Pengaruh Maksiat terhadap Keberkahan dalam Menuntut Ilmu

Posted on 02 December 2025



Tidak mungkin seseorang bisa memetik buah-buah ilmu, baik yang paling dasar maupun yang paling tinggi, dalam bidang Islam, iman, ihsan, serta kemanfaatan ilmu untuk kehidupan, selama dirinya masih bergelimang maksiat, kefasikan, dan penyimpangan yang bertentangan dengan syariat yang lurus.

Ilmu seorang penuntut ilmu yang bergelimang maksiat akan terputus dari rahasia agama dan inti keimanan, dan ia hanya akan mendapatkan bentuk luar agama semata, tanpa ruh dan cahayanya. Keadaan ini akan terus menimpa dirinya hingga ia bertaubat, kembali kepada Allah, dan memohon ampunan dengan sebenar-benarnya.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.”(QS As-Syura: 25)

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS Al-Furqan: 70)

Pembagian Maksiat

Sebab-sebab maksiat amatlah banyak. Para ulama membaginya menjadi empat kategori utama:

1. Dosa terbesar dan dosa yang membinasakan

Rasulullah bersabda:

أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَقَوْلُ الزُّورِ

“Dosa terbesar adalah menyekutukan Allah, membunuh jiwa, durhaka kepada kedua orang tua, dan ucapan dusta.” (HR. Al-Bukhari)

Dan Rasulullah bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ – ثَلَاثًا – الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ – أَوْ قَوْلُ الزُّورِ

Rasulullah bersabda:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa paling besar?” Beliau mengulanginya tiga kali.
Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda:“Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian palsu,” atau “ perkataan dusta.” (HR Muslim)

Dan beliau bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa saja itu?”

Beliau menjawab:

الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah (syirik), Sihir, Membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah, Memakan harta riba, Memakan harta anak yatim, Lari dari medan perang, Menuduh wanita beriman yang terjaga kehormatannya dengan tuduhan zina.” (Muttafaq Alaihi)

 

2. Dosa-dosa besar lainnya

Yaitu segala perbuatan yang diancam Allah di dalam Al-Qur’an atau di atas lisan Nabi dengan laknat, diusir dari rahmat Allah, atau ancaman azab yang pedih dan berat.

3. Dosa-dosa kecil dan kesalahan ringan (al-lamam)

Yaitu dosa yang dilarang oleh Allah dalam Al-Qur’an atau melalui sabda Nabi , namun tidak disertai ancaman khusus berupa azab. Allah Ta‘ala berfirman:

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan yang kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.”(QS An-Najm: 32)

(4) Bisikan Hati (Al-Khawaṭir)

Yang dimaksud dengan al-khawaṭir adalah bisikan-bisikan dalam hati, yaitu lintasan pikiran yang muncul tanpa disengaja. Untuk kebanyakan manusia, hal ini dimaafkan dan tidak dihukumi dosa.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku apa yang dibisikkan oleh diri mereka, selama tidak dikerjakan atau diucapkan.”

Dalam riwayat lain:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ

Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama belum dikerjakan atau diucapkan

Namun bagi para wali Allah, bisikan hati seperti ini tetap dianggap sebagai kesalahan yang membutuhkan taubat. Hati mereka tidak rela memikirkan sesuatu kecuali yang selaras dengan kehendak Allah dan kehendak Rasul-Nya .

Para ‘arif billah (hamba yang mencapai ma‘rifat kepada Allah) tidak sampai ke derajat makrifah kecuali setelah menghapus sisa-sisa noda kesalahan sekecil-kecilnya dari hati, untuk mengamalkan firman Allah Ta‘ala:

وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

“Dan tinggalkanlah dosa yang tampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa akan diberi balasan dari apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-An’am: 120)

Syarat Menghapus Bekas Dosa

Pengaruh dosa dalam seluruh tingkatan dan ragamnya tidak akan hilang kecuali dengan menjalani empat hal:

  1. Kembali kepada Allah (taubat sebenar-benarnya)

  2. Tidak mengulangi dosa tersebut

  3. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan

  4. Memohon ampun kepada Allah

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  (٥٣) وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ  (٥٤) وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ  (٥٥) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ  (٥٦) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ  (٥٧) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (٥٨) بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ(٥٩) ﴾

(53) Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari kasih sayang Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (54) Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong. (55) Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. (56) Agar jangan ada seseorang berkata, “Alangkah besarnya penyesalanku atas kelalaianku terhadap (kewajibanku kepada) Allah, dan sesungguhnya aku dahulu benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok (agama). (57) Atau agar jangan ada yang berkata, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa. (58) Atau agar jangan ada yang berkata ketika melihat azab, “Seandainya aku mendapat kesempatan (kembali ke dunia), niscaya aku termasuk orang-orang yang berbuat baik. (59) Bukan demikian! Sungguh, ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu, tetapi engkau mendustakannya, dan kamu menyombongkan diri serta termasuk orang-orang kafir. (QS Az-Zumar: 53-59)

Kita memohon kepada Allah perlindungan dan keselamatan. Aamiin. RA(*)

*Sumber: Mabadius Suluk, karya Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur