Jalan Hidayah melalui Syariat, Thariqah, dan Hakikat

Posted on 27 January 2026


Hidayah adalah perjalanan menuju Allah , buah dari ilmu yang diamalkan. Ia memiliki awal (syariat), jalan (thariqah), dan akhir (hakikat). Para ulama sufi menjelaskan bahwa ketiganya saling berkaitan, tidak bisa dipisahkan. Syariat adalah zahir, hakikat adalah batin; keduanya bagaikan kulit dan isi, kapal dan lautan, atau kelapa dengan daging dan minyaknya.

Makna Syariat, Thariqah, dan Hakikat

Syariat adalah hukum-hukum Allah yang disampaikan Rasulullah berupa kewajiban, sunnah, larangan, makruh, dan mubah.

Thariqah adalah pengamalan syariat dengan kesungguhan, meninggalkan larangan, mengurangi hal-hal mubah yang berlebihan, serta melatih diri dengan ibadah, lapar, bangun malam, dan banyak diam tidak mengatakan hal yang tidak ada faedahnya.

Hakikat adalah pemahaman mendalam tentang rahasia nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, hakikat diri, rahasia Al-Qur’an, serta ilmu ladunni yang Allah berikan langsung kepada hati hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا

Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah).” (QS. Al-Anfal: 29)

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

Bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarmu. (QS. Al-Baqarah: 282)

Imam Malik berkata: “Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.”

Para ulama memberi perumpamaan: Syariat bagaikan kapal, thariqah bagaikan lautan, dan hakikat bagaikan mutiara. Mutiara hanya bisa diperoleh dari lautan, dan lautan hanya bisa dicapai dengan kapal.

Ada pula yang mengumpamakannya dengan buah kelapa. Syariat adalah kulit luar, thariqah adalah daging buahnya, sedangkan hakikatnya adalah minyak kelapa yang tersimpan dalam daging buah itu. Minyak kelapa tidak bisa diperoleh kecuali dengan menghancurkan daging, dan daging tidak bisa dicapai kecuali dengan menembus kulit.

Ibadah, Ubudiyyah, dan Ubudah

Ibadah memiliki beberapa tingkatan. Imam AbuAli ad-Daqqaq menjelaskan:

·       Ibadah: untuk orang awam, berupa pelaksanaan syariat.

·       Ubudiyyah: untuk orang khusus, berupa kerelaan hati terhadap ketentuan Allah.

·       Ubudah: untuk golongan khusus dari yang khusus, berupa ma’rifatullah dan penyaksian hakikat.

Syekh Islam menambahkan:

·       Orang sabar atas taklif Allah berada di maqam ibadah.

·       Orang ridha dengan ketentuan Allah berada di maqam ubudiyyah.

·       Orang ‘arif berada di maqam ubudah.

Tidak ada jalan menuju hakikat tanpa melewati syariat. Tidak ada pencapaian batin tanpa kesungguhan dalam zahir. Hidayah dimulai dari ilmu, dilanjutkan dengan amal, dan berakhir dengan ma’rifat.

Singkatnya: awali dengan syariat, jalani thariqah dengan kesungguhan, dan semoga Allah membukakan hakikat sebagai buah dari keduanya.RA(*)