Habib Salim As-Syathiri : Keutamaan Malam Nihsfu Syakban

Posted on 02 February 2026



Berikut ini adalah terjemah kajian yang disampaikan oleh Al-Habib Salim bin Abdullah As-Syathiri rahimahullah terkait keutamaan Syakban dan Nishfu Syakban:

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia-lah yang menciptakan manusia dan mengajarkannya kemampuan untuk berbicara dan menjelaskan. Dia pula yang memuliakan kita dengan menjadikan sebagian malam sebagai malam-malam yang penuh keberkahan, dan di antara malam-malam yang diberkahi itu adalah malam pertengahan bulan Sya’ban.

Allah Ta’ala berfirman:

خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ۝ عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ

Dia menciptakan manusia. Dia mengajarkannya pandai berbicara.” (QS Ar-Rahman:  3–4)

Pada malam yang agung ini, kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita dan kalian termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan berupa ampunan dan keridaan-Nya. Kita memohon agar Allah memasukkan kita ke dalam golongan wali-wali-Nya dan para penghuni surga. Kita memohon agar Dia menjaga kita dari kekacauan dan tipu daya setan, memperbaiki seluruh urusan kita, di mana pun kita berada.

Kita panjatkan salawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad , pemimpin seluruh manusia dan jin, putra terbaik dari keturunan Adnan. Semoga pula tercurah salawat dan salam kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baik keikhlasan.

Amma badu.

Di antara nikmat besar Allah atas kita adalah bahwa Dia memanjangkan usia kita hingga kita kembali dipertemukan dengan malam yang penuh berkah ini pada tahun ini, yaitu malam Nishfu Sya’ban.

Betapa banyak manusia yang pada tahun lalu masih bersama kita, di tempat kerja, dalam kehidupan sehari-hari, namun saat tahun ini datang, mereka telah berpindah ke negeri akhirat. Ada yang muda, ada yang paruh baya, dan ada pula yang lanjut usia. Sementara kita, alhamdulillah, masih dipanjangkan umur.

Maka kita memohon kepada Allah agar Dia menambah panjang umur kita dan kalian dalam keadaan sehat dan selamat, serta menjadikan umur itu sarana untuk kebaikan. Sungguh telah diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ ‌مَنْ ‌طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”

Dan Allah tidak menambah usia seorang mukmin melainkan Dia menambahkannya dalam kebaikan.

Ziarah Makam Nabi Hud alaihissalam

Banyak di antara kalian yang datang dari perjalanan ziarah ke makam Nabi Allah Hud, semoga salawat dan salam yang paling utama tercurah kepada Nabi kita dan kepada beliau. Ziarah itu diwariskan oleh para pendahulu kita dari kalangan Al Ba’alawi orang-orang yang telah mencapai puncak dalam ilmu, amal, ketakwaan, dan kezuhudan terhadap dunia, orang-orang yang mengenal sunnah dan bidah, serta mampu membedakan antara kebenaran dan kesalahan dibandingkan kebanyakan manusia lainnya.

Mereka menata tradisi ziarah ini pada bulan Sya’ban dan membukakan pintunya selebar-lebarnya, agar ziarah dapat dilakukan kapan saja dan pada waktu apa pun. Maka segala puji bagi Allah, karena meskipun ada sebagian orang yang menentang dan berusaha melemahkan semangat dari ziarah ini, tidak tampak satu pun pengaruh dari penentangan mereka. Justru ziarah kepada Nabi Allah dari waktu ke waktu semakin bertambah, semakin berkembang, dan semakin semarak, meskipun bertentangan dengan keinginan para penentangnya.

Kebanyakan, bahkan hampir seluruh yang hadir, ikut serta dalam ziarah tersebut. Tidak diragukan lagi, dengan kehadiran kita dalam ziarah agung ini, kita telah menempatkan menghadang nafahat rahmat Allah. Maka hendaklah setiap peziarah dari kalian bertanya kepada dirinya sendiri, membandingkan keadaannya sebelum ziarah dengan keadaannya setelah ziarah.

Jika sebelum ziarah keadaannya biasa-biasa saja atau bahkan lalai, lalu setelah ziarah ia menjadi lebih baik, dahulu ia tidak salat lalu menjadi rajin salat, dahulu ia terjerumus dalam sebagian maksiat lalu ia kembali bertobat kepada Allah, maka itu adalah tanda nyata bahwa ia telah mengambil manfaat dari ziarah tersebut dan memperoleh kebaikan maknawi darinya. Kita memohon kepada Allah agar Dia menambah kebaikan itu.

Namun jika keadaannya setelah ziarah sama saja dengan sebelumnya, atau bahkan lebih buruk, maka hendaklah ia menyadari bahwa dalam ziarahnya terdapat kekeliruan. Ia perlu memperbaikinya agar ziarah itu benar-benar memberi dampak, agar kesalahan-kesalahannya diperbaiki, dan agar tampak pada dirinya bekas, rahasia, cahaya, serta keberkahan dari ziarah tersebut.

Meski demikian, kita diajarkan bahwa dengan karunia Allah yang Maha Besar bahwa orang yang kurang bisa masuk ke dalam keberkahan orang yang sempurna, orang yang buruk bisa masuk ke dalam keberkahan orang yang saleh,  dan orang yang keliru bisa masuk ke dalam keberkahan orang yang benar. Beginilah sifat rahmat Allah, rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

Diriwayatkan bahwa ketika seorang hamba meninggal dunia dan diletakkan di dalam kuburnya, tersingkaplah cela dan aib-aibnya, sehingga ia berkata dengan penuh rasa malu dan kehinaan. Maka tidak ada yang mendengar pengaduannya kecuali Tuhannya. Allah berfirman kepadanya: “Inilah hamba-Ku. Aku telah menutup aibmu di dunia, dan pada hari ini Aku menutupnya untukmu di akhirat.”

Ketika Nabiyallag Harun alaihisaalam wafat, dan Nabi Musa alaihissalam merasakan kesedihan mendalam atas kepergiannya, Allah mewahyukan kepadanya: “Wahai Musa, seandainya penduduk bumi mengetahui betapa besar rahmat-Ku kepada mereka saat mereka masih hidup dan diberi rezeki di atas bumi, maka bagaimana mungkin Aku tidak merahmati mereka ketika mereka telah berada di dalam perut bumi dan menjadi mayat?”

