Posted on 23 February 2026
Berikut ini adalah terjemah dari sebagian tulisan Al-Habib Umar bin Hafidz tentang kiat-kiat menyambut bulan suci Ramadhan:
Sambutlah bulan yang bercahaya ini dengan:
1. Gembira dan Bahagia
Adapun kegembiraan dan kebahagiaanmu, karena Ramadhan termasuk karunia dan rahmat Allah.Allah ﷻ berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itu hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.(QS Yunus: 58)
Perhatikan berbagai bentuk karunua dan rahmat Allah ﷻ dalam bulan yang mulia ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصُفِّدت الشياطين
Apabila Ramadan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. (HR Bukhari dan Muslim)
Beliau ﷺ juga bersabda:
من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Ketika Ramadan datang, Rasulullah ﷺ bersabda:
إن هذا الشهر قد حضركم وفيه ليلة خيرٌ من ألف شهر من حُرِمها فقد حُرم الخير كله ولا يُحرم خيرها إلا محروم
Sesungguhnya bulan ini telah datang kepada kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa terhalang darinya, maka sungguh ia telah terhalang dari seluruh kebaikan, dan tidaklah terhalang dari kebaikannya kecuali orang yang benar-benar terhalang (dari rahmat Allah). (HR Ibnu Majah)
Dan dari Salman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami pada hari terakhir bulan Sya‘ban, lalu beliau bersabda:
يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم مبارك ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر، جعل الله صيامه فريضة ، وقيام ليله تطوعاً ، من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه، ومن أدى فريضة فيه كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، وهو شهر الصبر ، والصبر ثوابه الجنة، وشهر المواساة ، وشهر يزاد في رزق المؤمن فيه
Wahai manusia, telah menaungi kalian bulan yang agung lagi penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban dan qiyam malamnya sebagai ibadah sunnah. Barang siapa mendekatkan diri di dalamnya dengan satu bentuk kebaikan, maka ia seperti menunaikan satu kewajiban pada selainnya. Dan barang siapa menunaikan satu kewajiban di dalamnya, maka ia seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban pada selainnya. Ia adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Ia adalah bulan kepedulian (saling berbagi), dan bulan di mana rezeki seorang mukmin ditambah di dalamnya. (HR Ibnu Khuzaimah)
2 Adapun kewaspadaan dari sebab-sebab terhalangnya (dari rahmat Allah),
maka hendaklah engkau menjaga dirimu dan membersihkan kehormatanmu dari:
a. Perkataan dusta dan mengamalkannya.
b. Perkataan keji (rafats), kefasikan, dan bersikap bodoh (jahil) terhadap manusia.
c. Berbuka dengan yang haram, serta mengonsumsi perkara syubhat dan yang diharamkan.
d. Bermalas-malasan dalam menjaga kualitas puasa, dari dusta dan ghibah.
e. Memutus silaturahim, durhaka kepada kedua orang tua, mengonsumsi khamr dan narkotika, serta permusuhan terhadap kaum muslimin.
Karena semua itu adalah sebab-sebab terhalangnya seseorang dari kebaikan Ramadan dan keberkahannya, dari ampunan di dalamnya, serta dari pembebasan dari api neraka. Maka bersungguh-sungguhlah dalam mengerahkan upaya untuk membersihkan diri darinya dan menjauhinya.
Bukankah puasa disyariatkan kecuali untuk meraih hakikat takwa?
Inilah seruan dari Ar-Rahman dengan panggilan iman yang menanamkan dalam batinmu makna yang luhur:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (QS Al-Baqarah: 183)
Renungkanlah firman-Nya: ﴿ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾ — “agar kalian bertakwa.”
a. Menghindari dusta
Rasulullah ﷺ bersabda:
من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makanan dan minumannya.(QS Al-Bukhari)
Makna qawl az-zur (perkataan dusta) adalah setiap ucapan yang menyelisihi kebenaran dan kejujuran, baik berupa perkataan, sumpah palsu, persaksian palsu, maupun selainnya dari setiap ucapan yang bertentangan dengan kebenaran dan kejujuran.
