Pengaruh Ketaatan dalam Menuntut Ilmu

Posted on 03 December 2025



Sebagaimana maksiat dan kefasikan memberikan pengaruh buruk terhadap keselamatan agama, integritas, dan amanah seorang penuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan, demikian pula ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya menimbulkan pengaruh yang sangat besar bagi mereka yang menempuh jalan ilmu. Ketaatan akan memancarkan cahaya pada ilmu dan amal, sehingga penuntut ilmu yang taat, khusyuk, dan senantiasa kembali kepada Allah akan terus meningkat dalam al-fath ar-rabbani (penyingkapan ilahiyah), melalui dua bentuk ilmu berikut:

1. Ilmu yang diperoleh melalui usaha (العِلْمُ المُكْتَسَبُ)

Ilmu yang diraih melalui belajar, menelaah, mengkaji, dan menguasai kaidah-kaidah keilmuan. Pada bagian ini, penuntut ilmu yang taat maupun yang bermaksiat dapat sama-sama meraihnya melalui proses belajar.

2. Ilmu karunia ilahi (العِلْمُ اللَّدُنِّيّ المَوْهُوبُ)

Ilmu yang dianugerahkan oleh Allah kepada seorang murid/penuntut ilmu sebagai hasil penerapan ilmu syar‘i dengan empat rukunnya, dilakukan secara bertahap dan penuh kesungguhan, hingga akhirnya ia mendapatkan fatḥ rabbani ladunni sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta‘ala:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah akan mengajarkan kepadamu.” (QS Al-Baqarah: 282)

Dan firman-Nya:

وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

“Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)

Ilmu jenis ini tidak akan diraih dengan melakukan maksiat dan kefasikan, melainkan dengan ketaatan, ibadah, kesungguhan bertadabbur, dan memikirkan ciptaan Allah serta berbagai nikmat-Nya.

Imam As-Syafi‘i pernah berkata dalam syairnya yang masyhur:

شَكَـوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي***فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُــورٌ *** وَنُــورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku mengadu kepada Waki‘ tentang buruknya hafalanku, maka ia menuntunku agar meninggalkan maksiat.
Ia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya,
dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Imam Al-Ghazali dalam Bidayah al-Hidayah berkata:

“Ketahuilah, engkau bermaksiat kepada Allah dengan anggota tubuhmu, sementara anggota-anggota tubuh itu adalah nikmat Allah kepadamu, dan merupakan amanah yang Dia titipkan padamu. Maka menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya adalah puncak kekufuran nikmat; dan berkhianat terhadap amanah yang Allah titipkan padamu adalah puncak kedurhakaan. Anggota tubuhmu adalah rakyatmu; maka perhatikan bagaimana engkau memeliharanya.”

Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Muttafaq Alaihi). RA(*)

*Sumber: Mabadius Suluk, karya Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur