Posted on 21 April 2026
Sayid Ahmad bin Alwi Jamalullail Bahasan dalam kitab Dzakhiratul Khair menyebutkan tentang kewajiban mereka yang memiliki nasab mulia yang bersambung kepada Nabi ﷺ. Berikut uraiannya:
Setiap orang yang bernasab kepada Nabi ﷺ, yang merupakan pemimpin seluruh manusia, baik yang terdahulu maupun yang terakhir, dan tersambung dengan dzat beliau yang mulia sebagai sumber segala pujian dan kemuliaan, maka ia wajib menjaga kehormatan beliau ﷺ serta memiliki tekad yang kuat untuk meraih kemuliaan tersebut.
Hal ini dapat diwujudkan dengan melaksanakan beberapa hal berikut:
Pertama: Menuntut Ilmu-ilmu Syariat
Ia harus bersungguh-sungguh, dengan niat yang baik dan ikhlas, dalam menuntut ilmu-ilmu syariat, terutama Al-Qur’an yang agung dan Sunnah Nabi.
Para pendahulu Ahlul Bait senantiasa berada di atas jalan ini. Bahkan mereka menjadi sumber ilmu syariat. Maka sungguh tidak pantas bagi penerus mereka untuk tidak memberikan perhatian terhadap ilmu-ilmu tersebut.
Apa yang diriwayatkan tentang para tokoh dan imam Ahlul Bait mengenai kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu—hingga ilmu mereka tersebar ke seluruh penjuru—telah tercatat dalam biografi mereka. Maka siapa yang ingin mengetahui agungnya keutamaan mereka, hendaklah merujuk kepadanya.
Karena itu, Sayyidina ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:
الشَّرِيفُ كُلُّ الشَّرِيفِ مَنْ شَرَّفَهُ عِلْمُهُ، وَالسُّؤْدُدُ حَقُّ السُّؤْدُدِ لِمَنِ اتَّقَى اللَّهَ رَبَّهُ، وَالْكَرِيمُ مَنْ أَكْرَمَ عَنْ ذُلِّ النَّارِ وَجْهَهُ
Seorang syarif yang sejati adalah yang dimuliakan oleh ilmunya. Kemuliaan yang hakiki adalah milik orang yang bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Dan orang yang benar-benar mulia adalah yang menjaga wajahnya dari kehinaan api neraka..
Kebaikan asal-usul dan kemuliaan keturunan semestinya mendorong seseorang untuk condong kepada ilmu. Maka siapa yang tidak mendapati dalam dirinya keinginan terhadap sifat mulia ini, sungguh ia berada dalam bahaya.
Hendaklah ia berhati-hati agar tidak menjadikan ilmu sebagai sarana untuk tujuan duniawi, seperti mencari kepemimpinan, kedudukan, harta, atau sekadar ingin tampil di majelis.
Karena hal itu akan menghapus amalnya, memadamkan cahaya ilmunya, menyia-nyiakan jerih payahnya, dan menjadikannya termasuk orang yang ilmunya tidak bermanfaat.
Sungguh Nabi ﷺ telah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat
Meskipun demikian, seseorang tidak akan mendapatkan bagian dunia kecuali apa yang telah ditakdirkan baginya.
Dan termasuk penghalang terbesar adalah menjadikan ilmu yang merupakan ibadah paling agung dan sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai alat untuk meraih dunia. Alangkah meruginya perniagaannya, dan betapa besar penyesalannya..
Kedua: Membersihkan Hati
Membersihkan hati dari segala kotoran, seperti kedengkian, hasad, akhlak yang buruk, serta keyakinan yang rusak.
Sebab semua itu merupakan penyakit hati dan sumber kegelapannya, yang dapat menghalangi tertanamnya ilmu dan rahasia hikmah di dalamnya.
Sebagaimana hal ini telah dijelaskan pada tempatnya dalam kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab lainnya.
Ketiga: Meninggalkan Segala Yang DIpandang Buruk
Menjauhi segala sesuatu yang dipandang buruk menurut syariat. Sebab, keburukan yang dilakukan oleh orang dari kalangan Ahlul Bait lebih buruk dibandingkan dengan selain mereka.
