمَاءَهُمْ

“Orang yang menyimpan permusuhan adalah orang yang meninggalkan sunnah Nabi , mencela umatnya, dan menumpahkan darah mereka.”

Permusuhan yang lahir dari bid‘ah dan hawa nafsu sering menjerumuskan seseorang untuk: mencela kaum Muslimin, menghalalkan darah mereka, merampas harta dan kehormatan mereka.

Contoh penyimpangan seperti ini pernah muncul pada kelompok-kelompok yang menyimpang seperti Khawarij dan Rafidhah, serta kelompok lain yang sejenis.

Amalan Terbaik: Hati yang Bersih

Amalan yang paling utama adalah hati yang bersih dari segala bentuk kebencian. Yang paling utama dari itu semua adalah: bersih dari kebencian terhadap Ahlus Sunnah dan para salaf umat ini, tidak membenci mereka, tidak menuduh mereka sesat, tidak mengkafirkan atau membid‘ahkan mereka.

Setelah itu, tingkatan berikutnya adalah hati yang bersih terhadap seluruh kaum Muslimin, dengan cara: menginginkan kebaikan bagi mereka, memberi nasihat dengan tulus, mencintai bagi mereka apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri.

Allah menggambarkan sifat orang-orang beriman dengan doa yang indah:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman dari kami. Jangan Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas radhiyallahu anhu disebutkan:

قال النبي ﷺ لأصحابه ثلاثة أيام: يطلع عليكم الآن رجل من أهل الجنة

“Selama tiga hari berturut-turut Nabi berkata kepada para sahabatnya: ‘Sebentar lagi akan datang kepada kalian seorang lelaki dari penghuni surga.’”

Kemudian datanglah seorang lelaki yang sama setiap hari. Sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhu penasaran dengan amalannya. Ia pun meminta izin untuk tinggal di rumah lelaki tersebut selama tiga malam agar dapat melihat amalnya. Namun ia tidak melihat amalan yang istimewa darinya. Akhirnya ia bertanya kepada lelaki itu tentang rahasianya. Lelaki itu menjawab:

ما هو إلا ما رأيت، ‌مَا ‌هُوَ ‌إِلَّا ‌مَا ‌رَأَيْتَ.

“Tidak ada amalan khusus selain yang engkau lihat.”

Saat sahabat Abdullah hendak pergi, lelaki itu mengatakan:

غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ

“Hanya saja aku tidur setiap malam tanpa menyimpan sedikit pun kebencian dalam hatiku terhadap seorang Muslim.”

Mendengar itu, Abdullah bin ‘Amr berkata:

“Dengan amalan inilah ia mencapai derajat tersebut.”

Dalam hadis lain Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ كُلُّ مَخْمُومِ القَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang hatinya bersih dan lisannya jujur.”

Para sahabat bertanya: “Kami memahami maksud lisan yang jujur, tetapi apa itu hati yang bersih?”

Beliau menjawab:

هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ الَّذِي لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ

Yaitu hati yang bertakwa dan bersih; tidak ada dosa di dalamnya, tidak ada kedzaliman, tidak ada kebencian, dan tidak ada hasad. (Lathaiful Ma’arif)

Luasnya Ampunan Allah

Imam Yahya bin Mu‘adz rahimahullah berkata:

“Seandainya Allah tidak mencintai memaafkan, tentu Dia tidak akan membiarkan orang yang paling Dia cintai terjatuh dalam dosa.”

Maksudnya, Allah menimpakan sebagian hamba-Nya dengan dosa agar mereka kembali kepada-Nya dan Allah memperlakukan mereka dengan ampunan-Nya, karena Dia mencintai memaafkan.

Sebagian ulama salaf berkata:

“Seandainya aku mengetahui amal apa yang paling dicintai Allah, niscaya aku akan bersungguh-sungguh melakukannya.”

Lalu ia bermimpi mendengar suara yang berkata:

“Engkau menginginkan sesuatu yang tidak mungkin. Sesungguhnya Allah mencintai untuk memberi ampunan. Karena itu Dia mencintai hamba-hamba-Nya meminta ampun kepada-Nya.”

Orang-orang yang mengenal keagungan Allah akan tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya, sedangkan para pendosa akan berharap kepada ampunan-Nya.

Jika bukan karena harapan terhadap ampunan Allah, niscaya hati para pendosa akan terbakar oleh keputusasaan dari rahmat-Nya.

Sebagian ulama dahulu berdoa:

اللهم إن ذنوبي قد عظمت فجلت عن الصفة، وإنها صغيرة في جنب عفوك، فاعف عني

“Ya Allah, dosa-dosaku begitu besar hingga tak terlukiskan. Namun di hadapan ampunan-Mu, semuanya terasa kecil. Maka ampunilah aku.”

Ada pula yang berdoa:

جرمي عظيم، وعفوك كبير، فاجمع بين جرمي وعفوك يا كريم

“Dosaku besar, tetapi ampunan-Mu jauh lebih besar. Maka pertemukanlah dosaku dengan ampunan-Mu wahai Dzat Yang Maha Mulia.”

Bahkan dikatakan:

“Wahai pemilik dosa besar, ampunan Allah lebih besar dari dosamu. Dosa sebesar apa pun akan menjadi kecil di hadapan luasnya ampunan Allah.”

Mengapa Kita Dianjurkan Memohon Ampunan di Lailatul Qadar

Karena itu Rasulullah mengajarkan agar pada malam Lailatul Qadar kita banyak memohon ampunan kepada Allah. Sayidah Aisyah ra berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Aku bertanya: Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam mana yang merupakan malam Lailatul Qadar, apa yang sebaiknya aku ucapkan pada malam itu?”

Rasulullah menjawab:

“Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku. (HR. Tirmidzi)

Sebab para ulama dan orang-orang yang mengenal Allah  mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah, tetapi tetap tidak merasa memiliki amal yang cukup. Akhirnya mereka kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati, memohon ampunan seperti halnya seorang hamba yang merasa penuh kekurangan dan dosa. Itulah rahasia mengapa doa yang paling dianjurkan pada Lailatul Qadar adalah memohon ampunan kepada Allah.

Imam Yahya bin Mu‘adz rahimahullah berkata:

ليس بعارفٍ من لم يكن غايةُ أمله من الله العفو

“Seseorang belum disebut benar-benar mengenal Allah, jika puncak harapannya kepada Allah bukanlah ampunan-Nya.”

Seorang ulama salaf bernama Mutharrif rahimahullah biasa berdoa:

اللهم ارضَ عنا، فإن لم ترضَ عنا فاعفُ عنا

“Ya Allah, ridhailah kami. Jika Engkau belum meridhai kami, maka ampunilah kami.”

Orang yang melihat dosanya begitu besar biasanya tidak berani berharap tinggi untuk mendapatkan keridhaan Allah. Harapan terbesarnya hanyalah mendapatkan ampunan. Dan orang yang semakin sempurna ma‘rifatnya kepada Allah, justru akan semakin melihat dirinya penuh kekurangan dan dosa, sehingga ia selalu kembali kepada Allah dengan permohonan ampun.RA(*)

*Sumber: Al-Madrasah Ar-Ramdhaniyah