Maka segala puji bagi Allah, karena rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Kita memohon kepada-Nya agar Dia menjadikan kita dan kalian termasuk orang-orang yang memperoleh bagian dari rahmat-Nya, baik rahmat yang khusus maupun rahmat yang umum, rahmat yang dengannya urusan kita menjadi baik, keadaan kita menjadi lurus, orang yang tersesat mendapat petunjuk, dan orang yang berdosa kembali dengan tobat yang tulus.

Keutamaan Bulan Sya’ban : Bulan Rasulullah

Dengan izin Allah Ta’ala, telah diketahui secara luas bahwa malam Nisfu Sya’ban berada pada pertengahan bulan Sya’ban. Allah Ta’ala telah membagi keutamaan bulan-bulan agung ini dengan pembagian yang sarat hikmah: Dia menjadikan keutamaan bulan Rajab di hari pertamanya dan pada sepuluh hari pertamanya, keutamaan bulan Sya’ban pada sepuluh hari pertengahannya, dan keutamaan bulan Ramadan pada sepuluh hari terakhirnya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala secara khusus menganugerahkan kepada bulan Sya’ban berbagai kekhususan dan keistimewaan. Di antaranya, Sya’ban adalah bulan yang dikenal sebagai bulan Nabi . Diriwayatkan dalam sebuah hadis, meskipun para ulama menilai sanadnya lemah, bahwa:

‌رَجَبُ ‌شَهْرُ ‌اللَّهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِي وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي

Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku.

Para ulama tafsir menjelaskan makna penisbatan bulan Sya’ban kepada Rasulullah . Mereka menerangkan bahwa hal itu karena pada bulan Sya’ban Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. al-Ahzab: 56)

Oleh sebab itu, bulan Sya’ban dikenal sebagai bulan memperbanyak shalawat kepada Nabi . Sebagian ulama salaf berkata:

“Rajab adalah bulan istighfar, Sya’ban adalah bulan shalawat atas Nabi , dan Ramadan adalah bulan Al-Quran.”

Para ulama juga membuat permisalan yang indah: perjalanan seorang hamba menuju Rabb-nya melalui kesungguhan beramal di tiga bulan berturut-turut ini. Rajab diumpamakan sebagai bulan menanam, Sya’ban sebagai bulan hembusan angin yang menyuburkan, dan Ramadan sebagai bulan turunnya hujan. Dengan demikian, sudah sepatutnya seorang mukmin memanfaatkan peluang emas pada tiga bulan agung ini sebaik-baiknya.

Keagungan Malam Nisfu Sya’ban

Allah Tabaraka wa Ta’ala juga mengkhususkan bulan Sya’ban dengan berbagai peristiwa dan kenangan keagamaan yang terus berulang setiap tahun, menghubungkan kita dengan jejak kenabian dan masa kerasulan. Bagi seorang mukmin yang beriman kepada Rabb-nya dan Rasul-Nya , maka malam paling agung dan paling utama di bulan Sya’ban adalah malam Nisfu Sya’ban.

Pada malam inilah terjadi berbagai peristiwa besar. Di antaranya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat, adalah peristiwa terbelahnya bulan sebagai mukjizat Rasulullah .

Dalam hadis-hadis sahih disebutkan bahwa kaum Quraisy ingin menantang dan melemahkan Rasulullah . Mereka berkata kepadanya:

“Jika engkau benar-benar Rasulullah, maka jadikanlah bukit Shafa menjadi emas bagi kami, hilangkan gunung-gunung yang menghalangi Makkah, alirkan sungai untuk kami. Jika engkau melakukannya, baru kami akui kau adalah Rasulullah.”

Sebagian kaum musyrikin mengatakan:

“Hai Muhammad, kalau engkau benar Rasulullah tampakkan kepada kami tangga dari langit yang membuktikan kerasulanmu, turunkan dari langit kertas yang menunjukkan bahwa engkau adalah Rasulullah, dan disaksikan oleh para malaikat.”

Ketika permintaan itu disampaikan, Rasulullah memohon kepada Rabb-nya. Allah berfirman kepadanya:

“Wahai Muhammad, jika engkau kehendaki, Aku akan mengabulkan permintaan mereka. Namun jika mereka tetap tidak beriman, Aku akan membinasakan mereka seluruhnya. Dan jika engkau kehendaki, Aku tidak menampakkan hal itu dan Aku bukakan bagi mereka pintu rahmat. Semua yang beriman, dan memeluk Islam Aku akan terima apa adanya.”

Karena luasnya rahmat dan kasih sayang Rasulullah , beliau memilih agar pintu rahmat, beliau memilih agar Allah tidak menampakkan permintaan-perintaan itu, dan agar tetap dibuka bagi mereka. Allah pun menurunkan ayat-ayat-Nya dalam Al-Quran, di antaranya firman Allah Ta’ala:

وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا ۝ أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا۝ أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا ۝  أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَىٰ فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ ۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

“Dan mereka berkata: Kami tidak akan beriman kepadamu hingga engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di celah kebun itu dengan sebaik-baiknya. Atau kamu jatuhkan langit kepada kami berkeping-keping, sebagaimana yang kamu katakan, atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.” Katakanlah: “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Al-Isra: 90–93)

Mukjizat Terbelahnya Bulan

Kemudian, pada bulan Sya’ban, mereka kembali meminta agar Rasulullah membelah bulan. Kali ini, Rasulullah mengabulkan permintaan mereka dengan memohon kepada Allah agar bulan dibelah menjadi dua. Maka pada malam Nisfu Sya’ban, bulan terbelah menjadi dua bagian: satu bagian tampak di tempatnya, dan bagian lainnya tampak di atas Gunung Abi Qubais. Rasulullah bersabda kepada mereka:

“Lihatlah!”

Namun mereka berkata dengan keras kepala:

“Demi Allah, Muhammad telah menjadi penyihir besar. Ia telah menyihir kita wahai penduduk Mekah. Tetapi sihirnya tidak akan sampai ke luar Mekah.”

Mereka lalu bertanya kepada para musafir yang datang ke Mekah, apakah mereka melihat peristiwa bulan terbelah itu. Para musafir tersebut bersaksi bahwa mereka semua menyaksikan kejadian tersebut pada malam itu. Seharusnya, kesaksian ini cukup untuk membuat mereka beriman, tetapi sikap keras kepala dan pembangkangan menghalangi mereka.

