Posted on 07 January 2026
Sayyid Ahmad bin aIsa al-Muhajir adalah seorang imam besar dan ulama terkemuka. Ia dikenal memiliki kecerdasan yang tajam, pandangan yang dalam, serta hati yang dipenuhi cahaya keimanan. Di kalangan para ulama dan keturunan Ahlul Bait, beliau dijuluki Abu asy-Syuyukh, karena dari jalurnya lahir banyak tokoh ilmu dan panutan umat. Beliau adalah Sayyid Syihabuddīn Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad bin ‘Ali bin Ja‘far ash-Shadiq.
Beliau dikenal dengan akhlak yang luhur, kepribadian yang kokoh, serta kemuliaan yang diakui oleh kawan dan lawan. Kedermawanannya luas, sikap wara‘-nya kuat, dan ia sangat menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak agama dan martabat.
Beliau berasal dari Irak, tepatnya dari kota Bashrah. Setelah mencapai kematangan dalam ibadah dan ketaatan, serta dianugerahi kejernihan batin dan kedalaman pemahaman yang berpadu dengan kecerdasan akal dan kemuliaan nasab, beliau mampu membaca arah zaman dan akibat dari berbagai peristiwa. Dengan pandangan batinnya, ia menyadari kondisi dunia dan akhirat, serta dampak baik dan buruk yang ditimbulkan oleh keadaan sekitarnya.
Pada masa itu, Irak diliputi berbagai fitnah, kekacauan, dan bencana yang mengancam keselamatan agama. Karena itu, beliau memilih berhijrah, berpegang pada firman Allah Ta‘ala:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
“Maka segeralah kamu kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. adz-Dzariyat: 50)
Hijrah ini juga merupakan bentuk mengikuti sunnah kakeknya, Rasulullah ﷺ, yang menganjurkan menjauh dari tempat-tempat fitnah yang membahayakan agama. Peristiwa hijrah tersebut terjadi pada tahun 317 H.
Padahal, di Irak beliau memiliki kedudukan sosial yang tinggi dan kehidupan yang berkecukupan. Namun, dengan ilmu dan kebijaksanaan yang dimilikinya, beliau memahami bahwa kecintaan berlebihan kepada dunia menyimpan bahaya yang tersembunyi. Ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati, kemuliaan hakiki, dan kemenangan di akhirat, termasuk kenikmatan memandang wajah Allah Ta‘ala, tidak akan diperoleh dengan bergantung pada kenikmatan dunia.
Karena itu, beliau memilih bersikap zuhud dan berhijrah bersama keluarga dan pengikutnya, setelah bermusyawarah dengan kerabat dan sahabat. Ia meninggalkan tanah kelahirannya demi menjaga agama dan mencari keridaan Allah. Segala kesulitan dan kepayahan perjalanan dijalani dengan sabar, mengharap pahala besar dan akhir yang baik. Ujian hijrah inilah yang menjadikan derajatnya begitu tinggi dan mulia.
Beliau berangkat dari Bashrah menuju Madinah al-Munawwarah, kemudian ke Makkah al-Mukarramah. Setelah itu, beliau berpindah-pindah di berbagai wilayah Yaman, hingga akhirnya menetap di Hadramaut. Di sanalah keturunan beliau berkembang dan menetap, terutama di kota Tarim, yang kemudian dikenal sebagai salah satu pusat ilmu dan dakwah Islam.
Dalam setiap urusan, Sayyid Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir senantiasa memohon pilihan terbaik dari Allah dan membiasakan shalat istikharah. Ketika memutuskan hijrah ke Hadramaut, beliau berangkat bersama putranya, ‘Ubaidillah, serta tiga orang cucunya: ‘Alawi—yang darinya berasal Bani ‘Alawi, Bashri yang adalah leluhur Bani Bashri, dan Jadid yang merupakan leluhur Bani Jadid. Mereka termasuk golongan asyraf Ahlus Sunnah, dikenal sebagai ulama yang mengamalkan ilmunya, para salik yang menempuh jalan ibadah dengan sungguh-sungguh, dan orang-orang saleh.
