Menyambut Bulan Maulid Dengan Memahami Makna Momentum Sejarah Islam

Posted on 16 August 2026



Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur dalam salah satu sambutannya saat memasuki Bulan Rabiul Awwal menjelaskan pentingnya membaca sejarah dengan perpsektif momentum Islami. Beliau menuturkan:

Di awal bulan yang mulia ini, bulan Rabiul Awal, kita kembali diingatkan kepada sebuah momentum yang memiliki hubungan erat dengan konsep momen-momen keagamaan, yaitu peringatan kelahiran Nabi Muhammad .

Dengan penuh kebahagiaan, kami mengucapkan selamat kepada seluruh umat Islam atas datangnya momentum ini. Kami juga mengucapkan selamat kepada orang-orang yang mencintai Sang Kekasih, Rasulullah , kepada mereka yang berusaha mengikuti beliau, serta kepada siapa saja yang ingin memahami rahasia dan makna di balik momentum kelahiran beliau .

Momentum keagamaan adalah bagian dari identitas umat

Momentum keagamaan dalam Islam merupakan bagian dari identitas umat. Mungkin banyak orang yang belum menyadari hal ini. Bahkan, sebagian orang belum memahami betapa pentingnya momentum-momentum keagamaan dalam kehidupan beragama. Sebab, jika kita tidak mengenal momentum-momentum tersebut, kita tidak akan memahami bagaimana seharusnya kita membaca sejarah yang memiliki nilai keagamaan.

Ada sejarah yang bersifat umum atau duniawi, dan ada pula yang dapat kita sebut sebagai sejarah keagamaan. Sejarah umum biasanya berbicara tentang berbagai peristiwa, politik, perubahan dalam kehidupan, perkembangan masyarakat, dan berbagai transformasi yang terjadi dalam kehidupan manusia. Adapun sejarah keagamaan berkaitan dengan momentum-momentum yang memiliki dasar dalam agama, baik momentum yang secara langsung ditetapkan oleh syariat maupun momentum yang dipahami melalui prinsip-prinsip syariat.

Karena itu, momentum-momentum keagamaan merupakan bagian penting dari kebudayaan dan pengetahuan seorang Muslim. Islam memberikan kedudukan yang besar kepada berbagai momentum tersebut, baik melalui Al-Qur'an maupun Sunnah. Sebagai contoh, Allah berfirman tentang bulan-bulan dalam setahun:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. (QS. At-Taubah: 36)

Ini menunjukkan adanya perhatian Al-Qur'an terhadap waktu, bulan, dan momentum. Sebab, tahun pada hakikatnya adalah rangkaian hari dan malam yang berjalan dan menghubungkan manusia dengan sejarah.

Namun pertanyaannya: sejarah seperti apa yang sedang kita baca? Apakah sejarah yang berkaitan dengan agama? Apakah sejarah yang berkaitan dengan amanah dan risalah? Ataukah hanya sejarah yang berbicara tentang perkembangan akal manusia, perubahan sosial, kebudayaan, dan berbagai perkembangan lainnya? Di sinilah letak pentingnya memahami makna sebuah momentum.

Kemuliaan Bulan Rabiul Awal dan Kelahiran Nabi

Di antara momentum tersebut adalah bulan Rabiul Awal. Ada banyak hadis yang berbicara mengenai kemuliaan kelahiran Nabi dan tujuan beliau berbicara tentang kelahirannya. Di antaranya disebutkan bahwa Nabi bersabda:

خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ، وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ، مِنْ لَدُنْ آدَمَ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى أَبِي وَأُمِّي، فَأَنَا خَيْرُكُمْ آبَاءً

Aku berasal dari pernikahan yang sah dan bukan dari hubungan zina, sejak zaman Adam hingga sampai kepada ayah dan ibuku. Maka aku adalah orang yang paling baik di antara kalian dari sisi garis keturunan.

Dalam hadis ini, Rasulullah sedang berbicara tentang sebuah momentum, yaitu kelahiran beliau. Namun pembicaraan beliau tentang kelahiran tidak hanya berkaitan dengan masa ketika beliau hidup. Beliau menghubungkan kelahiran tersebut dengan rentang sejarah yang panjang, sejak zaman Nabi Adam alaihissalam hingga kelahiran beliau.  Artinya, kita diajak untuk membaca perjalanan sejarah yang telah berlangsung sebelum kelahiran Nabi Muhammad .

