Dasar Akidah Yang Wajib Diajarkan Orang Tua Kepada Anaknya

Posted on 29 August 2026


As-Sayid Abubakar Syatha, dalam Ianatut Thalibin menjelaskan mengenai hal-hal terkait akidah yang wajib diajarkan orang tua kepada anaknya semenjak dini. Beliau mengatakan:

Dasar-Dasar Akidah yang Perlu Diajarkan

Para ayah dan ibu wajib mengajarkan kepada anak-anak mereka seluruh hal yang wajib diketahui oleh seorang mukalaf, agar keimanan tertanam kuat dalam hati mereka dan mereka terbiasa melakukan ketaatan.

Sifat-Sifat Allah

Di antaranya adalah mengajarkan kepada mereka hal yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah . Jumlah keseluruhannya adalah 41 hal akidah.

  1. Wujud artinya Allah ada. Mustahil bagi-Nya tidak ada.

  2. Qidam artinya tidak ada permulaan bagi wujud-Nya. Mustahil bagi-Nya memiliki permulaan.

  3. Baqa’ artinya tidak ada akhir bagi wujud-Nya. Mustahil bagi-Nya mengalami kebinasaan.

  4. Mukhalafatuhu lil-hawadits artinya Allah berbeda dengan seluruh makhluk dalam hakikat, sifat, dan perbuatan-Nya. Mustahil Allah menyerupai makhluk.

  5. Qiyamuhu binafsihi artinya Allah tidak membutuhkan hakikat lain sebagai tempat bergantung dan tidak membutuhkan pencipta. Mustahil Dia membutuhkan selain-Nya.

  6. Wahdaniyah artinya Allah Maha Esa dalam hakikat, sifat, dan perbuatan-Nya. Mustahil ada sekutu bagi-Nya.

  7. Qudrah artinya Allah Mahakuasa. Mustahil Allah lemah.

  8. Iradah artinya Allah memiliki kehendak. Mustahil Allah dipaksa atau tidak memiliki kehendak.

  9. Ilmu artinya Allah Maha Mengetahui. Mustahil Allah tidak mengetahui.

  10. Hayat artinya Allah Maha Hidup. Mustahil Allah mati.

  11. Sama‘ artinya Allah Maha Mendengar. Mustahil Allah tuli.

  12. Basar artinya Allah Maha Melihat. Mustahil Allah buta.

  13. Kalam artinya Allah memiliki sifat kalam. Mustahil Allah bisu.

  14. Kaunuhu Qadiran artinya Allah senantiasa dalam keadaan Mahakuasa. Mustahil Dia dalam keadaan lemah.

  15. Kaunuhu Muridan artinya Allah senantiasa dalam keadaan memiliki kehendak. Mustahil Dia dalam keadaan dipaksa.

  16. Kaunuhu ‘Aliman artinya Allah senantiasa dalam keadaan Maha Mengetahui. Mustahil Dia dalam keadaan tidak mengetahui.

  17. Kaunuhu Hayyan artinya Allah senantiasa dalam keadaan hidup. Mustahil Dia dalam keadaan mati.

  18. Kaunuhu Sami‘an artinya Allah senantiasa dalam keadaan Maha Mendengar. Mustahil Dia dalam keadaan tuli.

  19. Kaunuhu Bashiran artinya Allah senantiasa dalam keadaan Maha Melihat. Mustahil Dia dalam keadaan buta.

  20. Kaunuhu Mutakalliman artinya Allah senantiasa dalam keadaan memiliki sifat kalam. Mustahil Dia dalam keadaan bisu.

Dengan demikian, terdapat 20 sifat wajib dan 20 sifat mustahil bagi Allah. Sementara sifat ke-41 adalah sifat jaiz bagi Allah, yaitu Allah berkuasa melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang secara akal mungkin terjadi.

Sifat-Sifat Para Rasul

Anak juga perlu diajarkan hal yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi para rasul alaihimussalatu wassalam. Jumlahnya ada sembilan hal.

Sifat wajib bagi para rasul

  • Shiddiq artinya selalu benar.

  • Amanah artinya dapat dipercaya.

  • Tabligh artinya menyampaikan seluruh wahyu yang diperintahkan Allah untuk disampaikan.

  • Fathanah artinya cerdas.

Sifat mustahil bagi para rasul

  • Kidzib artinya berdusta.