Di Antara Sebab Hijrah
Salah satu sebab utama hijrah beliau adalah merebaknya bid‘ah, meningkatnya tekanan terhadap para sayyid keturunan ‘Alawi, serta beratnya ujian yang mereka hadapi. Pada masa itu pula muncul gerakan Zanj, sebuah kelompok yang terkenal dengan kekejaman dan kerusakannya. Mereka melakukan pembantaian terhadap kaum Muslimin, menguasai Bashrah dan wilayah sekitarnya, menawan perempuan-perempuan Muslimah, bahkan menjual seorang wanita dengan harga dua dirham, serta membunuh ratusan ribu orang dalam waktu singkat.
Al-Shuli menyebutkan bahwa jumlah korban dalam peristiwa tersebut mencapai satu juta lima ratus ribu jiwa. Pemimpin Zanj, yang dikenal dengan nama Bahbul, mengaku bernasab kepada Ahlul Bait melalui jalur ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali bin ‘Isa bin Zain al-‘Abidin. Namun klaim nasab tersebut tidak dapat dibenarkan. Ia dikenal mencaci para sahabat utama, seperti Sahabat ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, az-Zubair, ‘Aisyah, dan Mu‘awiyah radhiyallahu anhum, dengan pandangan yang sejalan dengan akidah al-Azariqah, salah satu sekte Khawarij ekstrem.
Pada masa itu, khalifah Abbasiyah adalah al-Mu‘tamid bin al-Mutawakkil, sementara urusan pemerintahan banyak dijalankan oleh saudaranya, al-Muwaffaq. Al-Muwaffaq kemudian memimpin peperangan melawan Zanj dan berhasil menumpas mereka serta membunuh pemimpinnya.
Setelah peristiwa tersebut, terjadi berbagai kejadian luar biasa yang dicatat dalam sumber-sumber sejarah: angin berwarna kuning, kemudian hijau dan hitam, bertiup dan menyebar ke berbagai negeri; hujan es besar turun, hingga satu butirnya ditimbang seberat seratus lima puluh dirham; bahkan terdapat daerah yang dilaporkan dihujani batu hitam dan putih.
Di wilayah Bahrain muncul pula gerakan Qaramithah, yang dipimpin oleh Abu Sa‘id al-Qaramithi, dinisbatkan kepada Qarmithah, sebuah desa di kawasan Wasith. Gerakan ini semakin menguat dengan bergabungnya sisa-sisa kelompok Zanj. Abu Sa‘id mulai menampakkan pengaruhnya sejak tahun 286 H dan bertahan hingga wafatnya pada tahun 361 H. Pada tahun 287 H, ia menyerang Bashrah dan menghancurkan pasukan Abbas al-Ghanawi yang berjumlah sekitar sepuluh ribu orang. Pasukan tersebut dibunuh, dibakar, dan ditawan, hingga Abbas al-Ghanawi kembali menghadap khalifah al-Mu‘taḍid seorang diri.
Setelah itu, berbagai bencana kembali melanda Irak. Air laut meluap dan mengubah banyak keadaan, angin kencang menerjang Bashrah hingga merusak kebun-kebun kurma, dan wabah penyakit merebak pada tahun 300 H. Pada masa itu pula, anjing dan serigala menjadi ganas dan menyerang manusia, bintang-bintang tampak jatuh beruntun, dan kaum Qaramithah kembali memasuki Bashrah dengan melakukan pembunuhan, penawanan, penjarahan, serta pelanggaran kehormatan. Banyak penduduk yang memilih menceburkan diri ke sungai karena tidak sanggup menghadapi kedahsyatan bencana tersebut.
Fitnah Zaman dan Hijrah Sayyid Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir
Pada tahun 309 H, berbagai fitnah dan kekacauan kembali terjadi, disertai peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dunia Islam. Pada tahun inilah al-Husain bin Manshur al-Hallaj dieksekusi di Baghdad. Dalam kondisi seperti itulah Sayyid Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir melakukan hijrah pada tahun 317 H demi menjaga agama dan keselamatan diri serta keluarganya.
Di antara orang-orang yang turut berhijrah bersama beliau terdapat para mawali dan khadam yang setia. Di antaranya adalah Mukhaddam yang berasal dari kalangan Arab Bashrah. Termasuk pula Mukhtar dan Syawih. Ketiganya memiliki keturunan di Hadramaut yang dikenal dan dihormati hingga masa-masa berikutnya.
