Bergembira Menyambut Kemerdekaan Secara Bijak

Posted on 18 August 2026


Bulan Agustus merupakan bulan yang penuh dengan suasana kegembiraan. Masyarakat di berbagai daerah menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia dengan beragam kegiatan, mulai dari menghias lingkungan, mengadakan perlombaan, gerak jalan, karnaval, hingga berbagai bentuk hiburan.

Tentu, semangat menyambut kemerdekaan merupakan sesuatu yang baik. Namun, sebagai seorang mukmin, kita perlu memperhatikan bagaimana cara kita mengekspresikan kegembiraan tersebut. Jangan sampai semangat merayakan kemerdekaan justru membuat kita melalaikan kewajiban kepada Allah .

Bergembira atas Nikmat Allah dengan Cara yang Diridai-Nya

Pada dasarnya, memperoleh nikmat dan merasakan kebahagiaan adalah sesuatu yang dianjurkan. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus: 58)

Karena itu, ketika mendapatkan nikmat, kita boleh bergembira. Ketika memiliki anak, kita bergembira. Ketika menikah, kita bergembira. Ketika datang hari raya, kita pun bergembira.

Akan tetapi, kegembiraan seorang mukmin tetap memiliki batasan. Jangan sampai kegembiraan tersebut diwujudkan dengan sesuatu yang dimurkai Allah atau menyebabkan kita lupa kepada-Nya. Allah berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri dengan kegembiraan.” (QS. Al-Qashash: 76)

Maka, yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah kita bergembira atau tidak, tetapi dengan cara apa kita bergembira.

Jangan Sampai Merayakan Kemerdekaan dengan Melalaikan Shalat

Dalam menyambut kemerdekaan, masyarakat sering melakukan berbagai kegiatan hingga malam hari. Menghias kampung, berkumpul, mengadakan perlombaan, atau menikmati hiburan pada dasarnya dapat dilakukan selama tidak mengandung perkara yang dilarang. Namun, jangan sampai kesibukan tersebut menyebabkan seseorang meninggalkan atau menunda shalat.

Jangan sampai karena terlalu sibuk menghias lingkungan, mengikuti perlombaan, atau menikmati hiburan, seseorang lupa bahwa dirinya memiliki kewajiban kepada Allah . Kemerdekaan seharusnya menjadikan kita semakin bersyukur kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya.

Membuat Perayaan yang Lebih Mendidik dan Bermanfaat

Perlombaan dalam rangka memperingati kemerdekaan merupakan hal yang sudah menjadi tradisi masyarakat. Anak-anak mengikuti lomba-lomba seperti makan kerupuk, balap karung, dan berbagai permainan lainnya. Tidak ada salahnya masyarakat bersenang-senang. Namun, kita juga perlu berpikir lebih dewasa dan kreatif. Jangan sampai setiap tahun bentuk kegiatan yang dilakukan tidak pernah berkembang.

Selain permainan yang bersifat hiburan, kita dapat membuat kegiatan yang memiliki nilai pendidikan dan manfaat bagi masyarakat. Misalnya, kegiatan sosial, pembangunan fasilitas umum, kebersihan lingkungan, perlombaan keagamaan, kegiatan pendidikan, bakti sosial, penghijauan, atau berbagai kegiatan kreatif yang memberikan manfaat nyata.

Dengan demikian, semangat kemerdekaan tidak hanya terlihat dari keramaian acara, tetapi juga dari kemajuan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Kita boleh bersenang-senang, tetapi alangkah baiknya jika kegembiraan tersebut sekaligus memberikan pendidikan kepada anak-anak dan manfaat kepada lingkungan.

Menjaga Batasan dalam Hiburan

Di antara hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan masyarakat adalah bentuk hiburan yang diselenggarakan. Jangan sampai acara yang dimaksudkan untuk memeriahkan kemerdekaan justru diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama, seperti bercampur baurnya laki-laki dan perempuan tanpa batasan, hiburan yang melalaikan, atau perilaku dan penampilan yang tidak sesuai dengan adab Islam.