Mereka pun berkata:

“Ini adalah sihir yang terus-menerus. Muhammad telah ahli dalam sihir hingga ia bisa menyihir penduduk Mekkah dan semua penghuni bumi.”

Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya dalam Surah al-Qamar:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ ۝ وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

“Telah dekat hari Kiamat dan bulan pun terbelah. Dan jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: Ini adalah sihir yang terus-menerus.” (QS. al-Qamar: 1–2)

Sebagian ilmuwan dan peneliti ruang angkasa yang telah meneliti permukaan bulan menyatakan bahwa bekas peristiwa terbelahnya bulan itu masih dapat ditemukan hingga hari ini, sebagai tanda kekuasaan Allah dan kebenaran mukjizat Rasul-Nya .

Sebagian ulama rahimahullah menuturkan bahwa pernah disebutkan kisah tentang seorang lelaki di negeri Cina. Ia menuliskan sebuah kalimat pada sebongkah batu dengan aksara Cina, yang setelah diterjemahkan berbunyi:

“Aku menulis ini pada malam ketika bulan terbelah menjadi dua, dan aku sendiri tidak mengetahui mengapa peristiwa itu terjadi.”

Peristiwa ini termasuk bukti keagungan Nabi yang mulia . Allah meneguhkan mukjizat beliau tidak hanya di dalam Al-Quran, tetapi juga dalam berbagai catatan sejarah dan riwayat umat manusia di berbagai penjuru dunia.

Perubahan Arah Kiblat

Pada malam yang sama pula terjadi peristiwa besar lainnya: perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Baitullah al-Haram.

Para ulama ahli sirah menjelaskan bahwa sebelum hijrah, Nabi menghadap Baitul Maqdis dalam shalatnya, sementara Kabah saat itu dipenuhi dan dikelilingi berhala-berhala yang telah bergantung di dalamnya selama ratusan tahun. Namun, Rasulullah sangat ingin agar kiblat diarahkan ke Masjidil Haram.

Ketika di Makkah, beliau shalat di antara dua rukun, antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani, sehingga secara posisi beliau masih sejajar dengan Kabah sekaligus menghadap Baitul Maqdis.

Setelah hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi juga menghadap Baitul Maqdis. Maka Rasulullah pun shalat ke arah tersebut. Orang-orang Yahudi pun bergembira dan berkata dengan nada ejekan: “Hari ini Muhammad mengikuti kiblat kami, dan besok ia akan mengikuti agama kami.”

Rasulullah sangat berharap agar Allah mengalihkan kiblat ke Baitullah al-Haram. Beliau menyampaikan keinginannya kepada Jibril, namun Jibril berkata: “Aku hanyalah hamba. Berdoalah kepada Tuhanmu.”

Sejak saat itu, Rasulullah sering menengadahkan pandangan ke langit, memohon kepada Allah agar kiblat dipindahkan ke Masjidil Haram, sehingga kaum Muslimin berbeda dengan kaum Yahudi. Selama kurang lebih enam belas bulan, beliau shalat menghadap Baitul Maqdis. Lalu kiblat pun dipindah ke Masjidil Haram sesuai dengan harapan Nabi .

Aisyah radhiyallahu anha pernah berkata: “Aku tidak melihat Tuhanmu kecuali Dia selalu menyegerakan apa yang engkau kehendaki.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Sungguh, Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya. (QS. al-Baqarah: 144)

Peristiwa perubahan kiblat ini terjadi pada malam di bulan Sya’ban, pada waktu shalat Isya. Orang-orang yang sedang shalat pun berputar arah dari Baitul Maqdis menuju Kabah.

Kaum Yahudi kembali berkata dengan nada sinis: “Aneh benar orang ini. Tidak ada satu perkara pun kecuali ia menyelisihi kami. Jika kiblat pertama itu salah, bagaimana dengan shalat mereka sebelumnya? Dan jika kiblat pertama benar, lalu mengapa dipindah?”

Maka Allah menurunkan firman-Nya:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Orang-orang yang kurang akalnya akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat yang dahulu mereka hadapi?” Katakanlah, “Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. al-Baqarah: 142)

Puasa Di Bulan Sya’ban

Pada bulan Sya’ban pula, Rasulullah memperbanyak puasa melebihi bulan-bulan lainnya. Karena itulah Aisyah radhiyallahu anha berkata, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih:

“Beliau berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.”

Dari sini diketahui bahwa berpuasa di bulan Sya’ban, terlebih lagi pada niashfu Sya’ban, adalah sunnah.

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah bahwa Rasulullah bersabda:

“Apabila datang malam pertengahan Sya’ban, maka bangunlah untuk menghidupkan malamnya dan berpuasalah pada siangnya.”

Tentang malam Nishfu Sya’ban terdapat banyak hadis—di antaranya sahih, hasan, dan dhaif—namun anehnya, pada masa ini muncul orang-orang yang serta-merta mengingkari semua hadis tersebut. Dalam sekejap, orang-orang yang dangkal ilmunya berani meremehkan para ulama besar yang telah mencapai puncak keilmuan.

Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

يا ناطح الجبل العالي ليُكلمه * أشفق لرأسك لا تشفق على الجبل

Wahai engkau yang menanduk gunung yang tinggi untuk merobohkannya, Kasihanilah kepalamu—jangan kau kasihi gunung itu.

Malam Pengampunan Agung dan Golongan yang Terhalang Darinya

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Ahmad bin Hanbal, dan para ulama hadis lainnya, dengan sanad mereka sampai kepada Nabi , bahwa Beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah melihat kepada seluruh penduduk bumi pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh hamba-Nya, kecuali empat golongan: Musyrik, orang yang menyimpan dendam, peminum minuman keras, dan pemutus tali silaturahim .” atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah .

Dan telah pula diriwayatkan dari beliau bahwa malam pertengahan bulan Sya’ban adalah malam dikabulkannya doa, serta disunnahkan untuk menghidupkannya dengan ibadah.

Rasulullah bersabda:

“Ada lima malam yang tidak tertolak doa di dalamnya: malam pertengahan Sya’ban, malam ghadr, malam Tarwiyah, malam Arafah, malam Hari raya.” atau sebagaimana yang beliau sabdakan .

