Posted on 14 December 2024
Pergi ke masjid merupakan perbuatan utama dan termasuk amalan orang yang bertakwa. Amalan ini adalah bukti keimanan yang Allah ﷻ tampakkan bagi mereka yang beriman. Ada delapan hal utama yang semestinya diniatkan seorang mukmin ketika pergi ke masjid. Dengan demikian ia akan memperoleh keutamaan yang besar dan dan mendapatkan pahala yang agung di akhirat kelak. Karena setiap amal bergantung dengan niatnya. Setiap orang akan memperoleh apa yang ia niatkan. Niat-niat ini disebutkan oleh Imam Abu Thalib Al-Makki dalam kitab Ilmul Qulub dan dinukil oleh Habib Muhammad Sa’ad Alaydrus dalam kitab An-Niyyat dengan beberapa penyesuaian. Berikut ini ringkasan dari delapan alasan tersebut:
1. Bertamu Ke Baitullah
Masjid adalah ‘rumah Allah’ sedangkan manusia adalah hamba Allah. Jika seorang ingin ‘bertemu’ dengan pemilik rumah, maka hendaknya ia berkunjung ke rumahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فِي بَيْتِهِ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ فَهُوَ زَائِرُ اللَّهِ، وَحَقٌّ عَلَى الْمَزُورِ أَنْ يُكْرِمَ الزَّائِرَ
Siapa yang berwudhu di kediamannya, lalu membaguskan wudhunya. Kemudian ia mendatangi masjid, maka ia telah ‘mengunjungi’ Allah. Maka. sudah pasti ‘Yang Dikunjungi’ akan memuliakan tamu yang mengunjunginya. (HR Thabrani)
Jika Anda memiliki kesalahan kepada seseorang, kemudian Anda mengunjungi kediamannya untuk meminta maaf, tentu orang itu akan memuliakan, mendekatkan, dan memaafkan Anda. Ia tidak mungkin bersifat kasar kepada tamunya. Jika itu yang dilakukan oleh manusia, maka bagaimana dengan Allah Yang Maha Mulia di antara yang mulia. Sudah pasti Allah ﷻ akan memuliakan tamu-Nya melebihi semuanya. Maka, sudah semestinya Anda bergegas menuju ‘Rumah’ Allah ﷻ.
Seorang tidak mungkin dapat pergi ke masjid, kecuali karena Taufiq dan Inayah dari Allah. Jika bukan karena Allah ﷻ menghendaki kemuliaan dan kasih sayang, tentu Allah tidak akan memberinya taufiq untuk pergi ke masjid-Nya. Terkait ini terdapat kisah menarik yang dialami oleh Muwaffaq yang zuhud. Ia menuturkan,
Setelah aku berhaji sebanyak enam puluh kali, aku termenung di depan Mizab di Masjidil Haram. Aku berpikir, “Sampai kapan aku selalu datang ke Baitullah? “
Saat itu, mataku dikuasai rasa kantuk, dan aku pun mendengar suara, “Hai Muwaffaq, jika engkau memiliki rumah untuk para tamu, tentu engkau tidak akan mengundang untuk menjadi tamumu kecuali orang yang mencintaimu dan kau cintai.” Lalu aku pun tersadar.
Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma menuturkan bahwa Nabi ﷺ bersabda :
Jika seorang muslim masuk ke dalam masjid, kemudian berkata:
بِسْمِ اللهِ، وَبِاللهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ
Dengan menyebut nama Allah dan dengan Allah. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah. Demikian pula salam dan rahmat Allah.
Maka kedua malaikat penjaganya akan berkata, “Demikian pula, semoga Allah melimpahkan rahmat bagimu. Sungguh engkau telah mengucapkan kalimat terbaik setelah ucapan Lailahaillallah.”
2. Mengadakan Perjanjian Dengan Allah ﷻ
Dengan mengunjungi masjid, Anda telah mengadakan perjanjian dengan Allah ﷻ. Sehingga Anda termasuk ke dalam kalangan orang mulia yang diizinkan memberi syafaat di sisi Allah ﷻ. Salah satu tafsir dari ayat:
يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا
Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (QS Maryam: 87)
Perjanjian yang dimaksud adalah shalat jamaah. Diriwayatkan dari Sahabat Abu Said Al Khudri, bahwa beliau menuturkan,
Suatu saat, Rasulullah ﷺ keluar dan mendapati kami yang berjumlah tujuh orang. Beliau bertanya,
“Tahukah kalian, apakah yang dikatakan Tuhan kalian?”
“Allah dan rasul-Nya yang mengetahui.”