Seorang mukmin tidak dilarang untuk bergembira. Akan tetapi, kegembiraan seorang mukmin tetap berada di bawah tuntunan syariat.

Kita dapat menunjukkan rasa syukur atas kemerdekaan dengan cara yang baik: memperbanyak doa, mengadakan pengajian, khataman Al-Qur’an, kegiatan sosial, membantu masyarakat, membersihkan lingkungan, memberikan santunan, dan berbagai amal kebaikan lainnya.

Dengan demikian, peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi acara tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah .

Bagaimana Jika Kita Berada di Lingkungan yang Berbeda?

Lalu bagaimana sikap kita ketika tinggal di suatu daerah yang masyarakatnya memiliki kebiasaan berbeda?

Jawabannya, tetaplah berdakwah dengan hikmah dan akhlak yang baik. Jangan mudah mencela dan jangan menggunakan kekerasan. Rasulullah telah memberikan teladan bagaimana menghadapi masyarakat yang belum menerima dakwah. Beliau tetap sabar, lembut, dan terus mengajak kepada kebaikan.

Banyak orang yang pada awalnya menolak dakwah, tetapi kemudian mendapatkan hidayah dan masuk Islam. Hal itu menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu menghasilkan perubahan secara spontan.

Karena itu, ketika kita melihat sesuatu yang kurang sesuai dengan ajaran agama, jangan langsung merasa bahwa dakwah kita sia-sia apabila orang tersebut belum berubah. Tugas kita adalah menyampaikan dan mengajak dengan cara yang baik. Hidayah adalah milik Allah .

Dakwah Adalah Perjuangan Jangka Panjang

Dakwah tidak selalu memberikan hasil yang dapat kita lihat dalam waktu singkat. Terkadang seseorang berdakwah bertahun-tahun, tetapi perubahan belum terlihat. Namun, jangan pernah menganggap perjuangan tersebut sia-sia.

Ada sebuah gambaran yang sangat indah tentang seorang tua yang menanam pohon kurma meskipun usianya sudah lanjut. Ketika ditanya mengapa ia menanam pohon yang mungkin tidak sempat ia nikmati hasilnya, ia menjawab bahwa pohon itu ditanam agar dapat dinikmati oleh anak cucunya.

Demikian pula dengan dakwah. Bisa jadi kita tidak sempat melihat hasil perjuangan kita, tetapi anak cucu dan generasi setelah kita yang akan merasakan manfaatnya.

Perjuangan para ulama dan para pendakwah terdahulu juga demikian. Mereka mungkin tidak melihat seluruh hasil dari perjuangan mereka, tetapi dakwah yang mereka tanam terus berkembang setelah mereka meninggal dunia.

Bahkan, bisa jadi karena dakwah yang kita lakukan hari ini, Allah memberikan hidayah kepada anak keturunan kita sehingga kelak mereka menjadi ulama, pendakwah, atau orang-orang saleh yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Tetap Sabar dan Lembut dalam Berdakwah

Karena itu, jangan mudah menyerah dalam berdakwah. Teruslah mengajak kepada Allah dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan hikmah. Jangan menggunakan kekerasan. Jangan pula merasa bahwa perubahan harus terjadi seketika.

Dakwah adalah perjuangan yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Jika kita ingin masyarakat menjadi lebih baik, maka kita harus memulainya dengan memberikan contoh yang baik. Ketika masyarakat bergembira menyambut kemerdekaan, kita dapat mengarahkan kegembiraan itu agar menjadi kegembiraan yang bernilai ibadah dan memberikan manfaat.

Kemerdekaan hendaknya menjadi momentum untuk bersyukur, bukan untuk lalai.

Mari kita isi kemerdekaan dengan kegiatan yang bermanfaat, mempererat persaudaraan, membantu sesama, mendidik generasi muda, menjaga lingkungan, memperkuat nilai-nilai agama, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah .

Semoga Allah menjadikan negeri kita aman, memberikan keberkahan kepada masyarakatnya, serta menjadikan generasi penerus sebagai generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi bangsa dan agama. RA(*)