Keindahan Akhlak dan Keluhuran Budi Pekerti Rasulullah ﷺ

Posted on 31 August 2026



Allah menegaskan keagungan dan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad di dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam:  4)

Rasulullah merupakan puncak kesempurnaan akhlak dan teladan utama bagi seluruh umat manusia. Seluruh gerak-gerik, ucapan, dan kebiasaan beliau memancarkan kerendahan hati dan kasih sayang. Berikut adalah gambaran keluhuran akhlak Rasulullah yang patut dijadikan teladan hidup:

1. Keagungan Sifat dan Kesucian Diri

Nabi Muhammad adalah orang yang paling santun, paling berani, paling adil, dan paling mampu menjaga kesucian dirinya. Tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan wanita yang bukan miliknya (budak), bukan istrinya, dan bukan pula mahramnya. Beliau juga orang yang paling dermawan; tidak pernah sepeser pun dinar atau dirham menginap di rumahnya (selalu disedekahkan).

2. Kesederhanaan di Dalam Rumah

Di lingkungan keluarganya, Rasulullah senantiasa menunjukkan kerendahan hati:

·       Beliau menjahit sandalnya sendiri dan menambal pakaian yang rusak.

·       Beliau ikut membantu pekerjaan rumah tangga istrinya serta memotong daging bersama mereka.

·       Beliau memberi makan hewan ternaknya, mengikat untanya, menyapu rumah, serta memerah susu kambing.

·       Beliau makan bersama khadamnya (pelayan) dan ikut menumbuk gandum bersamanya apabila khadamnya merasa kelelahan.

3. Kelembutan Sikap dan Kesabaran

Rasulullah bukanlah sosok yang kasar, berhati keras, ataupun suka berteriak-teriak di keramaian. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan senantiasa memaafkan dan mengampuni.

Beliau tidak pernah mencela tempat tidur:

  • Jika disediakan alas/kasur, beliau berbaring di atasnya.

  • Jika tidak ada alas, beliau berbaring langsung di atas tanah.

Apabila seseorang memegang tangan beliau, Rasulullah tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu sebelum orang tersebut yang melepaskan pegangannya. Ketika bertemu sahabatnya, beliau selalu mendahului mengucapkan salam dan berjabat tangan.

4. Zikir dan sikap dalam Majelis

Rasulullah tidak pernah berdiri maupun duduk melainkan senantiasa berzikir kepada Allah .

Apabila beliau sedang shalat dan ada orang lain yang duduk mendekatinya karena suatu keperluan, beliau akan meringankan (mempercepat) shalatnya, lalu berbalik menghadap orang tersebut dan bertanya:

أَلَك حَاجَةٌ؟

"Apakah engkau memiliki suatu keperluan?"

Setelah menyelesaikan urusan orang tersebut, beliau kembali melanjutkan shalatnya.

Majelis (tempat duduk) Rasulullah tidak tampak berbeda dari majelis para sahabatnya. Beliau akan duduk di mana pun tempat yang masih kosong. Sebagian besar duduk beliau menghadap ke arah kiblat. Beliau membagi perhatiannya secara adil kepada setiap orang yang duduk di majelisnya, sehingga setiap orang merasa menjadi sosok yang paling dimuliakan.

5. Memuliakan Tamu dan Kedermawanan

Apabila ada tamu yang berkunjung, beliau memuliakannya hingga terkadang menggelarkan pakaiannya sendiri untuk dijadikan alas duduk sang tamu, atau memberikannya bantal alas duduknya. Jika tamu tersebut menolak, beliau bersumpah meminta agar tamu tersebut mau menerimanya.

Beliau tidak memiliki pakaian khusus untuk di dalam rumah dan pakaian khusus untuk keluar rumah. Beliau juga tidak pernah meremehkan makanan dari undangan yang diterimanya, meskipun hanya disuguhkan حَشَفَ الدَّقَل (Kurma kering berkualitas rendah).

Rasulullah senantiasa berwajah ceria, banyak tersenyum tanpa tertawa terbahak-bahak, memiliki rasa sedih (atas urusan akhirat) tanpa cemberut, tegas tanpa kekerasan, bertawaduk tanpa merendahkan diri, dan dermawan tanpa berlebih-lebihan.

Beliau menerima hadiah—meskipun hanya berupa seteguk susu atau paha kelinci—dan membalas hadiah tersebut. Beliau memakan hadiah, namun tidak memakan sedekah.

6. Ketegasan dalam Kebenaran

Rasulullah marah hanya karena Allah , bukan karena kepentingan dirinya sendiri. Beliau selalu menegakkan kebenaran meskipun membawa risiko kesulitan bagi diri maupun para sahabatnya.

Beliau menghadiri undangan walimah, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, serta menjadi orang yang paling tawaduk dan tenang tanpa ada kesombongan sedikit pun. Tidak ada satu pun perkara dunia yang mampu menakut-nakuti beliau. Beliau mengenakan pakaian halal apa saja yang beliau temukan. Beliau biasa membonceng hamba sahaya atau orang lain di belakangnya pada hewan tunggangannya (kuda, unta, bagal, maupun keledai).

