Sepuluh Kebiasaan Salaf Baalawi dalam Safar (Bepergian)

Posted on 31 January 2026



Inilah sebagian kebiasaan para salaf shalih dari kalangan Sadah Baalawi radhiyallahu anhum ketika melakukan perjalanan.

 

1. Musyawarah sebelum bepergian dan saling membantu bekal

Al-Habib Alwi bin Shihab rahimahullah mengatakan:

Jika salah seorang dari mereka hendak bepergian, ia terlebih dahulu meminta nasihat kepada para ulama, orang-orang saleh, atau para sesepuh sebelum berangkat dan keluar dari negerinya.

Jika ada di antara mereka yang memiliki harta, maka ia membaginya: masih-masing memberinya yang mereka mampu untuk saling menguatkan agar perjalanan saudaranya menjadi lebih ringan.

Setelah keluar dari kota, biasanya dikumandangkan azan di belakang orang yang bepergian. Dan ketika benar-benar meninggalkan kota asalnya, ia menoleh ke arah kota tersebut sambil menghadapkan wajahnya, meneladani Nabi sebagai bentuk harapan baik agar bisa kembali ke sana. Lalu ia membaca ayat:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ

Sesungguhnya Dzat yang mewajibkan Al-Quran atasmu pasti akan mengembalikanmu ke tempat kembali. (QS. Al-Qashash: 85)

2. Tidak membiarkan anak bepergian jauh sebelum menikah

Masih dari al-Habib Alwi bin Shihab rahimahullah:

Termasuk kebiasaan para salaf, mereka tidak membiarkan anak-anaknya bepergian jauh kecuali setelah menikah dan memiliki keturunan. Tujuannya agar hati tetap terikat kepada anak dan keluarga, karena sebagian orang yang merantau jauh akhirnya tidak kembali lagi kepada anak-anaknya.

3. Shalat atau doa saat tiba di tempat baru

Al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi rahimahullah berkata:

Jika para salaf tiba di suatu negeri yang belum pernah mereka singgahi sebelumnya, mereka melaksanakan shalat dua rakaat. Jika tidak memungkinkan untuk shalat, maka mereka membaca doa yang diajarkan Nabi berikut ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ مَلَائِكَتَكَ، وَحَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu, kepada para malaikat-Mu, para pemikul Arsy-Mu, dan seluruh makhluk-Mu, bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan selain Engkau, tiada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Nabi kami Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.

Masih disebutkan oleh al-Habib Ahmad bin Hasan al-Athas rahimahullah:

Mereka tidak mengqashar shalat kecuali setelah melewati tiga marhalah perjalanan (sekitar 120 km). Adapun menjamak shalat, mereka melakukannya meskipun dalam perjalanan yang pendek.

4. Mengantar tamu sampai ke luar kota

Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Athas rahimahullah mengatakan:

Termasuk kebiasaan para salaf ketika bepergian adalah mengantar tamu hingga keluar kota.

al-Habib Abdul Qadir as-Saqqaf rahimahullah pernah keluar dari Seiyun menuju Syibam hanya untuk mengantar al-Habib Muhammad al-Haddar ketika beliau hendak bepergian dari Hadhramaut menuju al-Baidha atau ke tempat lain.

5. Menyembunyikan rencana perjalanan dan berangkat pagi

Al-Habib Ali bin Hasan al-Athas rahimahullah menyebutkan dalam Al-Athiyyah al-Haniyyah:

وَإِذَا أَرَدْتَ سَفَرًا فَبَكِّرْ بِهِ وَاكْتُمْهُ

“Jika engkau hendak bepergian, berangkatlah pagi-pagi dan rahasiakanlah.”

Mereka menyukai berangkat pada hari Senin dan Kamis, meneladani kebiasaan Nabi .

6. Memperbanyak membaca Surah Quraisy dalam perjalanan

Termasuk kebiasaan para salaf adalah memperbanyak membaca Surah Quraisy selama dalam perjalanan.

7. Menulis ayat pulang tanpa titik

Sebagaimana dilakukan oleh al-Habib Muhammad al-Haddar rahimahullah dan lainnya:

Saat hendak bepergian dan keluar rumah, mereka menuliskan ayat berikut tanpa titik-titik hurufnya, sebagai bentuk optimisme dan harapan bisa kembali:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ

Sesungguhnya Dzat yang mewajibkan Al-Quran atasmu pasti akan mengembalikanmu ke tempat kembali. (QS. Al-Qashash: 85)

8. Membaca dzikir safar secara berjamaah

Para salaf biasa membaca dzikir-dzikir safar yang diajarkan Nabi dan para salaf secara bersama-sama.

Jika mereka berhenti di tengah perjalanan untuk keperluan atau beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan, mereka kembali membaca dzikir-dzikir penting safar seperti Ayat Kursi dan lainnya.

Dzikir-dzikir safar ini telah dihimpun oleh al-Habib Muhammad al-Haddar rahimahullah dalam sebuah risalah berjudul “Jawahir al-Jawahir.”

9. Waktu bepergian sesuai musim

Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Athas rahimahullah berkata:

Jika bepergian di musim panas, berangkatlah pagi-pagi sekali. Jika bepergian di musim dingin, jangan berangkat kecuali setelah waktu siang dan makan terlebih dahulu.

10. Safar dengan nyaman, bukan menyusahkan

Al-Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith rahimahullah berkata:

Lakukan perjalanan dengan tenang dan nyaman, jangan dengan memaksakan diri. Karena dalam hadis Nabi disebutkan:

سِيرُوا بِسَيْرِ ضُعَفَائِكُمْ

“Berjalanlah dengan kecepatan orang-orang yang lemah di antara kalian.”

Demikian sebagian kebiasaan para salaf Baalawi dalam bepergian, semoga kita semua mendapatkan manfaat. Aamiin ya robbal alamiin. RA(*)

Sumber: kitab Adatus Salaf Al Baalawi karya As-Sayid Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Haddar.