Adapun makna mengamalkannya ialah melakukan perbuatan sesuai tuntutan perkataan dusta tersebut atau melakukan perbuatan dusta, yaitu setiap perbuatan yang menyelisihi kebenaran dan petunjuk.
Maka jagalah, wahai mukmin yang berpuasa, ucapan dan perbuatanmu dalam puasamu agar engkau sampai pada hakikat puasa.
b. Menghindari rafats
Rafats yaitu ucapan yang kotor dan melafalkan segala sesuatu yang buruk untuk disebutkan serta membuat malu orang-orang yang bertabiat normal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصيام جُنَّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث ولا يصخب
Puasa itu adalah perisai. Maka apabila pada hari puasa salah seorang dari kalian, janganlah ia berkata keji dan janganlah ia berteriak (bertengkar).”
Dan dalam riwayat lain:
ولا يجهل فإن شاتمه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤٌ صائم ) مرتين(
Dan janganlah ia berbuat bodoh. Jika ada seseorang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa,’ dua kali. (HR Bukhari dan Muslim)
Makna ash-shakhb adalah pertengkaran dan perdebatan tanpa manfaat, yakni jangan berteriak dan jangan bertengkar.
Makna la yajhal (jangan berbuat bodoh) yaitu jangan melakukan sesuatu dari perbuatan jahiliah seperti kebodohan, sikap sembrono, dan ejekan.
Adapun fusuq adalah perbuatan kefasikan, yaitu dosa dan perkara-perkara yang diharamkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لصيام جنةٌ ما لم يخرقها
Puasa adalah perisai selama tidak dilubangi.
Dan diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dengan tambahan: ditanyakan, “Dengan apa ia dilubangi?” Beliau ﷺ menjawab:
بكذبٍ أو غيبة
Dengan dusta atau ghibah.
c. Memastikan berbuka dengan yang halal
Termasuk hal yang sangat ditekankan bagi seorang mukmin yang berpuasa, adalah memastikan bahwa ia berbuka dengan yang halal, serta bersungguh-sungguh dalam bersikap wara’ ketika berbuka. Rasulullah ﷺ bersabda:
إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا
Sesungguhnya Allah Ta‘ala itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.(HR Muslim)
Barang siapa berpuasa dari yang halal, lalu berbuka dengan yang haram, maka ia telah menempatkan dirinya pada risiko ditolaknya puasanya. Maka telitilah dalam berbukamu, wahai mukmin.
Sebagian salaf umat ini berkata: “Jika engkau berpuasa, maka perhatikanlah dengan apa engkau berbuka dan di tempat siapa engkau berbuka.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الحلال بيّنٌ والحرام بيّنٌ وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس، فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعِرضه ومَن وقع في الشبهات وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحِمى يوشك أن يقع فيه، ألا وإن لكل ملك حِمى ألا وإن حمى الله محارمه
Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjatuh dalam perkara syubhat, ia akan terjatuh dalam keharaman. Seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan, dan ketahuilah bahwa tanah larangan Allah adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.(HR Bukhari dan Muslim)
d. Tidak meremehkan kewajiban puasa
Meremehkan kewajiban puasa merupakan perbuatan yang sangat berbahaya dan berat akibatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
من أفطر يوماً من رمضان من غير رخصة ولا مرض لم يقضه صوم الدهر كله وإن صامه
Barang siapa berbuka satu hari di bulan Ramadan tanpa rukhsah (alasan syar‘i) dan tanpa sakit, maka tidak akan dapat menggantinya walaupun ia berpuasa sepanjang masa.”(HR Turmudzi)
Maknanya: orang yang berani berbuka di bulan Ramadan tanpa hak tidak akan mampu menebus keberaniannya itu sekalipun ia berpuasa sepanjang tahun. Maka hendaklah seorang mukmin berhati-hati dari hal tersebut. Dan siapa yang berbuka tanpa uzur hendaknya ia bertaubat, memperbaiki keadaannya, dan mengganti satu hari sebagai ganti hari yang ditinggalkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah mimpi yang beliau lihat:
ثم انطُلق بي فإذا أنا بأقوامٍ معلَّقين بعراقيبهم ، مُشقَّقة أشداقُهم ، تسيل أشداقُهم دماً ، قلت من هؤلاء؟ قال: الذين يفطرون قبل تحلَّةِ صومهم
Kemudian aku dibawa berjalan, tiba-tiba aku melihat sekelompok kaum yang digantung dengan urat tumit mereka, mulut-mulut mereka robek dan mengalir darinya darah. Aku bertanya: Siapakah mereka? Dijawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal (waktunya) puasa mereka. (HR Ibnu Khuzaimah)
Makna sebelum halal puasa mereka ialah berbuka sebelum masuk waktu berbuka.
Maka berhati-hatilah dari sikap meremehkan dan tergesa-gesa, wahai orang yang berpuasa. Hendaklah berbukamu setelah yakin terbenamnya matahari, karena sunnah menyegerakan berbuka itu terkait dengan kepastian terbenamnya matahari.
e.Empat Hal Yang Menghalangi Rahmat
Memutus silaturahim, durhaka kepada kedua orang tua, mengonsumsi khamr dan narkotika yang pelakunya terancam laknat Allah ﷻ serta permusuhan terhadap kaum muslimin, itu semua adalah empat hal yang disebutkan dalam hadis bahwa para pelakunya terhalang dari ampunan di bulan Ramadan dan selainnya.
Dan bahwa Allah mengampuni kaum muslimin pada malam terakhir Ramadan,
kecuali:
orang yang memutus silaturahim, orang yang durhaka kepada kedua orang tua,
peminum khamr, dan orang yang menyimpan permusuhan dalam hatinya terhadap kaum
muslimin.
Maka bersihkanlah dirimu, wahai mukmin, pada bulan yang mulia ini; niscaya engkau akan meraih kebaikan Tuhanmu, memperoleh cahaya bulan ini, rahasianya, keberkahannya, dan tujuan agungnya.
3. Bersungguh-sungguh dan bersegera beramal di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadan adalah medan keuntungan, kesempatan untuk memperbanyak bekal, meraih pahala dan derajat yang tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda:
من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
Barang siapa menegakkan (shalat malam di) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain:
من قام رمضان إيماناً واحتساباً خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه
Barang siapa berdiri (shalat malam) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR An-Nasai)
Dan dalam riwayat lainnya beliau bersabda:
إن الله فرض عليكم صيام رمضان وسننت لكم قيامه فمن صامه وقامه إيماناً واحتساباً خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian puasa Ramadan, dan aku mensunnahkan bagi kalian qiyamnya. Maka barang siapa berpuasa dan menegakkannya dengan iman dan mengharap pahala, ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.
Beliau ﷺ juga bersabda:
من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa menegakkan (ibadah pada) malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR Bukhari dan Muslim)
Dan Qutaibah bin Sa‘id menambahkan dalam riwayatnya:
وما تأخر
“Dan (juga) dosa-dosanya yang akan datang.”
Maka qiyam Ramadan termasuk amal yang paling agung yang sepatutnya dimanfaatkan oleh seorang mukmin pada bulan yang mulia ini. Hendaklah ia memakmurkan malam-malam Ramadan dengan berbagai ibadah, serta menjaga shalat berjamaah dalam kewajiban-kewajiban.