7. Pengasuhan Anak dan Memanggil dengan Gelar Kehormatan (Kunyah)

Rasulullah biasa memanggil para sahabatnya dengan nama kunyah (julukan penghormatan, seperti "Abu..." atau "Umm..."). Beliau juga memberikan kunyah kepada para wanita berdasarkan nama anak-anak mereka. Bagi orang yang belum memiliki anak, beliau memberi mereka kunyah baru sejak awal.

Bahkan, beliau juga memberikan kunyah kepada anak-anak kecil sebagai bentuk pemuliaan dan untuk memikat serta melembutkan hati mereka. Sebagian ulama berkata:

بَادِرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالْكُنَى قَبْلَ أَنْ تَغْلِبَ عَلَيْهِمُ الأَلْقَابُ

"Segeralah berikan nama kunyah (julukan terpuji) kepada anak-anakmu sebelum mereka didahului oleh julukan-julukan buruk (panggilan ejekan)."

8. Puncak Kebaikan dan Kerendahan Hati

Rasulullah adalah orang yang paling sulit dibuat marah, namun paling cepat mereda marahnya, paling pengasih terhadap sesama, paling baik bagi manusia, dan paling bermanfaat bagi manusia.

Apabila memberi nasehat, beliau menyampaikannya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan. Beliau sangat banyak tersenyum di hadapan para sahabatnya.

9. Doa Penutup Majelis

Apabila beliau berdiri untuk bangkit dari tempat duduknya (majelis), beliau senantiasa membaca doa:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

"Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan bertobat kepada-Mu."

10. Keberpasrahan dan Doa Memohon Petunjuk

Apabila suatu masalah menimpa, beliau menyerahkan sepenuhnya kepada Allah , berlepas diri dari daya dan kekuatan sendiri, serta memohon ditimbulkannya petunjuk (hidayah) dengan berdoa:

اللَّهُمَّ أَرِنِي الْحَقَّ حَقًّا فَأَتَّبِعَهُ ، وَأَرِنِي الْمُنْكَرَ مُنْكَرًا وَارْزُقْنِي اجْتِنَابَهُ ، وَأَعِذْنِي مِنْ أَنْ يَشْتَبِهَ عَلَيَّ فَأَتَّبِعَ هَوَايَ بِغَيْرِ هُدًى مِنْكَ ، وَاجْعَلْ هَوَايَ تَبَعًا لِطَاعَتِكَ

"Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku kebenaran itu sebagai kebenaran lalu berilah aku rezeki untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kemungkaran itu sebagai kemungkaran lalu berilah aku rezeki untuk menjauhinya. Lindungilah aku dari tersamarnya perkara bagiku sehingga aku mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari-Mu, dan jadikanlah hawa nafsuku senantiasa mengikuti ketaatan kepada-Mu."

11. Adab dan Cara Bicara Majelis Rasulullah

Suara tidak pernah ditinggikan di majelis beliau. Apabila beliau berbicara, orang-orang yang duduk bersamanya tertunduk diam (khusyuk). Tidak ada pembicaraan yang diperebutkan atau saling memotong di hadapan beliau.

Beliau berbicara dengan Jawami'ul Kalim, Yaitu perkataan yang lafalnya ringkas namun padat akan makna yang luas, atau Al-Qur'an al-Karim yang mengumpulkan makna sangat banyak dalam lafal yang ringkas.

Ucapan beliau tidak berlebihan dan tidak pula kurang, dapat dihafal dan dipahami dengan mudah oleh pendengarnya. Beliau banyak diam dan tidak berbicara kecuali untuk keperluan. Beliau tidak pernah mengucapkan perkataan yang mungkar, dan dalam keadaan ridha maupun marah beliau tidak berkata melainkan kebenaran. Beliau berpaling dari orang yang berbicara tidak santun.

12. Pakaian Rasulullah

Pakaian Rasulullah selalu terangkat di atas kedua mata kaki, sedangkan sarungnya (izar) berada di atas itu hingga pertengahan betis. Apabila mengenakan pakaian, beliau mendahulukan bagian kanan dan berdoa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي مَا أُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي ، وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي النَّاسِ

"Segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian untuk menutup auratku dan untuk menghias diri di tengah masyarakat."

13. Kesimpulan Sifat Agung Rasulullah

Rasulullah adalah orang yang paling dermawan tangannya, paling lapang dadanya, paling jujur ucapannya, paling menepati janji, paling lembut tabiat/kelakuannya (alyanuhum 'arikah), dan paling mulia pergaulannya. Siapa pun yang melihatnya secara tiba-tiba akan merasa segan/wibawa kepadanya. Siapa pun yang bergaul dan berinteraksi bersamanya akan mencintainya.

Jika beliau marah, beliau tidak marah melainkan karena Allah, dan tidak ada sesuatu pun yang mampu berdiri menahan kemarahannya demi membela kebenaran Allah. Tidak ada seorang pun—baik sahabatnya maupun orang lain—yang memanggilnya melainkan beliau senantiasa menjawab:

لَبَّيْكَ

"Aku penuhi panggilanmu / Aku siap melayanimu."

Sifat-sifat agung ini menegaskan kesempurnaan akhlak Nabi Muhammad sebagai Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta alam) yang patut kita jadikan pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.RA(*)

*Sumber: Khulashat Fis Sirah Nabawiyah, Rubath Al-Haddar