Disebutkan pula bahwa di antara orang-orang yang ikut berhijrah bersama beliau adalah leluhur para sayyid al-Ahdal. Lafaz al-Ahdal maknanya adalah “yang paling dekat” atau “yang merunduk dan rendah”. Dalam bahasa Arab dikatakan: hadala al-ghuṣn, apabila dahan itu merunduk dan mendekat. Al-Fakihi menyebutkan bahwa ia dinamai al-Ahdal karena makna ungkapan ‘ala al-ilah dalla, yakni “ia menunjukkan (manusia) kepada Allah”.
Termasuk pula di antara rombongan tersebut ‘Ali bin ‘Umar bin Muhammad bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin ‘Isa bin ‘Alawi bin Muhammad bin Jamjam bin ‘Auf bin Imam Musa al-Kaẓim bin Ja‘far ash-Shadiq. Akan tetapi, keluarga ini memilih menyembunyikan kemuliaan nasab mereka. Demikian pula Bani Qudaimyang menisbatkan nasabnya kepada Muhammad al-Jawad bin ‘Ali ar-Rida bin Musa al-Kadzim bin Ja‘far ash-Shadiq.
Perjalanan di Hadramaut dan Awal Dakwah
Pada tahun 318 H, Sayyid Ahmad bin ‘Isa menunaikan ibadah haji bersama para sepupu dan para pengikutnya. Ibadah haji ini merupakan haji kedua beliau sejak hijrah. Setelah itu, ketika tiba di Hadramaut, beliau memasuki daerah al-Hijrain, menetap di sana, dan membeli kebun kurma serta beberapa tanah dengan harga seribu lima ratus dinar. Seluruh harta tersebut kemudian beliau hibahkan kepada bekas budaknya, Syawih.
Dari al-Hijrain beliau berpindah dan sempat menetap di Qarat Bani Jushair. Kata Jushair merupakan bentuk tashghir dari Jashr, dan daerah ini juga dikenal dengan sebutan Ujasyib. Namun tempat tersebut tidak memberi ketenteraman batin bagi beliau, sehingga beliau meninggalkannya dan berpindah ke al-Husaisah, sebuah desa yang berjarak sekitar setengah perjalanan dari Tarim.
Di al-Husaisah inilah beliau menetap secara tetap. Beliau membeli sebagian besar tanah Ṣawḥ yang merupakan kawasan benteng yang dikenal, hingga ke bagian atas kota Baur. Di kawasan tersebut terdapat sebuah sumur yang masyhur, digali oleh ‘Alawi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad. Sumur itu kemudian diperkuat dengan batu-batu besar, dan pada setiap batu dari lapisan bangunan atas tertulis nama beliau.
Menghidupkan Sunnah dan Menjaga Akidah
Setelah Sayyid Ahmad bin ‘Isa menetap di tempat tersebut, orang-orang saleh mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Kendaraan-kendaraan bahkan dipersiapkan untuk mendatangi beliau. Di sana beliau bangkit membela sunnah Nabi ﷺ, dan melalui bimbingannya banyak orang bertaubat. Sejumlah besar masyarakat kembali kepada Ahlus Sunnah, sehingga keturunan dan para pengikut beliau terselamatkan dari berbagai bid‘ah dan penyimpangan akidah yang sebelumnya merebak di Irak.
Dengan demikian, keturunan beliau menjadi penopang yang kokoh bagi negeri Hadramaut, berperan sebagai penjaga agama dan pelestari sunnah di wilayah tersebut.
Sayyid Ahmad kemudian berpindah ke Syi‘b al-Husaisah bagian timur, yang dikenal dengan nama Syi‘b Makhdam. Beliau wafat di sana pada tahun 345 H. Para pembesar dari kalangan sayyid kerap berziarah, terutama Syaikh ‘Abdurrahman as-Saqqaf dan Syaikh ‘Abdullah al-Aydarus. Keduanya dikenal sering berziarah ke tempat tersebut.
Adapun al-Husaisah, ia tetap menjadi desa yang makmur hingga akhirnya dihancurkan oleh ‘Aqil bin ‘Isa ash-Shabrati pada tahun 839 H. RA(*)
*Diterjemahkan dari Syarah Ainiyah karya Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi