Posted on 29 January 2026
Al-Habib Umar bin Abdurahman Al-Bar rahimahullah ta’ala dalam kitabnya Washaya Al-Ashab wa Hadaya Al-Ahbab memberikan banyak nasihat berharga yang patut untuk diperhatikan. Terutama di zaman yang penuh kerancuan ini. Di antara nasihat pertama beliau adalah tentang anjuran menuntut ilmu. Berikut terjemah dari nasihat beliau:
Pentingnya Menuntut Ilmu Yang bermanfaat
kepadamu agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, karena ilmu itu menambah kemuliaan bagi orang mulia, dan mengangkat seorang hamba dari kedudukan rendah menuju derajat para raja. Seandainya tidak ada dalil tentang keutamaan ilmu yang bermanfaat selain sabda Rasulullah ﷺ berikut ini, niscaya hal itu sudah mencukupi. Rasulullah ﷺ bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْكُمْ، وَكفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ نَوْمَ الْعَالِمِ عِبَادَةٌ، وَنَفَسَهُ تَسْبِيحٌ
“Keutamaan orang berilmu dibandingkan ahli ibadah adalah seperti keutamaanku dibandingkan orang yang paling rendah di antara kalian, dan seperti keutamaan bulan purnama dibandingkan seluruh bintang. Bahkan tidurnya orang berilmu bernilai ibadah, dan napasnya adalah tasbih.”
Jalan Ilmu Bagi yang Waktunya Terbatas
Apabila waktumu tidak cukup luas untuk menelaah berbagai cabang ilmu, maka hendaklah engkau mencurahkan perhatian untuk memahami kitab Mukhtashar (Muqadimah Hadramiyah) karya Syaikh al-Allamah Abdullah bin al-Hajj Bafadhal, serta kitab Bidayat al-Hidayah (karya Imam Ghazali).
Perbanyaklah membacanya, mentadabburinya, membacanya dengan tartil, memahami isinya, dan sering meneliti bagian-bagian yang samar maknanya.
Amalkanlah kandungannya, karena sebagian ulama mengatakan bahwa siapa yang mempelajarinya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, maka ia termasuk golongan orang-orang yang mendalam ilmunya.
Syaikh al-Quthb Abdullah Alaydrus, semoga Allah memberi manfaat melalui
beliau, berkata: “Dalam Bidayat al-Hidayah terdapat inti sari al-Kitab dan
as-Sunnah.”
Maka pahamilah hal ini dengan baik.
Cintai Sunah Dan Jauhi Bid’ah
Hendaklah engkau mencintai sunnah dan para pengikutnya, setia kepada mereka, serta menjauhi bid‘ah dan para pelakunya. Jangan menjalin kedekatan dengan mereka dan jangan pula bermusyawarah dalam urusan agama bersama mereka. Bersikaplah dengan akhlak yang baik terhadap orang-orang yang terpaksa engkau dampingi dari kalangan mereka. Jangan terlalu banyak membicarakan bid‘ah dan syubhat-syubhatnya, karena sebagian imam, semoga Allah meridhai mereka, bahkan menolak kesaksian orang yang gemar terjun dalam pembahasan semacam ini.
Cukuplah bagimu dalam perkara itu ucapan: “Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir, baik dan buruknya.”
Kecintaan kepada Para Sahabat Nabi
Adapun dalam mencintai para sahabat, cukuplah bagimu firman Allah ﷻ:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka. (QS. al-Fath: 29)
Dan firman-Nya:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Mujadilah: 22). RA(*)