  • Khianat artinya berkhianat.

  • Kitman artinya menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan Allah untuk mereka sampaikan.

  • Baladah artinya bodoh atau tidak cerdas.

Adapun sifat jaiz bagi para rasul adalah segala hal yang termasuk sifat manusiawi yang tidak mengurangi kedudukan mereka yang mulia, seperti makan, minum, menikah, dan mengalami sakit ringan.

Para rasul alaihimussalatu wassalam adalah manusia yang paling sempurna akal dan ilmunya. Allah mengutus mereka dan menunjukkan kebenaran mereka melalui berbagai mukjihakikat yang nyata. Mereka menyampaikan kepada manusia perintah dan larangan Allah, janji dan ancaman-Nya.

Mengenal Nabi Muhammad

Anak juga harus diajarkan bahwa: Allah mengutus Nabi Muhammad , seorang nabi yang ummi, berkebangsaan Arab, berasal dari Quraisy dan Bani Hasyim, dengan membawa risalah-Nya kepada seluruh makhluk: bangsa Arab dan non-Arab, malaikat, manusia, jin, bahkan seluruh makhluk.

Syariat beliau  menghapus syariat-syariat sebelumnya, dan Allah memberikan keutamaan kepada beliau di atas seluruh makhluk.

Seseorang belum dianggap merealisasikan tauhid dengan ucapan لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ  jika ia tidak menyertakan kesaksian مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ.

Allah mewajibkan seluruh makhluk untuk membenarkan Nabi dalam semua berita yang beliau sampaikan dari Allah, baik berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat.

Anak juga perlu diajarkan bahwa Nabi  dilahirkan di Makkah, berhijrah ke Madinah, dan wafat di Madinah. Beliau memiliki kulit putih yang bercampur kemerah-merahan dan merupakan manusia yang paling sempurna akhlaknya dan kejadiannya.

Selain itu, anak juga perlu diajarkan nasab Nabi dari jalur ayah dan ibu.

Mengenal Anak-Anak Nabi

Sebagian ulama menambahkan bahwa anak-anak Nabi juga perlu dikenalkan, karena mereka adalah orang-orang mulia dari umat ini. Karena itu, seseorang hendaknya tidak mengabaikan untuk mengenal mereka.

Jumlah anak Nabi adalah tujuh orang, terdiri dari tiga laki-laki dan empat perempuan.

Urutan kelahiran mereka adalah:

  1. Al-Qasim, anak pertama Nabi .

  2. Zainab.

  3. Ruqayyah.

  4. Fathimah, (sebagian ulama berpendapat Sayidah Ummu Kultsum lahir lebih dahulu dari Sayidah Fatimah)

  5. Ummu Kultsum.

  6. Abdullah, yang diberi gelar ath-Thayyib dan ath-Thahir.

  7. Ibrahim, putra dari Mariyah al-Qibthiyyah.

Semua anak tersebut berasal dari Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu anha, kecuali Ibrahim yang berasal dari Mariyah al-Qibthiyyah.

Sebagian ulama menyusun nama-nama mereka dalam bentuk syair:

يَا رَبَّنَا بِالْقَاسِمِ ابْنِ مُحَمَّدِ *** فَبِزَيْنَبٍ فَرُقَيَّةٍ فَبِفَاطِمَةَْ
فَبِأُمِّ كُلْثُومٍ فَِعَبْدِ اللهِ ثُمْـ ***مَ بِحَقِّ إِبْرَاهِيمَ نَجِّ نَاظِمَهْ

Wahai Tuhan kami, demi al-Qasim putra Muhammad, kemudian demi Zainab, Ruqayyah, Fathimah, kemudian demi Ummu Kultsum, lalu Abdullah, kemudian demi Ibrahim, selamatkanlah penyusun syair ini.

Demikianlah sebagian ringkasan akidah yang perlu diketahui. Para ulama ilmu tauhid telah menjelaskan dan membahasnya secara khusus.

Karena itu, orang tua wajib mengajarkan hal-hal tersebut kepada anak yang telah mumayyiz, agar ia tumbuh dalam keadaan memiliki keimanan yang sempurna. Dan hanya dengan pertolongan Allah-lah tercapai taufik. RA(*)

*Sumber: Kitab Ianatuth Thalibin, karya Sayid Abu Bakar bin Muhammad al-Syatha al-Dimyathi