Oleh karena itu, Al-‘Abbas radhiyallahu anhu pernah berkata kepada putranya, Abdullah, sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir:
يَا بُنَيَّ، إِنَّ الْكَذِبَ لَيْسَ بِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَّةِ أَقْبَحَ مِنْهُ بِي وَبِكَ وَبِأَهْلِ بَيْتِكَ، يَا بُنَيَّ، لَا يَكُونُ شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ طَاعَتِهِ، وَلَا أَكْرَهَ إِلَيْكَ مِنْ مَعْصِيَتِهِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْفَعُكَ بِذَلِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Wahai anakku, sesungguhnya dusta itu tidak ada pada seorang pun dari umat ini yang lebih buruk darinya jika dilakukan olehku, olehmu, dan oleh keluargamu. Wahai anakku, janganlah ada sesuatu dari makhluk Allah yang lebih engkau cintai daripada ketaatan kepada-Nya, dan jangan pula ada yang lebih engkau benci daripada bermaksiat kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah ﷻ akan memberikan manfaat kepadamu dengan hal itu di dunia dan di akhirat
Al-Hasan Al-Mutsanna radhiyallahu anhu berkata:
إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُضَاعَفَ لِلْعَاصِي مِنَّا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يُؤْتَى الْمُحْسِنُ مِنَّا أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ
Sesungguhnya aku khawatir bahwa orang yang bermaksiat dari kalangan kami akan dilipatgandakan azabnya dua kali. Dan demi Allah, aku sungguh berharap bahwa orang yang berbuat baik dari kalangan kami akan diberikan pahala dua kali lipat.
Telah dikatakan bahwa kebaikan itu hakikatnya memang baik, namun jika dilakukan oleh Ahlul Bait Nabi maka ia menjadi lebih baik. Sebaliknya, keburukan itu hakikatnya memang buruk, namun jika dilakukan oleh Ahlul Bait Nabi maka ia menjadi lebih buruk.
Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang telah membimbing seluruh manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan ketaatan kepada-Nya dan berhias dengan akhlak yang mulia. Beliau mendorong hal tersebut serta melarang dari kebalikannya, dan memperingatkan dengan keras terhadapnya.
Orang yang paling utama untuk mengamalkan hal ini adalah Ahlul Bait Nabi, karena hal itu selaras dengan kemuliaan asal-usul dan keluhuran nasab mereka. Dengan demikian, kewibawaan mereka tetap terjaga dalam hati manusia, kehormatan Rasulullah ﷺ pada diri mereka tetap terpelihara, sehingga tidak ada lisan yang mencela mereka dan tidak ada seorang pun yang membenci mereka.
Orang yang paling berhak memiliki muru’ah (kehormatan diri) adalah mereka yang memiliki hubungan dengan kenabian. Oleh karena itu, Nabi ﷺ secara khusus mendorong Ahlul Baitnya untuk senantiasa bertakwa dan berpegang teguh kepadanya, sebagaimana akan dijelaskan pada bagian berikutnya.
Keempat: Meninggalkan Berbangga Dengan Nasab
Meninggalkan sikap berbangga diri terhadap nenek moyang, serta tidak bersandar kepada nasab tanpa disertai usaha meraih keutamaan-keutamaan agama. Sebab, Nabi ﷺ secara khusus mendorong Ahlul Baitnya untuk bertakwa, serta memperingatkan agar jangan sampai orang lain lebih dekat kepada beliau ﷺ karena ketakwaannya, dan agar mereka tidak lebih mengutamakan dunia daripada akhirat karena tertipu oleh nasab mereka.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13)
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَنْسَابَكُمْ هَذِهِ لَيْسَتْ بِمَسَبَّةٍ عَلَى أَحَدٍ، كُلُّكُمْ بَنُو آدَمَ، طَفُّ الصَّاعِ لَا يَمْلَؤُهُ، لَيْسَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلَّا بِدِينٍ وَتَقْوَى
Sesungguhnya nasab kalian ini bukanlah celaan bagi siapa pun. Kalian semua adalah anak Adam, seperti takaran yang tidak penuh. Tidak ada keutamaan seseorang atas yang lain kecuali dengan agama dan ketakwaan.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Nadrah, dari seseorang yang menyaksikan khutbah Nabi ﷺ di Mina, Beliau ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى، خَيْرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu dan ayah kalian satu. Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, dan tidak pula yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan. Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ketika turun ayat:
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 214)
Rasulullah ﷺ pernah mengumpulkan kerabatnya dan bersabda:
يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ؛ فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلَالِهَا
Wahai Bani Ka‘b bin Lu’ayy, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Bani ‘Abd Manaf, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Bani ‘Abdul Muththalib, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah, selamatkan dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian dari (azab) Allah sedikit pun, hanya saja kalian memiliki hubungan kekerabatan yang akan aku sambung dengan sebaik-baiknya.”
