Keutamaan Menggidupkan Malam Lailatul Qadar

Posted on 09 March 2026



Allah  berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.” (QS Al-Qadar: 1)

Malam ini dinamakan Lailatul Qadar, yaitu malam kemuliaan, atau malam di mana ditetapkan berbagai ketentuan besar (takdir). Malam ini lebih baik daripada seribu bulan, bukan sekadar lebih baik dari seribu malam yang semisal dengannya, bahkan lebih baik dari tiga puluh ribu malam. Malam tersebut penuh dengan keselamatan, baik karena banyaknya keselamatan yang Allah turunkan, maupun karena pada malam itu manusia diselamatkan dari berbagai bencana dan keburukan. Karena itu, ia adalah malam yang membawa keberuntungan dan waktu yang penuh kebahagiaan.

Allah  juga berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah.(QS Ad-Dukhan: 3)

Menurut pendapat yang paling kuat, malam yang dimaksud adalah Lailatul Qadar. Ada pula yang berpendapat bahwa itu adalah malam pertengahan bulan Sya‘ban.

Keutamaan Menghidupkan Lailatul Qadar

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Di antara malam yang paling diharapkan menjadi Lailatul Qadar adalah tujuh malam terakhir Ramadhan, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Sahabat Ibnu Umar. Bahkan menurut riwayat dari Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, seluruh sepuluh malam terakhir memiliki kemungkinan menjadi Lailatul Qadar.

Namun malam yang paling diharapkan adalah malam-malam ganjil, sebagaimana disebutkan dalam hadis Sayidah Aisyah dalam Shahih al-Bukhari. Sebagian ulama juga mengatakan bahwa Lailatul Qadar dapat terjadi pada setiap malam dari sepuluh malam terakhir, tetapi malam ganjil lebih besar harapannya.

Keutamaan Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam terbaik sepanjang tahun. Malam ini merupakan keistimewaan khusus bagi umat Nabi Muhammad , dan tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Dalam Shahih Ibnu Hibban, diriwayatkan dari Sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia bertanya kepada Rasulullah :

“Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang Lailatul Qadar. Apakah ia hanya ada pada masa para nabi ketika wahyu turun kepada mereka, lalu ketika mereka wafat malam itu diangkat?”

Nabi menjawab:

بَلْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Tidak, bahkan malam itu tetap ada hingga Hari Kiamat.

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Di antara tanda-tandanya adalah: malam itu tenang dan nyaman, tidak panas dan tidak dingin, pada pagi harinya matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan. Disebutkan pula dalam dua hadis yang lemah mengenai keadaan udara pada malam tersebut:

Dalam salah satunya disebutkan:

“Ia adalah malam yang lembut, tidak panas dan tidak dingin, dan matahari pada pagi harinya terbit dalam keadaan lemah dan kemerah-merahan.”

Hadis lain juga memiliki makna yang serupa.

Bersungguh-Sungguh Beribadah pada Sepuluh Malam Terakhir

Imam Asy-Syafi‘i dalam pendapat lamanya mengatakan: “Disunnahkan bersungguh-sungguh dalam ibadah pada siang hari Lailatul Qadar sebagaimana pada malamnya.”

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha  berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي رَمَضَانَ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Rasulullah bersungguh-sungguh dalam ibadah pada bulan Ramadhan melebihi kesungguhannya pada bulan-bulan lainnya.”

Doa yang Dianjurkan pada Lailatul Qadar

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

“Aku bertanya:

Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca di dalamnya?”

Beliau menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Para ulama menjelaskan bahwa dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar memiliki hikmah besar, yaitu: agar manusia bersungguh-sungguh mencarinya dan memperbanyak ibadah dengan harapan mendapatkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar, menerima amal ibadah kita, serta mengampuni segala dosa kita. Aamiin.RA(*)

*Sumber: Hadaiqul Auliya