Maka, Rasulullah ﷺ bersabda,
فَإِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ : مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ تَعْظِيمًا لِحَقِّهَا وَرَغْبَةً فِيهَا وَإِيثَارًا لَهَا عَلَى غَيْرِهَا فَلَهُ عِنْدِي عَهْدًا أَلَّا أُعَذِّبَهُ أَبَدًا .
Tuhan kalian berfirman, “Siapa yang bersuci di kediamannya, lalu berjalan untuk melaksanakan shalat karena mengagungkan kedudukan shalat, mencintainya, dan lebih mengutamakannya atas hal lain, maka ia telah mendapatkan perjanjian di sisi-Ku bahwa Aku tidak akan mengazabnya untuk selamanya.”
3. Amalan Yang Membuat Penghuni Surga Menyesal Tidak Memperbanyaknya.
Bejalan ke masjid termasuk amalan yang membuat penghuni surga kelak menyesal karena tidak memperbanyak amalan ini di dunia. Disebutkan dalam sebuat Atsar, bahwa Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma pernah ditanya,
هَلْ يَتَحَسَرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلُوهَا عَلَى شَيْءٍ ؟
Apakah penghuni surga akan menyesali sesuatu?
Beliau menjawab?
لَا يَتَحَسَّرُونَ إِلَّا عَلَى الْغُدُوِّ وَالرَّوَاحِ إِلَى الْمَسْجِدِ، لَيْتَ أَنَّهُمُ ازْدَادُوا مِنْ ذَلِكَ لِأَنَّهُمْ كَسَبَوا دُخُولَ الْجَنَّةَ وَالنَّعِيمَ الْمُقِيمَ
Mereka tidak menyesalkan kecuali atas pergi dan kembali ke masjid. Mereka berangan dapat menambahkan amalan itu, karena dengan itu mereka dapat masuk surga dan kenikmatan yang kekal.
Maka bagi kita yang masih bisa beramal, perbanyaklah pergi ke masjid sebelum datang waktu ketika tidak ada gunanya lagi penyesalan. Inilah amal yang demikian agung sehingga penghuni surga pun menyesalkan karena tidak memperbanyaknya, padahal mereka saat itu berada dalam kenikmatan dan kemuliaan di sisi Allah Yang Maha Raja lagi Maha Agung. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ غَدَا أَوْ رَاحَ إِلَى الْمَسَاجِدِ أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مَنْزِلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
Siapa yang pergi di pagi hari menuju masjid, maka Allah akan menyediakan baginya tempat tinggal di surga setiap kali ia pergi di pagi atau sore hari.
Sebagian orang saleh, apabila kembali dari masjid setelah melakukan Shalat Isya menuju rumahnya selalu berkata,
نَرُوحُ وَنَغْدُو كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ***فَعَمَّا قَرِيبٍ لَا نَرُوحُ وَلَا نَغْدُو
“Saat ini kita masih bisa pergi dan kembali ke masjid setiap siang dan malam. Akan tiba masa ketika kita tidak lagi mampu pergi dan kembali.”
Allah ﷻ berfirman di Malam Miطraj:
يَا مُحَمَّدُ ، هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟
“Hai Muhammad, apakah engkau tahu apa yang diperselisihkan oleh kumpulan malaikat tertinggi?”
Nabi ﷺ menjawab:
قُلْتُ: نَعَمْ ، يَخْتَصِمُونَ فِي الْكَفَّارَاتِ ، وَالدَّرَجَاتِ ، فَالْكَفَّارَاتُ الْمُكْثُ فِي الْمَسَاجِدِ يَعْنِي بَعْدَ الصَّلَوَاتِ ، وَالْمَشْيُ عَلَى الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ ، وَإِسْبَاغُ الْوضُوءِ فِي الْمَكَارِهِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ ، وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ وَمَاتَ بِخَيْرٍ ، وَكَانَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ ، إِذَا صَلَّيْتَ فَقُلْ: " اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِقَوْمٍ فِتْنَةً أَنْ تَقْبِضَنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ ، وَالدَّرَجَاتُ: بَذْلُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ "
Ya, mereka berselisih tentang hal-hal yang menghapus dosa, dan hal-hal yang meninggikan derajat. Hal-hal yang menghapus dosa adalah berdiam di masjid (setelah shalat), melangkahkan telapak kaki menuju shalat jamaah, menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan, serta menunggu shalat setelah melakukan shalat yang lain. Siapa yang melakukan itu, maka ia akan hidup dalam kebaikan dan mati dalam kebaikan. Dosa-dosanya terhapus seperti hari ia dilahirkan ibunya.”