Diriwayatkan pula dari Tsauban radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا بَنِي هَاشِمٍ، لَا يَأْتِيَنَّ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالْآخِرَةِ يَحْمِلُونَهَا عَلَى صُدُورِهِمْ، وَتَأْتُونَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُونَهَا عَلَى ظُهُورِكُمْ؛ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
Wahai Bani Hasyim, jangan sampai manusia datang pada hari kiamat membawa (amal) akhirat di dada mereka, sementara kalian datang membawa dunia di punggung kalian. Aku tidak dapat menolong kalian dari (azab) Allah sedikit pun.
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوْلِيَائِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُتَّقُونَ، وَإِنْ كَانَ نَسَبٌ أَقْرَبَ مِنْ نَسَبٍ، لَا يَأْتِي النَّاسُ بِالْأَعْمَالِ وَتَأْتُونَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُونَهَا عَلَى رِقَابِكُمْ، فَتَقُولُونَ: يَا مُحَمَّدُ، فَأَقُولُ هَكَذَا وَهَكَذَا، وَأُعْرِضُ فِي كِلَا عِطْفَيَّ
Sesungguhnya para wali-ku pada hari kiamat adalah orang-orang yang bertakwa, meskipun ada nasab yang lebih dekat dari nasab yang lain. Manusia datang dengan membawa amal, sementara kalian datang membawa dunia di atas leher kalian, lalu kalian berkata: ‘Wahai Muhammad.’ Maka aku berpaling dari kalian ke kanan dan ke kiri.
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Barang siapa yang amalnya lambat, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.
Diriwayatkan pula dari Al-Hasan bin Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu anhuma, ketika berkata kepada seseorang yang berlebihan dalam memuliakan mereka:
وَيْحَكُمْ! أَحِبُّونَا لِلَّهِ؛ فَإِنْ أَطَعْنَا اللَّهَ فَأَحِبُّونَا، وَإِنْ عَصَيْنَا اللَّهَ فَأَبْغِضُونَا
Celakalah kalian! Cintailah kami karena Allah. Jika kami taat kepada Allah maka cintailah kami, dan jika kami bermaksiat kepada Allah maka bencilah kami.
Ketika orang itu berkata: “Kalian adalah kerabat Rasulullah ﷺ dan Ahlul Baitnya,” maka beliau menjawab:
وَيْحَكُمْ! لَوْ كَانَ اللَّهُ نَافِعًا بِقَرَابَةٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِغَيْرِ عَمَلٍ بِطَاعَتِهِ، لَنَفَعَ بِذَلِكَ مَنْ هُوَ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنَّا؛ أَبَاهُ وَأُمَّهُ، وَإِنِّي لَأَخَافُ أَنْ يُضَاعَفَ لِلْعَاصِي مِنَّا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ
Celakalah kalian! Seandainya Allah memberi manfaat karena hubungan kekerabatan dengan Rasulullah ﷺ tanpa disertai amal ketaatan, niscaya yang paling berhak mendapatkannya adalah orang yang lebih dekat kepada beliau daripada kami, yaitu ayah dan ibunya. Dan sesungguhnya aku khawatir bahwa orang yang bermaksiat dari kalangan kami akan dilipatgandakan azabnya dua kali.
Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa kemuliaan Ahlul Bait bukan sekadar karena nasab yang mulia, tetapi karena bagaimana mereka menjaga amanah tersebut dengan ilmu, kebersihan hati, akhlak yang luhur, serta ketakwaan kepada Allah Ta‘ala.
Nasab yang tinggi tidak akan memberikan manfaat tanpa diiringi dengan amal saleh. Sebaliknya, kemuliaan yang sejati terletak pada ketaatan dan kesungguhan dalam mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap orang yang memiliki hubungan dengan beliau ﷺ menjaga kehormatan tersebut dengan sebaik-baiknya, agar tetap menjadi teladan dalam agama dan tidak menjadi sebab tercelanya kemuliaan itu.
Semoga Allah Ta‘ala senantiasa membimbing kita untuk mencintai Ahlul Bait dengan benar, mengikuti jejak mereka dalam kebaikan, serta menghiasi diri dengan ilmu, amal, dan ketakwaan. Aamiin.RA(*)