Habib Umar bin Hafidz: Menghadang Maghfirah Di Malam Nishfu Syakban

Posted on 02 February 2026


Dalam sebagian ceramahnya, Al-Habib Umar bin Hafidz menjelaskan tentang golongan yang tidak mendapatkan ampunan di Malam Nishfu Sya’ban. Berikut terjemahnya:

Berbagai hadis telah menyampaikan kepada kita bahwa terdapat sekitar enam belas golongan manusia yang terhalang dari ampunan Allah. Mereka adalah orang-orang yang pada malam Nishfu Syakban ini Allah tidak memandang mereka dengan rahmat-Nya, dan tidak pula mengampuni dosa-dosa mereka.

Golongan yang pertama adalah orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik kepada-Nya.

Syirik adalah meyakini adanya sekutu bagi Allah, atau meyakini adanya tuhan lain selain Dia. Padahal tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Mahasuci Allah dalam keagungan-Nya dan Mahatinggi Dia dalam kemuliaan-Nya.

Syirik itulah kezaliman yang paling besar, ia merupakan bentuk kekafiran yang paling buruk, dan jenis dosa yang paling keji. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Bahaya Permusuhan dan Kedengkian dalam Hati

Dan telah digandengkan bersama orang musyrik orang yang menyimpan permusuhan dan kedengkian (al-musyaahin). Yaitu orang yang di dalam hatinya terdapat kebencian dan permusuhan terhadap orang yang mengucapkan: la ilaha illallah.

Sesungguhnya orang yang paling mengenal makna “la ilaha illallah” adalah mereka yang paling memahami kandungannya, dan mereka pula yang paling mengenal keutamaan para pengucap kalimat tauhid tersebut. Maka orang yang menyimpan kedengkian tidak akan diampuni pada malam seperti ini.

Jika seseorang menyimpan kebencian kepada seorang muslim tidak mendapatkan maghfirah di malam ini, maka bagaimana lagi dengan orang yang berangan-angan membunuh seorang muslim? Dan bagaimana pula dengan orang yang merasa gembira atas terbunuhnya seorang muslim?

Barang siapa seorang muslim dibunuh secara zalim, di belahan bumi mana pun, baik di timur maupun di barat,  lalu ada seseorang di tempat yang sangat jauh merelakan dan meridhai pembunuhan tersebut, maka ia menjadi sekutu dalam dosa pembunuhnya.

Membersihkan Hati Menjelang Malam Pengampunan

Karena itu, berhati-hatilah agar engkau tidak tidur di malam ini dalam keadaan hatimu dipenuhi kebencian, jika engkau benar-benar mau mendengar nasihat, jika engkau mau menerima peringatan, dan jika engkau sungguh-sungguh menginginkan kebaikan.

Sesungguhnya musuh Allah dan bala tentaranya telah menyibukkan hati kaum muslimin dengan permusuhan satu sama lain. Sifat ini adalah sifat yang dicela oleh Allah, dibenci oleh-Nya, dan dimurkai-Nya, dan Allah membenci orang-orang yang memilikinya—kita berlindung kepada Allah dari keadaan tersebut.

Allah Menilai Hati, Bukan Penampilan

Maka agungkanlah Allah pada malam ini dengan membersihkan tempat pandangan-Nya, yaitu hati, tempat yang dipandang oleh Rabb pemilik ‘Arsy.

Sesungguhnya Allah tidak memandang karya tulismu, tidak memandang pidatomu, tidak memandang penampilanmu, tidak memandang jumlah pengikutmu, dan tidak pula memandang orang-orang yang bertepuk tangan untukmu.

Namun Allah memandang hatimu. Dia melihat apa yang ada di dalamnya, dan Dia memperlakukanmu sesuai dengan isi hatimu itu. Maka bersihkanlah hatimu karena Allah, dan tidurlah pada malam ini dalam keadaan yang dicintai dan diridhai oleh Allah.

Dosa-Dosa yang Menghalangi Ampunan

Jangan engkau biarkan di dalam rumahmu orang yang memutus silaturahim, karena mereka tidak akan diampuni pada malam ini.

Jangan pula ada anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, karena mereka juga terhalang dari ampunan.

Barang siapa yang hawa nafsunya mendorongnya untuk menyakiti hati ayahnya atau menyedihkan hati ibunya, maka hendaklah ia berjihad melawan dirinya sendiri.  Nabi bersabda:

ففيهنا فجاهد

Maka berjihadlah dalam memperlakukan keduanya.

Barang siapa yang ayah atau ibunya masih hidup, maka keamanan dan surganya adalah dengan berbakti kepada keduanya dan membahagiakan hati mereka.

Dan tidak pula diampuni orang yang memanjangkan pakaiannya karena kesombongan,
tidak pula peminum khamar, dan tidak pula orang yang terus-menerus mengonsumsinya, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Semua ini merupakan akibat dari kelalaian, lemahnya pendidikan, dan rusaknya ikatan nilai yang dahulu dijaga oleh keluarga-keluarga.

Akibatnya, anak-anak sejak kecil dan sejak awal masa muda diseret oleh lingkungan pergaulan menuju narkoba dan perbuatan keji. Sementara seorang ayah mengira anaknya termasuk orang-orang saleh,
rajin ke masjid dan berada di barisan depan, padahal ia termasuk orang-orang yang terjerumus dalam kebinasaan, kita berlindung kepada Allah dari itu semua.

Maka dari malam ini kita mulai bersiap menyambut malam pertama bulan Ramadhan, malam ketika Allah memandang umat Nabi Muhammad .

Barang siapa yang Allah pandang dengan rahmat-Nya pada malam itu, maka ia akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak akan diiringi kesengsaraan selama-lamanya.

Dan pada malam itu, penyeru akan menyeru:

يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

Wahai pencari kebaikan, datanglah. Wahai pencari keburukan, berhentilah.

Demikian cuplikan ceramah beliau semoga memberi manfaat bagi kita semua. Aamiin ya robbal alamiin. RA(*)