Ibadah Nabi pada Malam Nishfu Sya’ban

Diriwayatkan bahwa Rasulullah pada malam pertengahan Sya’ban melakukan ibadah yang panjang. Dalam hadis yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam karyanya tentang keutamaan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, Sayidah Aisyah radhiyallahu anha menuturkan:

Pada suatu malam, aku tidak mendapati Rasulullah di sisiku, saat itu adalah malam giliranku. Beliau pun berkata, “Maka Aku merasa cemburu. Dan aku menduga bahwa Nabi pergi menemui salah seorang istri beliau”

Namun ketika beliau mencarinya di rumah-rumah para istri Nabi , beliau tidak menemukannya. Beliau terus mencari hingga akhirnya ia mendapati Rasulullah sedang bersujud kepada Rabb-nya, dalam keadaan merendah sepenuhnya, bagaikan pakaian yang telah lusuh karena seringnya dipakai.

Dalam sujudnya, beliau bermunajat dengan doa:

إِلَهِي سَجَد لك سَوَادِي وَخَيَالِي، وَمَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ  قدمي

Ya Allah, kepada-Mu bersujud seluruh keberadaanku dan bayanganku dan kedua kakiku dan segala yang dipikulnya.” sampai akhir doa.

Ketika Rasulullah selesai, beliau bersabda kepada Aisyah:

“Wahai Aisyah, apakah engkau takut Rasulullah dan Allah berbuat zalim kepadamu?”

Lalu beliau menjelaskan:

“Tahukah engkau malam apakah ini? Ini adalah malam pertengahan bulan Sya’ban. Pada malam ini Allah mengampuni dosa hamba-hamba-Nya sebanyak bulu kambing Bani Kalb.”

Dan diriwayatkan pula bahwa Rasulullah mengunjungi pemakaman Baqi pada malam pertengahan Sya’ban, lalu memohonkan ampun bagi kaum mukminin dan mukminat. Beliau mengabarkan bahwa malam ini adalah malam turunnya ampunan Allah, untuk setiap mukmin dan mukminah, kecuali beberapa golongan tertentu.

Golongan yang Terhalang dari Ampunan Di Malam Nishfu Syakban

Dan telah tetap riwayat bahwa Nabi menziarahi Baqi‘ pada malam ini, yaitu malam Nishfu Sya‘ban. Beliau memohonkan ampun bagi kaum mukmin dan mukminat.

Beliau juga mengabarkan, sebagaimana yang sampai kepada kami, bahwa pada malam ini ampunan Allah meliputi seluruh mukmin dan mukminat di dunia, kecuali beberapa golongan tertentu.

Telah datang keterangan bahwa mereka terhalang dari maghfirah pada malam ini. Maka berhati-hatilah dan bersungguh-sungguhlah, wahai orang beriman, jangan sampai engkau termasuk salah satu dari mereka.

Perkara ini telah dinazamkan dalam beberapa bait syair, dan disebutkan bahwa jumlahnya ada empat belas golongan.

فِي نِصْفِ شَعْبَانَ تَعُمُّ الْمَغْفِرَةُ***إِلَّا لِمُشْرِكٍ مُشَاحِنٍ رَافِضَةِ

Pada malam Nishfu Sya‘ban, ampunan Allah meliputi segalanya, kecuali bagi orang musyrik, orang yang menyimpan permusuhan (dengki), dan Rafidhah.

عَشَّارُ قَاطِعٌ وَقَاتِلٌ وَعَاقٌّ*** وَشَارِبٌ نَمَّامُ مَا بَيْنَ الرِّفَاقِ

Pemungut cukai yang zalim, pemutus silaturahim, pembunuh, anak yang durhaka,
peminum khamar, serta pengadu domba di antara orang-orang yang bersahabat.

زَانٍ مُصَوِّرٌ وَبِدْعِيٌّ أَتَى*** وَمَنْ يَسُبُّ الصَّحْبَ عَنْهُمْ فَابْعُدَا

Pezina, pembuat patung, pelaku bid‘ah, dan orang yang mencela para sahabat—maka jauhilah mereka.

Inilah empat belas golongan yang terhalangi dari maghfirah di malam ini. Golongan-golongan ini, walaupun tidak semuanya sama banyak, sebagian sangat marak dijumpai di tengah masyarakat.

Bahaya Memutus Tali Silaturahmi

Di antara yang paling banyak tersebar adalah memutus tali silaturahmi. Pemutus silaturahmi diharamkan dari ampunan pada malam ini, meskipun ia masuk masjid, shalat, dan melakukan berbagai bentuk ibadah.

Maka wahai orang beriman, perbaikilah hubunganmu dengan kerabatmu sebelum malam ini berlalu.

Makna silaturahmi tidak hanya terbatas pada hubungan darah. Karena sesungguhnya:

“Kaum mukmin itu bersaudara.”

Setiap Muslim adalah bagian dari rahim persaudaraan Islam. Barang siapa memutus hubungan, baik dengan kerabat maupun sesama Muslim, dengan meninggalkan kunjungan, tidak mau berbicara, sedekah, bantuan, atau kepedulian tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia termasuk pemutus silaturahmi.

Pemutus silaturahmi adalah terlaknat, dan apabila laknat Allah turun kepada seorang hamba, maka kehancuran akan mengikutinya.

Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman (maknanya):

“Jika Aku ridha kepada seorang hamba, Aku limpahkan kepadanya keberkahan yang tiada berujung. Namun jika Aku murka kepadanya, Aku timpakan laknat-Ku, dan laknat itu dapat menimpa hingga tujuh keturunannya.”

Maka sungguh aneh seseorang yang membiarkan permusuhan dengan kerabat atau sesama Muslim berlangsung bertahun-tahun, bahkan hingga sepuluh atau lima belas tahun, lalu berkata dengan enteng: “Dia sudah terputus dariku di dunia dan akhirat.” Padahal urusan akhirat bukan di tangannya.

Karena itu, sangat dianjurkan pada malam ini agar setiap orang yang bermusuhan segera berdamai, dan siapa pun yang mampu mendamaikan orang-orang yang berselisih hendaknya melakukannya.

Allah Ta’ala berfirman:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. (QS An-Nisa: 114)

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan manusia kecuali pada perintah sedekah, kebaikan, atau mendamaikan hubungan antar manusia.

Seluruh keutamaan bila dikumpulkan, akan kembali kepada dua perkara:

  1. Mengagungkan perintah Allah

  2. Memperbaiki hubungan sesama manusia

Dan seluruh keburukan bila dikumpulkan, akan kembali kepada dua perkara:

  1. Meremehkan perintah Allah

  2. Merusak hubungan antar manusia

Amal orang yang memutus silaturahmi ditolak, tidak diangkat, dan doanya tidak dikabulkan, meskipun ia berdoa di tempat paling mulia.