Allah ﷻ kembali berfirman:
يَا مُحَمَّدُ ، إِذَا صَلَّيْتَ فَقُلْ: " اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِقَوْمٍ فِتْنَةً أَنْ تَقْبِضَنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ
Hai Muhammad, apabila engkau telah melakukan shalat, bacalah doa “Wahai Allah, sungguh aku mengharapkan kebaikan-kebaikan, meninggalkan kemunkaran-kemungkaran, mencintai orang-orang miskin. Dan jika engkau menghendaki untuk menurunkan fitnah kepada suatu kaum, maka ambillah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah.”
Lalu Nabi ﷺ melanjutkan:
وَالدَّرَجَاتُ: بَذْلُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
Dan kedudukan-kedudukan diraih dengan memberi makan, menyebarkan salam, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusa tidur lelap. (HR Ahmad)
Dikatakan bahwa jika seseorang keluar dari rumahnya menuju masjid, maka Allah ﷻ akan menjadikan jejak telapak kakinya dari bumi sampai pucuk langit terdekat berada dalam timbangan kebaikan pada Hari Kiamat.
4. Bersegera Menjawab Panggilan Allah
Pergi ke masjid juga adalah bentuk berlomba menuju rumah Allah ﷻ, bersegera menjawab panggilan Allah, dan membuktikan penghambaan kita kepada Allah ﷻ, sehingga kita dapat meraih pahala dan ganjaran yang agung. Sebagian ulama berpendapat mengenai makna firman Allah ﷻ :
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu. (QS Al-Hadid : 21)
Yakni berlomba-lombalah menuju masjid, sebab di dalamnya engkau akan meraih ampunan Tuhan.
Dikatakan , “Jangan menjadi hamba yang buruk, ia tidak sudi mendatangi tuannya kecuali hanya ketika dipanggil saja. Akan tetapi datanglah untuk shalat sebelum dipanggil.”
Umat terburuk adalah yang menunggu iqomah untuk datang menuju shalat, sedangkan umat terbaik adalah yang datang untuk shalat sebelum adzan berkumandang.
Sayidah Aisyah radhiyallahu anha mengatakan, “Nabi ﷺ berbincang bersama kami, melakukan pekerjaan di rumah seperti kami. Tetapi apabila beliau mendengar adzan, beliau segera bangkit seakan tidak pernah mengenal kami, karena sibuk untuk memuliakan shalat.”
Sayidina Ali radhiyallahu anhu mengatakan, “Siapa yang mendengar panggilan shalat ‘Hayya ‘Alas Shalah’ namun ia tidak memenuhi panggilan itu tanpa ada uzur, maka shalatnya tidak diterima.”
Disebutkan bahwa pada Hari Kiamat, mereka yang melaksanakan shalat terbagi menjadi beberapa golongan. Golongan pertama wajahnya bagaikan bintang yang bersinar. Para malaikat bertanya,
“Siapakah kalian?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang yang melaksanakan shalat.”
“Bagaimana kalian melaksanakannya?” Tanya malaikat.
“Ketika kami mendengar adzan, kami segera bersuci dan tidak ada hah lain yang menyibukkan kami selain urusan shalat.” Kata mereka.
“Memang sudah sepantasnya kalian mendapatkan kedudukan seperti ini.” Jawab malaikat.
Lalu datang golongan kedua. Mereka lebih baik dan lebih indah dari golongan sebelumnya. Seakan wajah mereka adalah bulan di malam purnama. Para malaikat bertanya.
“Siapakah kalian?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang yang melaksanakan shalat.”
“Bagaimana kalian melaksanakannya?” Tanya malaikat.
“Kami bersuci untuk shalat sebelum adzan berkumandang.” Kata mereka.
“Memang sudah sepantasnya kalian mendapatkan kedudukan seperti ini.” Jawab malaikat.
Kemudian datang golongan ketiga yang memiliki kedudukan dan keindahan yang melampaui golongan sebelumnya. Wajah mereka bercahaya seakan matahari di waktu pagi. Para malaikat bertanya,
“Wajah kalian lebih indah, kedudukan kalian lebih tinggi, dan cahaya kalian lebih terang. Siapakah kalian?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang yang melaksanakan shalat.”
“Bagaimana kalian melaksanakannya?” Tanya malaikat.
“Kami telah berada di masjid ketika adzan berkumandang.” Kata mereka.
“Memang sudah sepantasnya kalian mendapatkan kedudukan seperti ini.” Jawab malaikat.
Sahabat Abu Umamah rahimahullah menuturkan, “Allah ﷻ memiliki para malaikat yang mengembara di bumi. Mereka membawa panji-panji dan menancapkannya di pintu-pintu masjid. Mereka menulis orang-orang yang masuk ke masjid sesuai dengan kadar kedudukannya, mana yang lebih dahulu datang dan mana yang lebih lambat.” (Bersambung) RA(*)