Dari sana kita memahami bahwa ada sesuatu yang disebut kemuliaan, dan ada sesuatu yang disebut kesucian. Rasulullah sendiri menjelaskan kesucian nasab beliau dengan sabdanya:

خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ

Aku berasal dari pernikahan yang sah dan tidak berasal dari perzinaan.

Ketika kita memahami bahwa ada pernikahan yang menjadi jalan lahirnya keturunan manusia dan ada pula perzinaan yang merupakan jalan setan dalam merusak keturunan, kita akan memahami betapa besar perhatian Allah terhadap kesucian nasab Rasulullah .  Kemudian Rasulullah bersabda:

مِنْ لَدُنْ آدَمَ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى أَبِي وَأُمِّي، فَأَنَا خَيْرُكُمْ آبَاءً

Sejak zaman Adam hingga aku sampai kepada ayah dan ibuku, maka aku adalah yang terbaik di antara kalian dari sisi garis keturunan.

Kalimat ini memberikan sebuah isyarat penting mengenai kesucian dan kemuliaan jalur yang menjadi tempat berpindahnya Nabi Muhammad dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Allah menjaga kekasih dan Nabi kita Muhammad dalam setiap sulbi yang mulia, hingga beliau sampai kepada ayah dan ibunya, kemudian beliau lahir ke dunia.  Karena itu, kelahiran Nabi Muhammad bukanlah kelahiran biasa. Kelahiran beliau adalah kelahiran yang istimewa dan memiliki keunikan tersendiri.

Kelahiran Nabi dan Tanda-Tanda Kenabian

Jika kita membaca kitab-kitab sirah dan berbagai kitab yang membahas berita-berita gembira tentang kedatangan Rasulullah , kita akan menemukan berbagai peristiwa yang disebutkan terjadi bersamaan dengan kelahiran beliau. Peristiwa-peristiwa tersebut berkaitan dengan berbagai tanda dan kejadian luar biasa yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad . Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara kelahiran Nabi dengan berbagai peristiwa luar biasa yang Allah tampakkan pada saat itu.  Sebab, kelahiran Nabi Muhammad tidak semata-mata berarti bahwa seorang manusia telah lahir. Yang lahir adalah seorang nabi.

Karena itu, kelahiran seorang nabi membawa serta visi yang baru, dimensi yang baru, pemahaman yang baru, dan pada waktunya membawa syariat yang baru. Maka tidak mengherankan jika kelahiran beliau diiringi oleh berbagai peristiwa luar biasa yang disebutkan oleh sebagian ulama.

Tentu saja, dalam membahas semua riwayat tersebut, kita harus membedakan antara hadis sahih, hadis hasan, dan hadis dhaif. Dan dalam hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa luar biasa yang Allah lakukan untuk Nabi Muhammad , kita hendaknya berpegang kepada riwayat-riwayat yang sahih.

Nabi Muhammad Bukan Sekadar Tokoh Sejarah

Ketika kita berbicara tentang Nabi Muhammad , kita tidak sedang berbicara tentang sekadar seorang manusia jenius yang lahir pada suatu masa. Kita sedang berbicara tentang seorang nabi. Bahkan kenabian beliau telah diberitakan dan dikenal sebelum kelahiran beliau.

Berbagai bangsa dan umat telah menantikan kedatangan Nabi Muhammad . Di antara bukti-buktinya adalah ilmu yang Allah berikan kepada kaum Yahudi, ilmu yang Allah berikan kepada kaum Nasrani, dan berita yang Allah sampaikan kepada kita melalui Al-Qur'an untuk menegakkan hujjah atas mereka yang telah mengetahui kedatangan Rasulullah . Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad.’ (QS. Ash-Shaff: 6)

Nama Ahmad sendiri merupakan bagian dari berita gembira tersebut. Maka persoalan ini berkaitan dengan hubungan antara agama dan sejarah. Sebab berbicara tentang perkara gaib dan berita tentang sesuatu yang akan datang merupakan bagian dari persoalan agama. Adapun persoalan yang berkaitan dengan akal, pengamatan, dan pengalaman manusia merupakan persoalan teoritis yang dibangun berdasarkan pemahaman akal.

