Biografi Ringkas Habib Umar al-Jailani

Posted on 23 January 2026


Kabar wafatnya Al-Habib Umar bin Hamid al-Jailani merupakan duka mendalam bagi umat Islam. Kepergian beliau meninggalkan kekosongan besar dalam dunia keilmuan dan dakwah. Sepanjang hayatnya, beliau dikenal sebagai ulama yang teguh, konsisten dalam menyampaikan risalah Islam, serta memiliki hubungan yang erat dengan para ulama dari berbagai penjuru dunia, termasuk ulama Nusantara.

Indonesia menempati tempat khusus dalam perjalanan dakwah beliau. Hampir setiap tahun, Al-Habib Umar berkunjung ke berbagai daerah di tanah air untuk berdakwah, mengisi majelis ilmu, serta menghadiri pertemuan-pertemuan keislaman yang mempererat ukhuwah dan sanad keilmuan. Bahkan beliau wafat dalam perjalanan menuju Indonesia.

Berikut ini disajikan biografi ringkas Al-Habib Umar bin Hamid al-Jailani.

Nama dan Nasab

Beliau adalah seorang ulama besar, ahli hadis, dan mufti Syafi’i di Makkah al-Mukarramah, yaitu Habib Umar bin Hamid bin Abdul Hadi bin Abdullah bin Umar bin Ahmad al-Jailani al-Hasani. Nasab beliau bersambung kepada Sultan para wali dan arif billah, Abu Shalih Syekh Abdul Qadir al-Jailani, semoga Allah merahmatinya.

Habib Umar termasuk salah satu ulama terkemuka di Makkah al-Mukarramah, sisa generasi para masyayikh arif yang alim sekaligus pendidik umat.

Kelahiran dan Masa Tumbuh

Beliau lahir pada tanggal 1 Syawwal 1365 Hijriah di Hadramaut, Yaman yang diberkahi, tepatnya di Wadi Duan, Desa al-Kharibah. Sebuah desa yang sejak lama dikenal sebagai tempat tumbuhnya ilmu dan para ulama, desa yang hati para pencari ilmu condong kepadanya sebelum kaki mereka menapakinya.

Beliau terlahir dari kedua orang tua yang saleh. Ayahandanya adalah ulama besar lembah tersebut, Imam Hamid bin Abdul Hadi al-Jailani, seorang teladan dalam ilmu dan akhlak. Hidup beliau dihabiskan antara ibadah, mengajar, dan mendamaikan masyarakat. Ibundanya adalah seorang perempuan ahli ibadah dari keluarga al-Baras, keluarga para masyayikh yang tradisi keilmuannya mengalir turun-temurun sejak masa silam.

Sejak kecil, Habib Umar tumbuh dalam kecintaan yang mendalam terhadap ilmu. Ia senantiasa menyertai ayahandanya dengan kedekatan yang sangat erat, sebagaimana bayangan yang tidak pernah berpisah dari pemiliknya.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ayahandanya memberikan perhatian khusus kepadanya setelah melihat kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Beliau membaca dan mengkaji banyak kitab dalam berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu bahasa Arab, fikih, hadis, tafsir, dan penyucian jiwa.

Beliau bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, mengurangi waktu tidur demi belajar. Dari hasil ketekunan itu, beliau dipercaya untuk mengajar di Madrasah al-Kharibah. Di sana beliau menyampaikan pelajaran dengan metode yang menarik, serta memasukkan beberapa mata pelajaran yang sebelumnya belum dikenal. Madrasah tersebut pun berkembang pesat dan jumlah muridnya meningkat berkali-kali lipat.

Ketika ayahandanya berangkat menunaikan ibadah haji, beliau ditunjuk sebagai pengganti dalam mengajar, padahal usianya belum genap tujuh belas tahun. Selain belajar kepada ayahandanya, beliau juga mengambil ilmu dari para ulama Hadramaut pada masa itu, di antaranya Habib Muhammad bin Hadi as-Saqqaf dan Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab.