Rasulullah bersabda bahwa setiap dosa boleh saja ditangguhkan balasannya oleh Allah, kecuali kezaliman dan memutus tali silaturahmi, karena balasannya disegerakan di dunia sebelum di akhirat.

Menghindari Permusuhan

Di antara golongan manusia yang diharamkan dari ampunan Allah pada malam yang agung ini, adalah orang yang di dalam hatinya terdapat syahnah, yakni dendam, kebencian, dan keinginan buruk, terhadap saudaranya sesama Muslim. Oleh karena itu, wajib atas dirimu untuk membersihkan hatimu dari penyakit yang berbahaya ini.

Sesungguhnya syahnah, hasad, dan kebencian apabila bersemayam di dalam hati seorang mukmin, kedudukannya seperti penyakit yang sangat berbahaya, bahkan seperti kanker. Inilah penyakit-penyakit hati, yang tidak bisa diobati di rumah sakit, tidak pula dengan obat-obatan dan pil, melainkan hanya bisa disembuhkan dengan mujahadah, melawan hawa nafsu, mengikuti tuntunan Nabi , memperbanyak istighfar, serta berdoa di akhir malam.

Al-Quran sendiri telah menegaskan bahwa keadaan ini dinamakan penyakit hati. Allah Ta’ala berfirman:

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ

 “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka azab yang pedih, karena mereka berdusta.” (QS. al-Baqarah: 10)

Maka wahai orang yang hatinya dipenuhi syahnah dan kebencian terhadap saudaranya, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, bertobatlah kepada-Nya, dan bersihkanlah hatimu, serta tangisilah keadaan ini sebelum engkau terhalang dari rahmat Allah.

Rasulullah telah memberi petunjuk kepada kita tentang obat-obat yang mulia untuk penyakit hati ini. Beliau bersabda bahwa hati bisa berkarat, sebagaimana besi berkarat, dan pembersihnya adalah istighfar dan dzikir. Para ulama juga menyebutkan bahwa di antara amalan yang memiliki pengaruh besar untuk melembutkan hati dan menghilangkan kekeruhan jiwa adalah membaca beberapa surat tertentu dalam Al-Quran secara rutin.

Disebutkan oleh para ulama, bahwa di antara khasiat sebagian surat Al-Quran, ada tiga surat dalam Al-Quran yang tidak memiliki huruf Kaf, dan itu mencukupi yaitu Al-Ashr, Al-Quraish, dan Al-Falaq. Siapa yang membacanya setiap hari, masing-masing tiga kali pada pagi hari, maka Allah akan melapangkan hatinya. Maka hendaknya orang yang memiliki penyakit di hatinya, berusaha mengobatinya dengan hal ini.

Bahaya Durhaka

Sebagaimana orang yang memiliki syahnah di hatinya terhalang dari ampunan, demikian pula orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya termasuk golongan yang terhalang dari rahmat dan maghfirah Allah. Para ulama menjelaskan bahwa seorang manusia wajib memperlakukan kedua orang tuanya dengan perlakuan yang penuh kelembutan, sedemikian rupa sehingga apabila sikap itu ditampakkan di hadapan orang-orang berakal, niscaya mereka akan menilai bahwa menyakiti orang tua adalah kesalahan besar dan kezaliman yang nyata.

Durhaka kepada orang tua tidak terbatas pada ucapan kasar semata, tetapi juga mencakup sikap-sikap seperti: tidak memenuhi kebutuhan mereka, tidak melayani, tidak menghormati, tidak meminta izin, tidak memuliakan, dan berbagai bentuk pengabaian hak lainnya. Semua ini termasuk pelanggaran terhadap hak-hak orang tua.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra: 23)

Kemudian Allah memerintahkan tawadhu dan kerendahan hati, seraya berfirman:

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. al-Isra: 24)

Berbakti kepada orang tua tidak berhenti ketika mereka wafat. Termasuk bentuk bakti setelah kematian mereka adalah mendoakan, menziarahi kubur mereka, dan menyambung silaturahmi dengan kerabat serta sahabat-sahabat mereka. Oleh karena itu, seyogianya kita senantiasa menziarahi orang tua dan kerabat kita, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Sebagian orang, terutama para perantau, bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman, bepergian dan menetap jauh, namun tidak menziarahi orang tua mereka, hingga jatuh pada bentuk kedurhakaan yang sangat berbahaya. Kebanyakan orang yang durhaka kepada orang tuanya akan gagal dalam urusan agama dan dunianya.

Dikisahkan oleh sebagian ulama dan orang-orang bijak, tentang seseorang yang berpendidikan tinggi dan memiliki banyak ijazah, ia durhaka orang tuanya sehingga orang tuanya berdoa agar ia tidak  berhasil dalam hidupnya. Maka ia pun tidak mendapatkan pekerjaan yang layak, hingga akhirnya hanya bekerja membersihkan alas kaki. Ia berkata kepada orang-orang:

“Aku memiliki banyak sertifikat, aku mampu menyelamatkan kapal dari tenggelam di lautan, aku punya gelar ini dan itu, namun doa buruk orang tuaku telah menimpaku, dan menjadikanku seperti ini.”

Apakah kisah ini tidak cukup untuk membuat kita merenungi kewajiban berbakti kepada ayah dan ibu, terutama ketika mereka telah lanjut usia? Terlebih lagi apabila kedudukan anak di tengah masyarakat lebih tinggi daripada orang tuanya, maka tawadhu menjadi kewajiban yang lebih besar.

Setanyang terlaknat akan menanamkan dalam hati manusia rasa berat dan enggan untuk berkhidmah kepada orang tuanya, terlebih ketika ia merasa lebih tinggi kedudukannya. Namun seorang mukmin wajib melawan bisikan itu, dan semakin merendahkan diri di hadapan ayah dan ibunya.

Oleh karena itu, ingatlah kematian, dan ingatlah bahwa setelah kematian kelak manusia akan menjadi bahan pembicaraan, dikenang dengan apa yang ia lakukan semasa hidupnya.

Hukuman Pezina

Termasuk golongan yang melarikan diri dari rahmat dan ampunan Allah pada malam yang agung ini adalah orang-orang yang melakukan perbuatan keji (al-fawahisy).