Rabiul Awal: Menghubungkan Agama dengan Sejarah

Kelahiran Nabi merupakan momentum untuk memperbarui kembali hubungan antara agama dan sejarah. Ketika kita ingin memahami kelahiran Nabi pada bulan yang mulia ini, kita perlu memahami bahwa Rabiul Awal merupakan wadah munculnya momentum tersebut. Karena itu, kita perlu membaca bulan Rabiul Awal melalui momentum kelahiran Nabi .

Kemudian kita perlu memahami beberapa hal:

  1. Apa yang berkaitan dengan kelahiran beliau.

  2. Apa yang berkaitan dengan janji dan kabar gembira tentang kedatangan beliau yang telah ada sebelumnya.

  3. Apa yang disebut oleh para ulama sebagai irhashat (الإرهاصات), yaitu berbagai tanda luar biasa yang terjadi sebelum atau sekitar kenabian beliau.

  4. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan beliau setelah lahir.

  5. Hingga akhirnya beliau menerima risalah Muhammad .

Semua rangkaian itu berlangsung melalui berbagai zaman hingga akhirnya muncul perintah pertama dalam risalah beliau:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-‘Alaq: 1)

Inilah cara membaca yang benar yang seharusnya tertanam dalam pemikiran kaum Muslimin.

Jangan Membaca Sejarah Tanpa Agama

Hari ini kita berada dalam sebuah perangkap yang berbahaya. Kita membaca sejarah, tetapi terkadang kita membacanya hanya dari perspektif sekular, atau hanya dari perspektif analisis pengetahuan. Ada yang membaca sejarah hanya berdasarkan kemunculan tokoh dan kedudukannya dalam masyarakat.

Namun, ketika bulan Rabiul Awal datang sebagai bulan kelahiran Sang Kekasih , bulan ini mengembalikan kita kepada cara yang benar dalam memahami kelahiran Nabi, yaitu membacanya dari sisi agama dan berdasarkan teks-teks syariat.

Dengan demikian, ketika kita mengajak generasi muda, para pelajar, dan masyarakat untuk mengenal bulan Rabiul Awal dan mengenal pribadi Rasulullah , tujuan kita bukan sekadar membangkitkan emosi. Bukan pula untuk menciptakan pertentangan. Dan bukan pula untuk menempatkan Rasulullah pada kedudukan yang melampaui batas-batas yang telah ditetapkan syariat. Akan tetapi, tujuan utamanya adalah menghadirkan teks-teks syariat dalam pembicaraan tentang keistimewaan pribadi Muhammad , serta memahami berbagai kekhususan yang Allah berikan kepada nabi yang mulia ini sebelum kelahirannya, ketika kelahirannya, setelah kelahirannya, hingga beliau menyampaikan risalah dan menunaikan amanah.

Karena itu, pembahasan tentang momentum keagamaan harus dibangun berdasarkan dalil-dalil syariat. Sebab teks-teks syariat adalah tolok ukur dalam membicarakan para tokoh agama. Dan manusia yang paling agung untuk kita bicarakan adalah Rasulullah .

Memahami Momentum Keagamaan melalui Sirah Nabi

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kelahiran Nabi pada bulan ini, kita perlu memberikan kepada diri kita sendiri—dan kepada kaum Muslimin—sebuah hadiah dalam rangka menyambut kelahiran Sang Kekasih . Maksudnya, secara akal maupun secara syariat, kita berkewajiban mengetahui apa yang semestinya kita ketahui tentang kelahiran Rasulullah .

Sebab, setiap bulan memiliki momentum tertentu, dan momentum tersebut memiliki nilai keagamaan.  Kita memulai tahun Hijriah dengan bulan Muharram yang memiliki momentum hijrah. Kemudian kita sampai kepada Rabiul Awal, yang memiliki momentum kelahiran Nabi . Lalu kita sampai kepada Rajab, yang memiliki momentum Isra dan Mi‘raj. Kemudian kita kembali lagi kepada Rabiul Awal, karena di bulan ini pula terdapat momentum kedatangan Rasulullah di Madinah setelah hijrah.

Dengan demikian, keterkaitan kita dengan berbagai momentum dan musim keagamaan tersebut memberikan kepada pembacaan kita terhadap sirah dan sejarah sebuah nuansa keagamaan.  Kita merasa bahwa dalam membaca perjalanan sejarah, ada pengawasan dan petunjuk dari Allah yang mengarahkan kita.

Baik ketika kita membaca sejarah yang terbatas pada kehidupan Nabi Muhammad , maupun ketika kita membaca sejarah secara lebih luas, yaitu sejarah para nabi sebelum beliau.

Sejarah Para Nabi dan Kedatangan Rasulullah

Para nabi terdahulu telah membawa kabar tentang Rasulullah . Seandainya mereka hidup hingga bertemu dengan Rasulullah , tentu mereka akan mengikuti beliau. Allah berfirman tentang perjanjian yang diambil dari para nabi:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”(QS Ali Imran: 81)

Dengan demikian, ada kesinambungan sejarah antara umat-umat terdahulu, para nabi alaihimus salam, dan kemunculan manusia agung ini pada akhir zaman.  Hubungan sejarah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa membaca sejarah tidak cukup hanya dengan melihat peristiwa-peristiwa manusiawi. Kita juga harus melihat hubungan peristiwa tersebut dengan agama, wahyu, dan kehendak Allah .

Kesalahan dalam Membaca Sejarah

Sayangnya, cara membaca sejarah yang banyak digunakan di berbagai negeri Muslim, bahkan di sebagian lembaga akademik, sering kali terpisah dari teks-teks agama. Sejarah hanya berbicara mengenai realitas manusia, sementara teks agama ditempatkan seolah-olah berada di wilayah yang berbeda.

Padahal, bulan Rabiul Awal merupakan salah satu momentum yang dapat mempertemukan hati, ruh, dan akal untuk membaca sebuah peristiwa berdasarkan teks dan perspektif syariat.

Melalui momentum ini, kita belajar: apa yang Allah lakukan untuk Nabi-Nya ketika beliau dilahirkan;  apa makna diutusnya beliau;  apa yang Allah berikan kepada beliau setelah itu;  dan bagaimana pemberian tersebut memberikan manfaat kepada berbagai bangsa dan umat manusia.

Kita juga dapat memahami kesalahan dan kekurangan yang menimpa umat-umat terdahulu, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, maupun bangsa-bangsa lainnya, ketika mereka memisahkan agama dari sejarah.

Karena itu, kita perlu mengembalikan cara membaca sejarah kepada pembacaan yang bersumber dari teks agama, sehingga agama dan sejarah tidak dipisahkan.

Bagaimana Al-Qur'an Membaca Sejarah?

Sejarah umat-umat terdahulu selalu memiliki hubungan dengan agama. Siapa yang menegakkan agama, maka Allah akan menolongnya. Siapa yang memerangi agama, maka Allah akan membinasakannya. Inilah salah satu cara membaca sejarah secara syar‘i. Jadi, pembacaan sejarah bukan hanya melihat peninggalan, bangunan, kebudayaan, atau kemajuan suatu bangsa.

Misalnya, hari ini kita banyak membaca tentang sejarah bangsa Fir‘aun. Kita berbicara tentang peradaban Mesir kuno, tentang bangunan-bangunannya, peninggalan-peninggalannya, dan berbagai pencapaian mereka. Namun, sangat sedikit orang yang ketika membahas sejarah Fir‘aun berbicara tentang posisi Fir‘aun dalam kekufuran, tentang penolakannya terhadap para rasul, dan tentang apa yang terjadi antara Nabi Musa alaihissalam dengan Fir‘aun.  Padahal, Al-Qur'an memberikan kepada kita cara membaca sejarah yang berbeda. Allah tidak hanya menceritakan kepada kita bahwa Fir‘aun pernah hidup. Allah menceritakan mengapa Fir‘aun dibinasakan. Allah berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. An-Nahl: 112)

Di sini terdapat hubungan antara sebab dan akibat. Sebuah bangsa mendapatkan nikmat, kemudian mengingkari nikmat Allah. Maka Allah memperlihatkan akibat dari perbuatan mereka. Inilah cara membaca sejarah yang perlu kita hidupkan kembali.

Membaca Sejarah Dunia dengan Perspektif Iman

Jika cara membaca seperti ini kita hidupkan kembali, maka seluruh pembicaraan tentang sejarah akan berubah. Baik sejarah dunia, sejarah regional, maupun sejarah Islam dan sejarah lokal yang dialami oleh masyarakat di negeri-negeri Arab dan Islam.