Hijrah ke Makkah al-Mukarramah

Takdir kemudian membawanya hijrah dari Hadramaut menuju Makkah al-Mukarramah, menyusul situasi Hadramaut yang saat itu berada di bawah pemerintahan komunis yang represif. Di Makkah, beliau menetap dan menimba ilmu dari para ulama besar, di antaranya Syaikh Hasan Masysyath, Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Abdullah al-Lahji, Syaikh Abdullah ad-Dardum, Syaikh Ishaq Azzuz, Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Saqqaf, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, Habib Hud as-Saqqaf, Syaikh Yasin al-Fadani, serta banyak ulama lainnya dari Tanah Haram dan dunia Islam.

Aktivitas Keilmuan

Habib Umar benar-benar menjadi penerus yang layak bagi para pendahulunya. Beliau mengadakan majelis-majelis ilmu di Makkah al-Mukarramah. Pada awalnya, jumlah yang hadir sangat sedikit, tidak lebih dari lima orang. Namun Allah memberikan penerimaan luas melalui ilmunya dan akhlaknya yang luhur, baik kepada yang muda maupun yang tua.

Majelis beliau kemudian dipenuhi para penuntut ilmu yang mengambil faedah dari pelajaran fikih, hadis, dan penyucian jiwa. Selama lebih dari tiga puluh tahun beliau istiqamah mengajar, dan hingga akhir hayatnya tetap mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan dakwah.

Di luar bulan Ramadan, pelajaran umum beliau diadakan setiap malam setelah salat Isya. Adapun pada bulan Ramadan, majelis diadakan setelah Asar. Majelis-majelis tersebut dihadiri oleh para ulama, habaib, dan penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia. Mereka menikmati tutur kata beliau yang sarat hikmah, faedah, kisah langka, dan pelajaran berharga. Ucapan-ucapan beliau bagaikan mutiara yang tersusun rapi, permata yang tersimpan dalam kalung-kalungnya. Tidak mengherankan, sebab rahasia keberkahan para ayah dan leluhur mengalir kepada anak dan keturunannya.

Karya dan Dakwah

Beliau memiliki sejumlah karya tulis, risalah, dan penelitian ilmiah, di antaranya:
Al-Wajiz fil Ijabah ‘An As’ilah Jamiah Al-Malik Abdul Aziz (Al-Wajiz dalam menjawab pertanyaan Universitas King Abdul Aziz), Tazkiyah wa Hajatul Ummah Ilaiha (Pensucian hati dan kebutuhan umat terhadapnya), Al-Gazwul Burtughali lis Sawahil Al-Yamaniyah( Perang Portugis di pesisir Yaman), Al-Fatwa Wa Khuthuratuha Wa Syuruthu Man Yatawallaha (Fatwa serta bahaya dan syarat bagi yang mengeluarkannya), Adab Thullabil Ilmi Fi Tahshilih (Adab penuntut ilmu dalam menuntut ilmu), Fathus Sunnah Fi Tahriril Qaul Fi Mas’alatil Ihram min Jiddah (Menyingkap hambatan tentang pembahasan ihram dari Jeddah), Musyarakat Fuqaha Hadramaut Fi Khidmatil Madzhab Asyafii (Peran ulama Hadramaut dalam melayani madzhab Syafi’i), serta karya tentang biografi ayahandanya, Imam Hamid.

Beliau juga melakukan banyak perjalanan dakwah ke berbagai negara, berpartisipasi dalam konferensi dan seminar ilmiah, serta menyelenggarakan berbagai daurah keilmuan di lembaga-lembaga Islam di berbagai belahan dunia. Rekaman pelajaran beliau, khususnya dalam bidang hadis, sirah Nabi, dan fikih Syafi’i, tersebar luas melalui media sosial.

Hingga akhir hayatnya, para penuntut ilmu terus memetik buah dari ilmu dan faedah beliau yang langka dalam berbagai cabang keilmuan. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya.

Wafat

Beliau wafat dalam keadaan menempuh jalan dakwah menuju Allah, di antara langit dan bumi, di dalam pesawat yang menuju Indonesia dari Oman, dalam sebuah perjalanan dakwah.

Beliau wafat pada hari Jumat, 4 Syaban 1447 Hijriah.

Semoga Allah merahmati beliau, menerima amalnya, dan menjadikan kita semua sebagai penerima berkah dan manfaat dari ilmunya di dunia dan akhirat. Amin.RA(*)