Perbuatan keji itu mencakup zina, liwath (homoseksual), pendahulu-pendahuluannya, serta siapa pun yang memudahkan dan menyebarkannya di tengah masyarakat. Pada masa sekarang, keburukan ini semakin meluas. Film-film pornografi telah menjadi sesuatu yang mudah diakses, bahkan oleh orang-orang yang tidak memilikinya secara langsung.

Musibah ini telah menyebar luas, hingga masuk ke dalam telepon genggam. Banyak orang setiap hari menyimpan dan menonton gambar-gambar zina di ponselnya. Ia tetap shalat, tetap masuk masjid, namun di saat yang sama menyimpan keburukan dalam pandangannya dan hatinya.

Termasuk orang lelaki yang berkelakuan seperti wanita, semoga kita semua dijauhkan darinya.  Rasulullah bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan.”

Dan disebutkan pula bahwa api zina akan menyala sebagai siksaan pada hari Kiamat. Bahkan diriwayatkan dari beliau tentang dosa liwath:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

 “Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelakunya dan yang diperlakukan.”

Ini menunjukkan betapa besar dan hinanya dosa tersebut di sisi Allah, bukan perkara ringan yang bisa dianggap sepele oleh zaman.

Pemabuk

Termasuk pula golongan yang terhalang dari ampunan Allah di malam Nishfu Syakbam adalah pemabuk dan pengguna narkoba. Orang yang meminum khamar, Allah mencabut imannya darinya saat ia meminumnya, sebagaimana seseorang menanggalkan pakaiannya. Rasulullah bersabda:

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidak pula seorang peminum khamar meminumnya dalam keadaan beriman.”

Beliau juga menjelaskan bahwa iman dicabut dari peminum khamar, lalu menjadi seperti bayangan yang samar. tidak jelas apakah iman itu akan kembali kepadanya atau tidak. Bahkan disebutkan bahwa shalat peminum khamar tidak diterima selama empat puluh hari, meskipun kewajiban shalatnya tetap berlaku.

Sebagian orang mungkin tidak minum khamar secara langsung, tetapi menyediakan, memproduksi, atau memperdagangkannya. Padahal itu semua adalah bagian dari dosa yang sama, karena membantu maksiat dan menyebarkannya di tengah masyarakat.

Diceritakan sebuah kisah peringatan: Ada seseorang yang mabuk berat hingga tergeletak di tanah. Dalam kondisi hina itu, seekor anjing datang, naudzu billah, menjilat muntahnya, lalu mengencinginya. Orang itu menyangka temannya telah membersihkannya dengan air. Beginilah kehinaan yang diturunkan Allah kepada peminum khamar, bahkan sebelum ia bertemu dengan azab akhirat.

Sebagian orang berdalih, “Kami tidak minum di Makkah, tidak di Madinah, tidak di Tarim. Tapi kalau sedang ke luar negeri atau liburan, bolehlah sedikit.” Ini adalah tipu daya setan. Karena satu kali saja bisa menjadi sebab buruknya suul khatimah.

Disebutkan bahwa ada seseorang yang mengaku: “Aku hanya berzina sekali seumur hidupku. Aku pernah minum khamar karena alasan pengobatan. Aku merasa lebih tinggi dari orang lain.”
Namun kesombongan, maksiat, dan kelalaian itu menjadi sebab kematian dengan akhir yang buruk.

Maka ketahuilah, maksiat meskipun jarang jika dilakukan tanpa taubat yang jujur, dapat menyeret seseorang kepada kehancuran yang tidak ia sangka.

Pembunuh

Demikian pula, termasuk golongan orang-orang yang terhalang dari ampunan Allah pada malam yang agung ini adalah pembunuh, yaitu orang yang membunuh jiwa seorang mukmin tanpa hak.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

 “Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya; Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa: 93)

Ancaman ini tidak hanya berlaku bagi orang yang melakukan pembunuhan secara langsung, tetapi juga siapa pun yang menjadi sebab terjadinya pembunuhan, meskipun hanya dengan satu kata, satu isyarat, atau satu bentuk bantuan. Semua yang berkontribusi dalam hilangnya nyawa seorang mukmin ikut memikul dosa besar ini.

Disebutkan bahwa orang yang terlibat dalam pembunuhan seorang mukmin, kelak akan bertemu Allah dengan tulisan di antara kedua matanya yang menandakan ia telah berputus asa dari rahmat Allah, naudzu billah.

Dalam riwayat disebutkan pula, bahwa orang yang terbunuh secara zalim akan datang pada hari Kiamat, sementara darahnya masih mengucur, lalu ia berkata:

“Wahai Tuhanku, tanyakanlah kepada fulan, mengapa ia membunuhku.”

Para ulama menjelaskan bahwa dalam kasus pembunuhan terdapat tiga hak besar:

  1. Hak Allah,

  2. Hak korban,

  3. Hak ahli waris korban (qishash atau diyat).

Apabila hak-hak ini tidak ditunaikan, maka urusan itu pasti akan dituntut di hadapan Allah, karena Allah tidak akan meninggalkan satu pun hak hamba-Nya tanpa penyelesaian.

Banyak orang menyangka bahwa perkara ini telah berlalu bersama waktu. Padahal, hak-hak darah tidak pernah gugur, dan hari pembalasan pasti datang.

Pembuat Patung

Termasuk pula golongan yang terhalang dari ampunan Allah pada malam ini adalah pembuat patung dan pelaku gambar yang diharamkan. Para ulama menjelaskan bahwa gambar dan patung terbagi menjadi beberapa jenis:

  • Gambar yang dibolehkan, yaitu yang tidak mengandung unsur pengagungan dan tidak menyerupai makhluk bernyawa secara sempurna.

  • Gambar yang diperselisihkan, yaitu gambar dua dimensi makhluk bernyawa.

  • Gambar yang diharamkan secara tegas, yaitu patung dan bentuk tiga dimensi sempurna, yang tidak kurang sedikit pun kecuali tiupan ruh.

Tentang hal ini, Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ، يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

 “Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya pada hari Kiamat adalah para pembuat gambar. Dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan!”

Ini menunjukkan betapa beratnya dosa tersebut, dan bahwa pelakunya termasuk orang-orang yang terhalang dari ampunan Allah pada malam yang penuh rahmat ini.

Golongan Pencaci Sahabat

Termasuk golongan manusia yang terhalang dari rahmat dan ampunan Allah adalah orang yang mencela para sahabat Rasulullah .