Kita tidak lagi melihat sejarah hanya sebagai kumpulan tanggal, nama, perang, pergantian kekuasaan, dan perkembangan peradaban. Kita akan melihat hukum-hukum Allah yang berjalan dalam sejarah manusia.

Karena itu, bulan Rabiul Awal—sebagaimana telah kita dengarkan—adalah bulan momentum dan bulan keberkahan. Kedatangannya memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan pembacaan sejarah dengan kesadaran yang lebih mendalam.

Jasa Para Ulama dalam Menjaga Sirah Nabi

Para ulama salaf yang saleh—semoga Allah membalas jasa mereka kepada kita dan kepada Islam dengan sebaik-baik balasan—telah menulis banyak karya dalam bidang ini. Mereka menulis: kitab-kitab tentang sirah Nabi ;  qasidah-qasidah;  nazham-nazham;  dan berbagai karya yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah .

Tujuannya adalah memudahkan masyarakat umum untuk memahami sirah Nabi .  Sirah kemudian dibacakan di berbagai majelis dan perkumpulan. Majelis-majelis menjadi harum dengan penyebutan nama Nabi Muhammad , dengan pembacaan berita-berita tentang beliau, serta dengan kisah tentang apa yang beliau alami sepanjang kehidupannya .

Dan pada zaman sekarang, kita bahkan membutuhkan lebih banyak lagi usaha semacam ini. Kita perlu duduk bersama para akademisi. Kita perlu berdialog dengan orang-orang yang berpikir secara rasional. Kita perlu berbicara dengan para pemikir. Bahkan kita perlu berbicara dengan orang-orang yang telah terpengaruh oleh cara membaca sejarah yang tidak lagi memiliki hubungan dengan majelis para ulama salaf dan generasi terdahulu.

Kita perlu menjelaskan kepada mereka: Siapakah Muhammad ? Apa makna kelahiran Muhammad ? Apa pengaruh Muhammad dalam berbagai momentum sejarah? Dan bagaimana kedudukan manusia agung ini jika dilihat dari dua sisi: sisi naql, yaitu wahyu dan teks-teks syariat; dan sisi ‘aql, yaitu akal dan pemikiran manusia.

Di sinilah kita memahami bahwa pembahasan tentang sebuah momentum keagamaan telah kita tempatkan pada kedudukan yang semestinya dalam seluruh aspek kehidupan.

Penutup — Hadiah dari Kelahiran Sang Nabi

Karena itu, saya memohon kepada Allah agar memberkahi momentum yang mulia ini. Semoga Allah memperkenalkan kepada kita kemuliaan momentum ini, sekaligus kemuliaan hadiah yang sampai kepada kita melalui kelahiran Nabi yang mulia ini .

Nabi Muhammad adalah seorang nabi yang telah diberitakan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam melalui doanya, dan telah diberitakan pula oleh Nabi Isa alaihissalam. Rasulullah bersabda:

أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى

Aku adalah hasil dari doa ayahku, Ibrahim, dan kabar gembira dari Isa.

Semoga Allah memberikan kepada kita bagian dari rahasia doa tersebut, bagian dari rahasia kabar gembira tersebut, serta bagian dari rahasia penghormatan, kecintaan, dan keterikatan kita kepada Nabi yang mulia ini .

Semoga Allah memberikan kepada kita kemampuan untuk mengenal ilmu-ilmu syariat yang telah beliau ajarkan kepada kita, sehingga kita dapat memahami berbagai momentum Islam melalui perjalanan bulan-bulan Hijriah beserta peristiwa-peristiwa keagamaan yang berkaitan dengannya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua menuju segala kebaikan. Semoga Allah menjaga kita dari segala keburukan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang banyak bershalawat kepada Nabi Muhammad , termasuk orang-orang yang hatinya senantiasa terikat dengan kecintaan kepada beliau, serta termasuk orang-orang yang mengikuti perjalanan hidup Sang Kekasih, Muhammad . Kita mengikuti apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang.

Dan kita memohon kepada Allah setelah semua itu agar memberikan kepada kita taufik untuk melakukan segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhai. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , kepada keluarga dan para sahabat beliau. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.RA(*)