Memberi makan orang yang berpuasa juga merupakan amalan yang besar pahalanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
من فطَّّر فيه -يعني رمضان- صائماً كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء
Barang siapa memberi berbuka kepada orang yang berpuasa di bulan Ramadan, maka itu menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari neraka, serta ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya. (HR Ibnu Khuzaimah)
Beliau ﷺ juga bersabda:
من فطََّّر صائماً على طعام وشراب من حلال صلَّت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبريل ليلة القدر
“Barang siapa memberi berbuka kepada orang yang berpuasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat akan bershalawat kepadanya sepanjang jam-jam di bulan Ramadan, dan Jibril akan bershalawat kepadanya pada malam Lailatul Qadar. (HR Thabrani)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أُعطِيت أمتي في شهر رمضان خمساً لم يعطهن نبيٌّ قبلي: أما واحدة: فإنه إذا كان أول ليلة من شهر رمضان نظر الله عزّ وجل إليهم ومن نظر الله إليه لم يعذبه أبدا، وأما الثانية: فإن خلوف أفواههم حين يمسون أطيب عند الله من ريح المسك، وأما الثالثة: فإن الملائكة تستغفر لهم في كل يوم وليلة، وأما الرابعة: فإن الله عزّ وجل يأمر جنته فيقول استعدي وتزيني لعبادي أوشك أن يستريحوا من تعب الدنيا إلى داري وكرامتي، وأما الخامسة: فإنه إذا كان آخر ليلة غفر لهم جميعا
Telah diberikan kepada umatku pada bulan Ramadan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku:
Adapun yang pertama: apabila tiba malam pertama bulan Ramadan, Allah ‘Azza wa Jalla memandang kepada mereka; dan barang siapa dipandang oleh Allah, Dia tidak akan mengazabnya selama-lamanya.
Adapun yang kedua: sesungguhnya bau mulut mereka ketika sore hari lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.
Adapun yang ketiga: para malaikat memohonkan ampun untuk mereka pada setiap hari dan malam.
Adapun yang keempat: Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya seraya berfirman: Bersiaplah dan berhiaslah untuk hamba-hamba-Ku, karena telah dekat saatnya mereka beristirahat dari kepayahan dunia menuju rumah-Ku dan kemuliaan-Ku.
Adapun yang kelima: apabila tiba malam terakhir, Allah mengampuni mereka seluruhnya.”
Maka seorang lelaki bertanya: “Apakah itu Lailatul Qadar?” Beliau menjawab:
لا، ألم ترَ إلى العمال يعملون فإذا فرغوا من أعمالهم وُفُّّوا أجورهم
“Bukan. Tidakkah engkau melihat para pekerja? Apabila mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka, maka disempurnakanlah upah mereka. (HR Baihaqi)
Dan beliau ﷺ bersabda:
استكثروا فيه - يعني رمضان - من أربع خصال،
خصلتين ترضون بهما ربكم، وخصلتين لا غنى بكم عنهما،
فأما
الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة ألا إله إلا الله وتستغفرونه، وأما الخصلتان اللتان لا غنى بكم عنهما
فتسألون الله الجنة وتعوذون به من النار، ومن سقى صائماً سقاه الله من حوضي شربةً لا
يظمأ حتى يدخل الجنة
Perbanyaklah pada bulan itu — yakni Ramadan — empat hal: dua hal yang dengannya kalian membuat ridha Rabb kalian, dan dua hal yang kalian tidak dapat lepas darinya.
Adapun dua hal yang dengannya kalian membuat ridha Rabb kalian ialah persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kalian memohon ampun kepada-Nya.
Adapun dua hal yang kalian tidak dapat lepas darinya ialah kalian memohon kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari neraka.
Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, Allah akan memberinya minum dari telagaku satu minuman yang tidak akan membuatnya haus hingga ia masuk surga. (HR Ibnu Khuzaimah)
Sungguh, Nabimu ﷺ dahulu bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan Ramadan melebihi kesungguhannya pada bulan-bulan lainnya, dan beliau lebih bersungguh-sungguh lagi pada sepuluh malam terakhirnya dibandingkan malam-malam lainnya di bulan Ramadan.
Maka teladanilah Nabimu, Rasulullah ﷺ. Dan berhati-hatilah dari kebiasaan sebagian orang yang bersemangat di awal bulan, kemudian bermalas-malasan dan melemah di akhirnya, bahkan terkadang kembali kepada kelalaian dan dosa. Karena sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya. RA(*)