Orang yang mencela para sahabat, sejatinya ia sedang mencela manusia-manusia pilihan yang dididik langsung oleh Rasulullah .

Pada zaman sekarang, ada orang-orang yang diuji oleh Allah dengan penyakit ini. Allah menimpakan ujian tersebut kepada mereka karena berpaling dari jalan generasi awal umat ini dan dari orang-orang saleh, serta karena mengabaikan manhaj kaum muslimin yang lurus.

Jalan keselamatan dari penyimpangan ini adalah meninggalkan jalan yang rusak tersebut, lalu menempuh jalan Ahlus Shalih, karena jalan itu selamat dari penyimpangan dan keburukan.

Orang yang mencela para sahabat Rasulullah keadaannya sangat berbahaya, terlebih lagi saat menjelang kematian. Betapa banyak manusia yang mati dalam keadaan su’ul khatimah, disebabkan kebencian mereka kepada para sahabat Rasulullah .

Maka, pemikiran dan konsep yang keliru semacam ini harus diluruskan. Seseorang wajib mengobati dirinya sendiri, dan mencari orang yang mampu membimbingnya, hingga ia benar-benar keluar dari akidah yang rusak dan berbahaya ini.

Rasulullah bersabda:

اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي، لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ

Allah… Allah, (takutlah kalian kepada Allah) dalam memperlakukan para sahabatku. Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (celaan dan permusuhan) sepeninggalku.
Barang siapa mencintai mereka, maka dengan kecintaanku ia mencintai mereka.
Dan barang siapa membenci mereka, maka dengan kebencianku ia membenci mereka.

Dan beliau juga bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

 “Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (sedekah) mereka, bahkan tidak pula setengahnya.”

Al-Imam Ibn Abi ad-Dunya rahimahullah menyebutkan dalam kitab Man Asya Ba‘da al-Maut sebuah kisah yang menggetarkan hati:

Suatu ketika, ada seorang lelaki berjalan di kota Baghdad. Lalu dikatakan kepadanya: “Di rumah yang hampir runtuh ini terdapat seorang lelaki saleh yang fakir. Ia telah meninggal dunia, namun tidak ada sesuatu pun yang bisa digunakan untuk mengurus jenazahnya. Seandainya engkau berkenan membantunya.”

Orang itu pun masuk ke rumah tersebut. Ternyata ia mendapati jenazah itu telah diletakkan di atasnya batu bata, dan seseorang duduk di sisinya.

Tiba-tiba, mayat itu bangkit dalam keadaan hidup, lalu melemparkan batu bata sambil berteriak:

“Api! Api!”

Maka semua bertanya tentang keadaannya, ia pun mengatakan bahwa ia dibawa ke neraka karena mencela Sayidina Abubakar dan Umar, serta sebagian sahabat Rasulullah . Lalu iapun mati kembali.

Kisah ini diriwayatkan sebagai peringatan yang sangat keras, bahwa shalat dan ibadah saja tidak menjamin keselamatan, bila seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah . Sebab, mencaci sahabat Nabi termasuk dosa besar yang menghalangi ampunan Allah, khususnya pada malam yang penuh rahmat ini.

Kezaliman

Termasuk pula golongan yang terhalang dari ampunan Allah pada malam ini adalah orang yang bekerja sebagai asyyar (pemungut pajak zalim), demikian pula orang yang berbuat zalim kepada manusia: menzalimi pegawai, memukul pembantu, memperlakukan manusia dengan kasar, menyakiti orang lain, atau melakukan maksiat yang dampaknya meluas dan merugikan orang banyak.

Sihir

Di antara dosa yang melampaui batas dan sangat berbahaya adalah menyakiti manusia dan menimbulkan mudarat bagi mereka. Termasuk dalam kategori ini adalah sihir, yang pada zaman sekarang telah menyebar luas. Banyak laki-laki dan perempuan yang menjadikan sihir sebagai profesi, padahal ia termasuk dosa besar yang membinasakan.

Rasulullah bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan,” dan beliau menyebutkan di antaranya: sihir.

Al-Quran dengan sangat jelas menegaskan bahaya sihir. Allah Ta’ala berfirman:

وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۝وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

 “Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah. Dan kedua malaikat itu tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, Sesungguhnya kami hanyalah cobaan, sebab itu janganlah kamu kafir.”
(QS. al-Baqarah: 102)

Para ulama menegaskan bahwa orang yang menekuni praktik sihir, dalam banyak kasus, meninggal dalam keadaan suul khatimah. Dikisahkan tentang seorang yang dikenal di tengah masyarakat sebagai orang “saleh”. Orang-orang mengira ia baik karena ia “mengobati” manusia, seolah-olah memberi manfaat, bahkan tampak rajin beribadah.

Namun ternyata ia mengamalkan sihir. Setelah ia wafat, ia berwasiat agar sebuah ruangan tidak boleh dibuka. Ketika ia meninggal dan ruangan itu dibuka oleh anak-anaknya, mereka mendapati benda-benda aneh, tulisan-tulisan, dan praktik-praktik sihir yang ia kerjakan.

Dikisahkan bahwa saat sakaratul maut, ia menangis dengan tangisan yang sangat keras, dan menolak kematian, karena ia tahu bahwa ia akan mati dalam keadaan yang sangat buruk. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ia wafat dalam keadaan keluar dari Islam, naudzu billah.

Semua ini karena ia menyakiti manusia dan merusak kehidupan mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

 Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. al-Ahzab: 58)

Dalam hadis disebutkan pula:

مَنْ آذَى مُسْلِمًا فَقَدْ آذَانِي، وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ

“Barang siapa menyakiti seorang Muslim, sungguh ia telah menyakitiku; dan barang siapa menyakitiku, maka ia telah menyakiti Allah.”

Orang yang menyakiti kaum mukminin, lalu meninggal dunia, dosanya tidak terputus. Karena kejahatan yang ia lakukan terus berlanjut dampaknya, dan mungkin masih menghasilkan manfaat duniawi baginya, sementara dosa itu terus mengalir kepadanya di dalam kubur.

Di antara amalan yang dikenal dapat membatalkan pengaruh sihir adalah istiqamah membaca Surah al-Falaq. Amalan ini dilakukan dengan membaca tiga kali setelah salat Ashar, terus-menerus selama empat puluh satu hari. Amalan ini telah dicoba oleh banyak orang, dan dengan izin Allah, mereka mendapatkan kesembuhan. Maka kita memohon kepada Allah, semoga Dia juga menyembuhkan kita semua.

Masalah-Masalah Umat Islam Kini

Namun, persoalan hidup tidak cukup diselesaikan hanya dengan lisan dan bacaan semata. Sebab bahasa dan ucapan bukanlah segalanya. Ada banyak perkara penting lain yang sering dilalaikan, padahal dampaknya sangat besar. Di antaranya adalah pendidikan anak-anak.

Kita memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak kita, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, dengan pendidikan Islam yang benar. Kita wajib menumbuhkan mereka di atas nilai-nilai agama, dan menjaga anak-anak perempuan kita, serta keluarga kita, agar tetap berada dalam koridor busana dan adab Islami.

Pada masa sekarang, sangat banyak orang yang lalai terhadap anak perempuan dan istri mereka. Mereka membiarkan pakaian yang dikenakan dalam acara-acara pernikahan dan pesta menjadi pakaian yang terbuka, tipis, bahkan nyaris telanjang, tanpa menyadari bahwa hal tersebut bertentangan dengan ajaran Rasulullah .

Padahal Rasulullah telah memperingatkan dengan sabda beliau tentang sekelompok manusia yang akan mendapatkan ancaman besar, beliau bersabda (maknanya):

Akan ada golongan dari umatku yang belum pernah aku lihat sebelumnya: para lelaki yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan para perempuan yang berpakaian namun hakikatnya telanjang,
kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya.

Maka sebagaimana kita menjaga anak-anak kita dari pergaulan yang rusak, kita juga wajib memperhatikan kondisi mereka. Pada hari ini, banyak anak-anak yang dibiarkan seperti kambing tanpa penggembala. Bisa jadi seorang ayah membiarkan anaknya berbuat sesuka hati, padahal setiap orang bertanggung jawab atas dirinya dan keluarganya.

Termasuk kewajiban besar kita adalah menjaga salat pada waktunya dan menunaikan zakat. Seluruh hasil panen yang dizakati setelah dipanen, apabila tidak dikeluarkan zakatnya, maka pemiliknya dianggap menghalangi zakat, dan setiap harta yang tidak dizakati akan menjadi sebab azab bagi pemiliknya.

Demikian pula, masyarakat seharusnya saling bekerja sama dalam menjaga lingkungan negeri mereka. Jalan-jalan umum kini dipenuhi sampah, bau busuk menyebar ke mana-mana, mengganggu para tetangga.

Seandainya Nabi berada di tengah-tengah kita, tentu beliau akan mengajak untuk bersama-sama menjaga kebersihan negeri dan jalan-jalan, namun kelalaian dan ketidakpedulianlah yang menyebabkan kondisi ini.

Selain itu, termasuk kewajiban kita adalah menghadiri majelis-majelis ilmu dan kebaikan. Kita bersyukur kepada Allah, kota Tarim, semoga Allah menjaganya, dipenuhi dengan majelis ilmu sepanjang pekan, pagi dan sore. Namun ironisnya, sebagian penduduknya justru berpaling dari majelis-majelis tersebut, sementara orang-orang asing datang dari jauh untuk mengambil berkah ilmu, sedangkan sebagian penduduknya sendiri jarang hadir kecuali pada momen tertentu.

Banyak orang lebih mengenal lapangan sepak bola daripada majelis ilmu. Padahal, keberkahan, kebaikan, dan cahaya itu tidak akan pernah didapatkan dari kelalaian.

Maka pada malam ini, kembalilah kepada Allah dengan tobat yang tulus (taubat nasuha). Bukalah lembaran baru sejak sekarang untuk masa depanmu. Jangan terus-menerus menunda tobat hingga maut datang secara tiba-tiba. Janganlah engkau keluar dari malam ini kecuali telah mengikat perjanjian tobat antara dirimu dan Allah.

Karena jika engkau hanya mendengar nasihat dan peringatan namun tidak mengamalkannya, maka nasihat itu akan menjadi hujah yang memberatkan dirimu. Allah Ta’ala berfirman:

يَسْمَعُ آيَاتِ ٱللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًۭا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَاۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, kemudian dia tetap berpaling dengan menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembira kepadanya dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Jatsiyah: 8)

Selain itu, kita juga wajib menjauhi muamalah-muamalah yang tidak sah, seperti riba, penipuan, praktik curang dalam usaha, dan berbagai bentuk maksiat lainnya.

Waktu tidak cukup untuk menyebutkan semuanya. Maka kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi taufik kepada kita semua dalam kebaikan, mengembalikan malam yang penuh berkah ini kepada kita dalam tahun-tahun yang panjang, mempertemukan kita dengan Ramadan, membantu kita dalam puasa dan qiyam, dan menjadikannya saksi kebaikan bagi kita, bukan saksi keburukan atas kita.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menjaga seluruh negeri-negeri kaum muslimin, secara umum, dan Hadramaut secara khusus, bahkan secara lebih khusus lagi.  Semoga Allah melindunginya dari para musuh, menjaga negeri-negeri ini dari ledakan, dari gempa bumi, dari segala bentuk kejahatan, dan dari setiap orang yang berniat jahat terhadap negeri ini, terhadap negeri mana pun, atau terhadap siapa saja dari kaum muslimin.

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan makar mereka kembali menimpa diri mereka sendiri, menjadikan rencana mereka sebagai sebab kehancuran mereka, dan mengembalikan tipu daya mereka kepada mereka sendiri.

Semoga Allah menjaga kita semua dengan pengawasan-Nya yang tidak pernah tidur, dan mencukupi kita dengan perlindungan-Nya yang tidak mungkin ditembus. Kita juga memohon kepada Allah agar memanjangkan usia kita dan usia kalian dalam amal saleh, sehingga kita dapat menjumpai bilangan hari Ramadan dan bulan Sya’ban dalam keadaan kebaikan dan kesehatan, insya Allah.

Kita memohon kepada-Nya agar setelah umur yang panjang, Allah menganugerahkan kepada kita dan kepada kalian husnul khatimah dalam keadaan afiat, dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang diberi taufik untuk berbagai kebaikan.

Semoga Allah memberi kita dan kalian taufik pada malam ini untuk menghidupkannya dengan ketaatan dan ibadah, seluruhnya atau sebagian darinya, sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.

Demikian kajian beliau tentang Nishfu Sya’ban dengan sedikit ringkasan, semoga bermanfaat bagi kita semua. RA

(*)